Perempuan Baik-baik(?)

by - January 18, 2017


Potongan-potongan peristiwa.

Di Fisipol UGM suatu hari.

"Jadi menurutmu kenapa kamu suka dengan cewek itu?"
"Soalnya dia baik."
"Indikator baik itu gimana deh? Aku masih suka bingung mendeskripsikan baik. I mean, aku kenal banyak sekali orang yang kuanggap baik. Tapi aku nggak pernah berpikir suka atau mencintai orang dengan alasan baik ---karena orang baik itu banyak, apa itu cukup?"

Lalu ia bercerita soal perempuan itu. "Dia gadis pulau yang hanya dihuni oleh sekitar lima ratus kepala keluarga, tapi tempat itu sangat dekat dengan Singapore. Pernah suatu hari ia menjalin hubungan dengan salah satu lelaki dari Singapore, lalu lelaki itu selingkuh dan cewek itu meminta hubungan mereka selesai. Karena baginya sebuah hubungan itu seperti rumah hanya cukup dihuni dua orang dan ketika ada orang ketiga masuk, maka salah satunya harus keluar."
"Dia yang 'keluar' dari rumah itu?"
"Iya."
"And.. she still okay?"
"Ya."
"Then itu yang bikin dia menjadi perempuan 'baik' menurutmu?"
"Ada banyak hal lain sih, tapi yang paling menonjol adalah kerelaan dia, keikhlasan dia terhadap sesuatu. Kadang-kadang juga pengorbanan."
"Itu nggak adil."

***

Potongan kedua.

Sebuah kedai kopi di Seturan.

Pencarian tempat tinggal bagiku sama halnya menjadi pasangan: harus cocok. Dan proses mencocokkan itu, tidak pernah mudah. Setidaknya bagiku yang sudah berpengalaman tinggal sendirian di kost sejak kelas 2 SMA.

"Maaf yah Mbak, tapi kost kami ini kost muslimah, jadi ketat peraturannya harus tutup jam 10 malam. Jika mencari kost yang bebas pulang malam silakan cari yang lainnya."

Setengah gelato dari affogato yang kunikmati mulai mencair. Pekatnya racikan espresso dari kopi toraja yang pahit kini mulai manis karena lelehan es krim yang berbaur dengan rasa asam di kopi. Mau tidak mau aku tersenyum menanggapi isi SMS itu. Lagipula aku sudah lelah berdebat mengenai perempuan yang pulang malam dan image muslimah yang harus di rumah sebelum jam 10.

"Mungkin karena dunia malam berbahaya. Perampok, pemerkosa, begal, pembunuh.."
"Jadi logikanya kalau harimau itu berbahaya untuk manusia, manusia yang harus dikandangin sementara harimaunya yang bebas berkeliaran? Jadi cara kita melindungi manusia agar tidak diterkam harimau dengan membuat pagar yang tinggi sementara harimaunya biar jalan-jalan santai aja?"

***

Potongan ketiga.

Sebuah tempat di Sekip, Bulaksumur, masih di komplek Kampus UGM.

"Nanti kalau udah sampai di Sewon berkabar lho Gik."
"Tiati di jalan!"
"Santai lho, Mbak. Aku udah nyiapin ini," ujarnya sambil menunjukkan sebilah cutter yang super gede. Benda itu diletakkan dari balik jaketnya. Berkendara Honda Beat, lelaki termuda di tim kami itupun pulang, menempuh perjalanan sejauh Bulaksumur-Sewon.

"Emang kost dia buka 24 jam ya? Kenapa nggak nginep di sini aja?"
"Kost cowok buka 24 jam lah."
"Even itu kost muslim?"
"Biasanya gitu sih."

***

Potongan keempat.

"Aku nggak bisa anterin kamu pulang. Mending kamu pulang aja nanti kemaleman."
"Santai lah. Ini tu Jogja, rumahku sendiri."
"Nanti kalau kemaleman gimana?"
"Tapi, Ra, ini baru jam 8."

Aku pikir di Bandung jam segini orang baru keluar demi menghindari kemacetan untuk makan malam. Apa-apaan ini sudah kemaleman?

***

Potongan kelima.

Sebuah kedai kopi di Kebayoran Baru sekitar pukul 22.30.

"Aku baru balik dari Crema jam segini. Wakakakak."
"Cie anak malam. Kata si akang jam 8 udah harus pulang yaa. Nggak baik anak cewek teh pulang malem-malem."
"Astaga iya! 😓 Tadi niatnya mau pulang pagi aja jam 1 gitu soalnya Crema tutup jam 12. Taunya malem ini tutup lebih awal karena ada acara employee jadi kepaksa pulang malem. Aku merasa nakal." 😔
"Wkwk tuhkan! Gimana si akang nggak lari dari kamu?"
"Hahahaha!" 😔
"Jangan sedih to. Bahahahahak!"
"Wkwk. Duh duh, aku mau sama lelaki yang bisa paham bahwa aku tidak bisa main siang-siang karena harus kerja. Aku mau sama dia yang bisa kuajak dolan bengi di angkringan, ngopi-ngopi di Tugu dan berakhir pulang pagi menikmati Jogja yang baru berasa Jogja setelah lewat jam 12 malam."
"Ih kok sama. 😔 Bukan yang jam 10 nyuruh pulang sambil marah-marah."
"Tuh kan."
"Duh aku butuh senderan."
"Ada tembok."
"Ada dipan sih di sebelahku."
"Tiati rubuh."
"Wkwk wasu."

***

Di Fisipol UGM.

Kamu pernah berpikir mengapa seorang perempuan bisa berbuat sangat kejam terhadap perempuan lain ---atau lelaki lain, atau siapapun? Sementara ada perempuan di luar sana yang diam menerima ketika dirinya diinjak-injak harga dirinya. Sebagai anak psikologi, aku tidak suka menilai sesuatu secara general. Pun soal perempuan-perempuan ini. Tapi sebagai manusia, aku bisa paham, bahwa segala sesuatu yang kita lakukan, ini beralasan. Sangat tidak adil membandingkan dua orang perempuan yang hidup dalam ruang dan waktu yang berbeda dalam satu tolok ukur sebagai perempuan baik-baik, tanpa kita paham alasan-alasan mengapa dia melakukannya.

"Kamu tahu gimana reaksiku kalau aku yang jadi gadis itu?"
"Paling mbok gruduk."
"Ha iyo to ya. Nek nggak bisa gruduk langsung yo tak santet, opo minimal tak hancurkan lingkaran sosialnya, membunuh secara psikologis!"

Temanku tahu aku setengah bercanda setengah serius dengan ucapan barusan. Tapi dia cuma tersenyum.

"Dia belum pernah hidup di tengah orang-orang yang jahat."
"Mungkin karena dia bukan gadis kota."
"Dia belum pernah hidup di mana kesulitan memaksanya berbuat selain pasrah. Dia belum pernah terancam."
"Iya, seumur hidup dia cuma tinggal di sana."
"Ya, dia pasti belum tahu kalau mudah berbuat baik terhadap semua orang dia bisa ditipu, diracun, dicopet, dirampok. Kamu tahu kenapa perempuan-perempuan di sekitarmu ini, termasuk mungkin aku, sering dinilai tidak baik?"
"Kenapa?"
"Karena kami suka membantah, suka mendebat hal yang tidak kami setujui, kadang kami pulang malam, dan di titik-titik tertentu orang menganggap kami ini mengancam."

Kami diam beberapa saat.

"Padahal buatku sendiri, aku cuma sedang melindungi diri. Nggak peduli apakah aku perempuan atau laki-laki, aku butuh melindungi diri."



Photo Source

You May Also Like

0 comments