Pertautan

by - January 25, 2017


Aku selalu berpikir orang-orang pasti memiliki pertautan dengan tempat-tempat di mana ia tinggal. Umumnya, pertautan itu muncul dalam perasaan, namun beberapa juga hadir dalam perwujudan yang riil, seperti misal orang menulis lagu tentang suatu kota, membuat film, foto, atau puisi atau apapun. Jadi wajar kalau kalian bakal nemuin Silampukau nulis lagu Malam Jatuh di Surabaya, atau Pidi Baiq nulis novel-picisan-terbaper-sepanjang-sejarah dengan latar cerita Bandung, atau bahkan Wregas Bhanuteja masih bangga membuat film bertemakan Jogja ---dan mengutuki Jakarta tentu saja--- berbekal sisa-sisa ingatan masa kecilnya.

Mereka memiliki pertautan yang tadi kubicarakan. Dan pertautan-pertautan semacam ini yang memberikan 'nyawa' sehingga karya-karya mereka seolah hidup. Begitulah orang yang memiliki pertautan, indah sekali bukan?

***

Aku pernah memiliki pertautan dengan tempat-tempat di mana aku pernah berpijak dan pada titik-titik tertentu aku berpikir itu sebuah cinta. Maksudku, aku mungkin mencintai saat di mana aku berpijak; di manapun itu. Di usiaku yang hampir 22 tahun, setidaknya aku menghabiskan beberapa tahun hidupku dengan mencintai titik-titik tertentu ---aku pernah sangat menginginkan Bandung dan membayangkan malam-malam cantik di Braga atau di Dago. Paling banyak kuhabiskan di Jogja barangkali; karena di sana aku paling hidup.

Tapi baru-baru ini setiap titik di tempat itu benar-benar menyakitiku.

"Jadi kamu serius mau pergi?"
"Serius."
"Yakin?"
"Yakin."
"Kamu tahu gila nggak?"
"Hm?"
"Ya kamu itu!"
"Terlalu banyak hal gila yang terjadi dalam hidup aku, jadi kupikir tidak ada salahnya menambah satu lagi."

***

Kami tak berhenti saling menipu perasaan masing-masing 
sampai kami berpikir begitulah cinta. 
Maafkan aku. Aku kesepian,
maka aku memilihmu.

Aku membaca petikan terjemahan sajak Warsan Shire dalam perjalanan pulang di kereta dari liburan singkatku ke Bandung, dan aktivitas di Jakarta langsung membayang sekembalinya aku ke sana. Bagaimanapun aku sudah memutuskan 'larut' ke dalam atmosfer kota ini ---bersama dengan kutukan-kutukannya. Jadi setibaku di Gambir, barang yang kucari adalah tempat nyaman dengan colokan dan wifi. Oh ya, Kedai Tjikini sebenarnya berjarak beberapa menit aja dari sini, tapi sungguh dompetku nggak mendukung untuk lama-lama di sana tanpa tergoda untuk membuang-buang uang lebih banyak.

"Kamu tau nggak sih, aku merasa makin tidak berempati sekarang?"
"Lah bukannya dari dulu?"
"Iya sih, tapi sekarang makin-makin."
"Hahaha! Ya keliatan banget makin tercerabut dengan identitas sebagai mahasiswa psikologi."

Percayalah sebenarnya sejak dulu aku memang nggak pernah percaya tes psikologi dan meski aku memang mendapat hasil buruk dalam tes empati milik Simon Baron-Cohen, aku masih meragukan. Maksudku, aku sadar empatiku terhadap orang lain memang makin terkikis setelah aku remaja, tapi aku nggak percaya dengan hasil tes-tes psikologi. Aneh bukan? Jadi jangan salahkan kalau aku terseret-seret cuma demi mempertahankan IPK 3,4 untuk lulus dari kampus.

"Jadi kamu kapan pulang?"
"Aku pulang akhir bulan ini karena aku mau lulus."
"Mbok yang semangat!"
"Aku semangat lho ya. Kita aja yang nggak pernah ketemu, makanya kamu nggak ngerti betapa antusiasnya aku mau lulus ---dan lepas dari status mahasiswa serta penindasan dosen-dosen bermental feodal."
"Hahaha!"

***

Aku menyebut ini sebagai pertautan ---waktu di mana kamu entah dalam fisik, pikiran, atau perasaan mulai melebur. Beberapa waktu lalu aku berpikir bahwa mungkin saja tempat ini adalah pilihan paling rasional yang bisa diambil karena perasaan menyerah pada kesepian ---pada ruas-ruas jalanan di Jogja yang membangkitkan kenangan, serta sisa-sisa sakit hati. Bagaimanapun memoriku merekam semuanya, dan celakanya aku masih sangat ingat.

Sepulangku KKN satu per satu fragmen di Jogja bermunculan di kepalaku. Mereka hadir, berseliweran, saling menabrak satu sama lain ---sampai aku lupa di mana bisa kukembalikan mereka pada tempatnya. Fragmen-fragmen itu hadir begitu saja; tiba-tiba dan serentak. Aku benci mengatakannya tapi untuk pertama kalinya aku merasa Jogja begitu tidak nyaman; semua hal mengancam, setiap titiknya menyakitkan, jadi bagaimanapun aku harus membawa pikiranku pergi, menyelamatkan ingatanku, dan juga hidupku sendiri.

Kau tahu? Ingatan yang selama ini kita pikir ajeg sesungguhnya adalah sesuatu yang terus menerus berubah. Ia mudah terkikis, hancur, digantikan oleh hal-hal baru dalam perjalanan kita menembus peristiwa-peristiwa yang belum pernah kita alami sebelumnya. Dan aku berniat mengubah ingatanku ---terutama pada hal-hal yang menimbulkan ikatan-ikatan emosi tersendiri.




You May Also Like

0 comments