Mas-mas Tampan dan Mbak-mbak Cantik

by - February 03, 2017


Beberapa waktu lalu sebelum aku ke Jakarta, berarti lebih dari empat bulan lalu, aku sempat main dengan salah satu temanku di Jogja. Aku lupa kami ngapain aja hari itu, tapi intinya kami makan. Dan seperti biasa ketika dua orang teman sedang makan, satu hal yang bisa dilakukan adalah ghibah. Wkwk.

Peristiwa hari ini secara random membawa ingatanku terlempar pada peristiwa di hari itu.

"Mas itu nikah."
"Tau," kataku.
"Udah lihat istrinya?"
"Udah."
"Biasa aja ya?"
"Hmm ya sih."
"Padahal yang ngejar-ngejar cantik-cantik. Huhu."

Aku lupa bagaimana responku hari itu, tapi aku memang akhirnya mikir, "Iya juga sih."

Di usiaku yang hampir 22 tahun, aku akhirnya nemuin satu per satu temenku menikah. Ada yang temen sekelasku, ada yang temen seorganisasi, ada yang temen pernah kenal aja, ya pokoknya kenalan lah. Beberapa temanku yang menikah ada yang kukenal sejak lama. Itu artinya aku hampir tahu semua gimana rekam jejaknya, sama siapa aja dia pernah pacaran, dan bagaimana prosesnya kok bisa tiba-tiba dia menikah. Beberapa aja sih.

Dulu ketika aku SMA, aku sering melihat couple yang kayaknya 'ugh' banget di sekolah atau di sekitar. Sejak kelas 2 SMA, aku ngekost bareng sama mahasiswa-mahasiswa Undip dan aku jadi ngerti beberapa pacar mereka. Ada yang mbaknya cantik banget trus pacarnya cakep banget. Ada yang mbaknya biasa aja dan cowoknya biasa aja. Ada yang cowoknya jelek dan mbaknya juga nggak cantik-cantik amet. Lengkap lah karena aku dua tahunan tinggal bareng mereka.

Beberapa hal yang akhirnya mengejutkan adalah aku mengetahui sebagian dari mereka akhirnya memang menikah. Sudah menikah. Anehnya, banyak dari mereka yang menikah bukan dengan orang yang dulu kukenal sebagai pasangannya. Lebih mengejutkan lagi, aku sering sekali mendapati temanku yang cantik banget bersuamikan om-om, atau temanku yang cantik banget mau sama cowok yang astaga-nggak-jelas. Sebaliknya, beberapa mas-mas di kampus yang kukenal punya banyak sekali fans, akhirnya memutuskan menikah dengan mbak-mbak yang tak terduga.

Gimana nggak tak terduga kalau dia sama sekali bukan berasal dari barisan para fangirl yang selama ini ngejar-ngejar masnya. Bukan anak-anak hits dari jurusan wow, bukan juga incess anaknya orang kaya, bahkan almamater mbaknya aja nggak ngerti itu di mana meski sama-sama di Jogja. Eh ketahuan deh masih ada gengsinya anak UGM. Ahahahaha.

Ini nggak terjadi sekali atau dua kali dalam fase masa dewasaku yang cenderung baru terlalui sedikit ini. Makanya aku sempet mikirin hal ini ketika aku ngobrol dengan temanku ihwal salah-satu-mas-mas-femezz-di-kampus-akhirnya-nikah.

***

Sewaktu aku internship di Jakarta, aku kerja di sebuah startup yang berbasis di bidang IT dengan cewek sebagai makhluk yang langka. Populasinya hampir punah. Jadi nggak heran kalau kadang bercandanya cenderung seksis dan sesekali misoginis. Salah satu yang aku inget banget di kantor adalah candaan soal, "Kalau cewek itu cantik, dia pasti bego. Makanya banyak cewek cantik dari lon*te soalnya dia bego."

Jujur mendengar anggapan kayak gini aku sebagai cewek ya agak gimana gitu. Tapi aku juga nggak bisa nyalahin juga karena sebagian besar pendapat itu mungkin dilatarbelakangi oleh berbagai hal yang memang terjadi. Misalnya aja ketika main ke Bandung beberapa waktu lalu, aku datang ke konser di Sabuga ITB dengan Tania. Konser itu disponsori oleh perusahaan rokok dan aku dibikin kaget dan nggak paham maksudnya apa karena di depan pintu masuk persis ada booth rokok dengan satu orang perempuan berdiri lurus dengan pakaian seksi, senyum ke semua orang.

Aku dan Tania saling berpandangan. Kami ngerti sih itu SPG rokok dan kami juga ngerti yang dijual itu rokok ---meski kalau tampilannya gitu kesannya yang dijual SPG-nya.

Kejadian lain juga aku dapati ketika di Jakarta, waktu itu ada event Indonesia Economic Forum di Shangri-La. Di antara puluhan orang berseragam panitia, ada beberapa orang yang ditugaskan jadi semacam "frontliner" di depan. Mbak-mbak gitu, cantik-cantik, bajunya seksi-seksi dengan sepatu hak tinggi yang amat menggoda. Kalau aja aku akhirnya nggak berinteraksi dengan mereka, aku mungkin bakal menganggap mereka bagian dari EO kece yang bisa dapetin project segede ini, bukan orang-orang yang kekurangan DHA sehingga menghambat perkembangan IQ ketika masa pertumbuhannya.

Hal yang hampir sama terjadi di Jakarta lagi. Kali ini di acara Demo Day yang diselenggarain di salah satu gedung di kawasan SCBD. Di acara yang kebanyakan dihadiri investor dan founder startup itu, aku mengamati ada dua hingga tiga orang-orang mbak-mbak. Seperti biasa, mereka cantik-cantik, berpakaian seksi, dengan sepatu hak tinggi yang menggoda. Namun, setelah kuperhatikan lama-lama, otakku nggak berhasil merecognize antara kehadiran dan peran mereka di sini. Mereka founder startup bukan, officer startup juga bukan, orang Telkom bukan, anak DailySocial bukan juga. Wartawan? Emm kayaknya nggak mungkin sih. Investor.. lah tambah nggak mungkin lagi. Fix. Mereka cuma dateng buat manis-manisin ruangan. Jadi mostly kerjaan mereka cengo ngeliatin orang dan mondar-mandir nggak jelas.

***

Aku mulai bingung tulisan ini akhirnya mau ngarah ke mana. Jadi, mari kita kembali ke fokus soal kenapa mas-mas tampan itu nggak milih mbak-mbak yang cantik ---padahal stock ada dan tersedia?

Jujur, aku nggak ngerti sih. Karena pertama aku bukan cowok, kedua aku belum menikah, dan ketiga aku nggak berani nanyain ke orang-orang yang aku pikir memiliki jawaban atas hal ini. Tapi seenggaknya biarkan aku sebagai cewek menuangkan isi pikiran... kenapa sih ukurannya cantik, tampan, hah?

Aku bukan feminis, tapi aku nggak setuju juga dengan guyonan anak di kantor soal semua cewek yang cantik itu bego. Buatku sendiri setiap cewek itu bisa jadi cantik atau setidaknya ingin dikatakan cantik. Coba aja anak-anak di kantor yang udah nikah itu suruh bilang ke istrinya, "Mah, lu jelek sih, makanya gue mau sama lu. Soalnya kalo lu cantik, lu pasti bego."

Wkwk. Itu bercanda yang nggak bener. Tapi menurutku jauh lebih nggak bener kalau membuat ukuran dia cantik, dia tampan, apalagi untuk tolok ukur sebuah pasangan yang ideal. Ini nggak bener sih.

***

Nggak peduli cewek apa cowok, aku yakin semua orang ingin berpenampilan baik. Entah mereka dianggap society sebagai makhluk cantik/ganteng/enggak, setiap orang pasti ingin jadi yang paling baik. Setiap orang ingin yang terbaik untuk dirinya, juga pasangannya.

Aku sendiri meski ganteng nggak jadi satu-satunya alasan mau sama orang, tapi paling tidak dia nggak malu-maluin kalau diajak jalan. Wkwk. Aku menyukai beberapa orang yang kuanggap tampan tapi beberapa temanku juga mencelanya. Misalnya aja aku suka cowok yang berjambang tapi temanku Lamia bilang itu kayak bapak-bapak, kayak om-om metroseksual, lebih jahatnya dia pernah bilang kayak homo. Lain cerita lagi kalau Lamia sukanya cowok yang gondrong, tapi menurutku cowok gondrong itu kayak gembel. Perbedaan-perbedaan inilah yang menurutku akhirnya membuat kesepakatan bahwa.. ya udah sih, soal apa yang kita lihat, itu tergantung masing-masing orang mempersepsi. Balik lagi itu ke soal bagaimana kita memiliki skema ---yang ganteng gimana, yang cantik gimana.

So, kalau misalnya ternyata ada orang yang kita anggap tampan trus akhirnya dia memilih orang yang kita anggap nggak cantik-cantik amat dan sebaliknya kalau ada orang yang kita anggap cantik trus memilih orang yang kita anggap nggak ganteng-ganteng amat.. ya udah gitu.

Toh ya penilaian-penilaian itu akhirnya cuma terbatas pada anggapan-anggapan kita, persepsi-persepsi kita. Kenapa itu jadi masalah? Kan orang persepsinya beda-beda?

***

Beberapa waktu lalu, aku membaca sebuah artikel di Magdalene. Aku lupa di judul apa, pokoknya di artikel itu tuh si penulis protes dengan anggapan bahwa semua cewek itu cantik. Baginya, anggapan kayak gitu tuh semakin melanggengkan persepsi bahwa perempuan itu cuma dinilai sebatas fisik. Meski kemudian penilaian itu jauh lebih terbuka dengan nggak gampang ngasih batasan bahwa yang cantik itu yang A, B, C, tapi semuanya, intinya ya tetep aja, kenapa kudu dari cantiknya? Kenapa cantik [fisik] harus yang paling penting? Seolah perempuan nggak punya standar kualitas-kualias lain yang lebih berarti dalam dirinya, yang merupakan aset mahal dan berharga, alih-alih fisik?

Buatku cewek berusaha jadi cantik, atau cowok berusaha jadi ganteng adalah hal yang biasa. Kita sebagai manusia emang harus berusaha jadi lebih baik. Mungkin bisa salah satunya dengan menjaga penampilan, merawat diri, dan lain sebagainya. Cewek emang harus berusaha keliatan cantik dan cowok juga harus berusaha keliatan ganteng. Yang menjadi berbahaya adalah ketika cantik dan ganteng itu menjadi sebuah tolok ukur yang utama.

***

Akhirnya aku berpikir mungkin mas-mas tampan yang memilih beristrikan mbak-mbak yang nggak cantik-cantik banget atau sebaliknya mbak-mbak cantik banget dan memilih bersuamikan masnya yang biasa aja, yaaa mungkin dia udah melampaui batasan penilaian ini. Mereka yang berani menikah pastilah mereka yang udah matang, menurutku sih, termasuk mungkin sudah matang dalam menentukan pasangan.

Karena pada akhirnya menikah emang nggak cuma tentang hubungan sehari dua hari atau komitmen satu hingga tiga tahun. Menikah itu se-la-ma-nya.

Again, selamat menikah untuk teman-temanku yang sudah dewasa. Kalian keren!




Photo Source

You May Also Like

0 comments