Preambule

by - January 31, 2017


Post ini ditulis di Jogja!

Aku tiba di Jogja Sabtu sore kemarin dan rasanya seperti orang asing. Padahal sepertinya aku cuma sekitar empat bulan nggak di Jogja. Kamu tahu, ini adalah kepergianku dari Jogja terlama. Dulu ketika tinggal di Semarang, paling nggak aku menyelokan waktu sebulan sekali atau bahkan seminggu sekali untuk ke Jogja. Itu dulu ketika "rumah" bagiku adalah Semarang. Sekarang Jogja adalah rumah. Jadi rasanya aneh kalau aku nggak pulang selama empat bulan. Maka wajar kalau kedatanganku ke sini akhirnya kayak orang asing.

***

"Kamu kudu ngerti ada banyak hal yang berubah dari Jogja selama kamu nggak di sini."
"Piye piye piye?"

Kami mengendarai motor dari Tugu dan seperti biasa sepanjang Jalan Pasar Kembang sampai Abu Bakar Ali kendaraan padat merayap. Cicik bahkan sempat menabrak bule yang nyebrang dan itu goblok sih menurutku. Sedih sama kelakuan Cicik yang ugal-ugalan naik motor. Maklum, biasanya doi naik motor di gunung, makanya seneng banget ketemu aspal di jalan raya. Huahahaha. Skip skip.

***

Hingga kini beberapa orang masih menanyakan apakah aku lanjut kuliah apa enggak. Yakaleeeee. Masuk UGM susah coooy! Psikologi! SNMPTN! Ongkos cuy, ongkos! Bwahahaha. Kalau sampai aku udah selesai KKN dan kuliahku tinggal 1 semester lagi trus aku nggak ngelanjutin itu aku bego sih.

Jadi antara aku bingung harus jawab gimana atas pertanyaan teman-temanku atau aku cuma senyum-senyum aja. Yang jelas Selasa aku ngampus dan aku ketemu dengan orang-orang di sana lagi. You know, koridor-koridor yang gelap dan dingin, suara ketukan-ketukan sepatu yang angkuh, dan segala hal yang menurutku setelah balik ke sini lagi jadi kelihatan serem.

"Oh jadi gini rasanya setelah satu semester nggak kuliah.."

***

Bagiku sendiri life goals sekarang adalah lulus. Lulus lalu foto wisuda untuk dipasang di rumah dan menyerahkan ijazahku ke Bapak biar dia seneng. Kayaknya doi dari dulu nyekolahin aku bagus-bagus cuma pengin lihat ijazahnya doang, jadi nggak ada salahnya kalau di studi ternggetihku ini aku kasih ijazah itu langsung ke dia.

"Ya nanti dikalungin atau ditaruh di mana terserah lah," kataku sambil mengingat-ingat jaman kartu persku di Balairung dulu belum jadi aku suka nanyain ke Mas Ipin, Pimredku, "Nanti identitas persku gimana?" Lalu biasanya doi dengan sangat selo ngasih selembar surat liputan dan nyuruh aku untuk ngalungin surat itu atau gimana terserah deh kalau emang mau nunjukin ke orang-orang kalau kamu ini wartawan. Wkwk.

Ngomong-ngomong aku lama sekali nggak ketemu Mas Ipin dan aku belum tahu dia kapan akan diwisuda. Jadi gimana Mas, mau bareng Mba Erv aja? *minta digeplak Ipin*

***

Sesuai judulnya post ini sebenarnya adalah pembukaan. Setelah ini aku pengin sekali cerita fragmen-fragmen galau-random-lucu-ngeselin selama internship. Heuheu. Aku sebenernya ingin masukin ini ke #FokusMainProject bersama dengan cerita-cerita yang kutulis sesempatnya ketika aku ke Jakarta.

Tapi biar ada bedanya, aku mau menyebut ini #DiBalikLayarKofera. Karena isinya nggak cuma pencitraan, tapi juga bego-begonya selama di sana. HAHAHA.

Sekian.



Photo Source

You May Also Like

0 comments