#Merangkum2016: Bagian Tiga

by - January 01, 2017


Masih Agustus.

Ternyata aku memang pernah apply untuk posisi internship digital marketing di sebuah startup bernama Kofera Technology, tapi aku lupa karena udah lama. Hehehehe.

Aku merasa ini semacam sinyal dari Tuhan untuk segera pergi dari Jogja. Memulai semua yang baru dan melupakan yang sudah-sudah. Wkwk. Sebenarnya aku pengin cerita detail-detail soal gimana interview sama Ryan, diPHP soal kost-kostan, dan lain sebagainya, tapi anak kantor pasti baca dan aku takut ada yang baper. Wkwk. Jadi sebaiknya soal sebelum ke Kofera ini aku skip aja.

***

September.

Tiba di Jakarta disambut Andre dan kawan-kawan. Aku pikir mereka bakal sampai bawa banner-banner karena saking lamanya nggak ketemu Ervina. Wkwk. Tapi ternyata mereka terlalu pelit, bahkan dari Jatinegara ke kost di Menteng Dalam Tania nyaranin naik bajaj. Bangke sih. Hahaha.

***

Nggak tahu kenapa di setiap Ervina pindahan kost selalu ada Tania yang ikut bobo di sana. Nggak waktu di Jogja, nggak di Jakarta. Ini semacam kebetulan banget sih. Awalnya aku pikir kedatanganku di Jakarta bakal suwung-suwung karena Kak Rifa mulai sibuk dengan kerjaannya, Andre dkk di Bintaro udah mau lulus, dan aku nggak yakin bakal sering main sama Ganuk atau Malik. Ada sih Mocin, tapi doi di Jakarta Barat dan kayaknya aku juga udah lama nggak kontakan sama dia.

Eh ternyata Tania lagi internship juga dari kampus. Dan doi internnya di Bekasi. Dengan naik KRL aja dia bisa nyampe Tebet dengan mudah. Hehe. Akhirnya paling sering selain sama Kak Rifa di Jakarta mainnya sama Tania.

Sampai sini aku merasa hidupku nggak berkembang karena sudah jauh-jauh ke Jakarta mainnya masih sama mereka-mereka aja. Aku harus main sama anak kantor!

***

Oktober.

Ada banyak hal yang terjadi selama sebulan di tempat intern. First banget yang harus diketahui semua ummat adalah tempat internship ini tidak seperti yang dibayangkan. HAHAHA. Serah sih ini bakal dibaca anak kantor apa enggak, tapi jujur awalnya aku pikir aku bakal satu atau dua cowok cakep yang bisa dipamerin ke anak ITB, "Ini looooh temen kantor gueh cakep yahhh pinter lagi! Nggak kalah deh sama elu!"

Soal pintar, aku percaya mereka semua pinter-pinter. Tapi soal cakep.. yaaa cakep kok cakep. Hehehehehe. Aku harus nahan nggak nulis semua tentang mereka, paling enggak sampai pulang ke Jogja. Bisa habis gw dibully.

***

November.

Ini mulai asik sih. Dan sebenernya banyak hal yang seharusnya aku tulisin di sini terutama soal internship life. Oya, sebenarnya selama intern ini aku berencana bikin project nulis soal internship life, startup, dan digital marketing. Biar sesekali blog ini isinya berfaedah nggak cuma tjoerhat. Biar Ervina jadi blogger yang kaffah gitu. Tapi apa latjoer, tangan ini terlalu males untuk sekadar ngetik mengetik.

Kata orang, meninggalkan Jogja, dan apalagi untuk hidup di Jakarta, masa terberatnya adalah di tiga bulan pertama. Katanya sih di masa-masa itu orang bakal kangen sama makanan murah di Jogja, angkringan, dan semua hal yang Jogja-banget.

Tapi sumpah aku belum pernah balik ke Jogja sejak pertama pergi dari sana. Kalo ada kesempatan libur, aku lebih milih ke Bogor atau ke Kemang untuk mengenang YesBoss, eh. Wkwk. Maksudnya buat ngopi dan nyobain "berbagai hal" di sana. Beberapa waktu lalu DMan di IG sama Agdzur dan berencana main ke Galeri Dia.Lo.Gue serta Reading Room. Paling sering main ke Kebayoran Baru, SCBD, atau ke Cikini. Yang belum kesampaian adalah main ke Kibar, meski aku tau Patrick beberapa kali ke Jakarta. Jadi belum ketemu Koh Yansen ataupun Mbak Ala selama di Jakarta. Rencana sih tahun depan, Januari maksudnya, Piyut mau ke Jakarta sama Robin. Dan Faza juga akan ke Jakarta jadi aku berharap kita reunian di Kibar. Ngomong-ngomong Faza setelah diamat-amati cyakep yah. WAKAKAKA. Cabe lu dasar.

Aku juga sempat ketemu Inur yang ke Jakarta beberapa kali ---entah untuk tujuan apa. Berhasil menjebak Inur makan di Comic dan Eat Happens, dan maksa dia yang bayarin wkwk. Terakhir ketemu temen dari Jogja, Yang Mulia Junjungan Irwan Calon Sardjana Ilmu Politik cum Mapres Nomor Dua yang Luar Biasa Tak Tertandingi, yang ada acara di Binus. Kita ngopi di Anomali dan nongkrong di KFC Cikini kayak cabe sampai tengah malem. Sejak tinggal di Semarang sampai sekarang aku masih mikir anak-anak yang nongkrong di KFC itu cabe sih. WKWK.

***

Desember.

Somehow kalau ditanya apakah yang kucari selama pergi dari Jogja itu didapetin apa enggak, jawabannya lunas sih, kecuali satu hal. If you know what I mean. HEHEHE.

Pada akhirnya aku dapat kesempatan mahal untuk tau lebih banyak soal digital dan startup lebih jauh. Aku merasa kayak dimentorin sama Kak Bach dan apalagi doi ngasih banyak chance untuk aku nyobain apapun. Dari yang ikut pitching ke investor, lihat design proposal yang dikasih ke klien, ke event-event yang ketemu klien, sampai acara-acara di Google pun dibolehin ikut. Pokoknya keren sih.

Oh ya, menurut pengakuan salah satu UI/UX designer di Kofera yang baru, katanya doi kenal Kak Bach dari salah satu karyawan Kofera yang ngeblog dan sering nulis soal Kak Bach. Lalu dengan semena-mena, Ervina langsung dituduh dan sejak saat itu blog ini jadi makin femez di kalangan anak kantor. Aku nggak tahu sih berapa kali aku mention nama Bachtiar atau Ryan di blog ini. Wkwk perasaan sih nggak sering. Tapi okelah terserah. Somehow memang mereka cukup berjasa dalam internship life Ervina kali ini. Wkwk.

Yah meski sekarang sepertinya aku mikir-mikir untuk manggil mereka "Mas" sih.

***

Desember.

Aku cerita ke Kak Dini, salah satu anak Kofera, sebagai orang Jawa aku punya filosofi tersendiri manggil seorang cowok itu "Mas". Maksudku, nggak semua cowok kupanggil "Mas", karena menurutku panggilan itu cukup sakral, paling tidak menurutku sih. Hehe. Di keluargaku, aku pilih-pilih siapa aja yang kupanggil Mas. Even mereka lebih tua dari aku, kalau menurutku dia nggak pantas dituakan, aku nggak bakal mau manggil Mas. Paling banter sih "Kak" itupun sebenernya aku jijik piye gitu manggil orang dengan sebutan Kak. Wkwk. Berasa Mb-Mb SPG di mall.

Aku lebih suka manggil nama. Egaliter. Nggak ada jarak.

Eh, ini berlaku buat orang yang udah kenal yah. Kalo orang asing aku manggilnya "Mas" semua karena aku nggak kenal sama mereka.

Nah, seingetku di kantor orang yang kupanggil Mas cuma Bachtiar sama Ryan. Oh sama Mas Kamsul ---yang secara pembawaan udah bapak-bapak banget! Itu maksudnya karena aku respect dan menghormati mereka gitu sih awalnya. Jadi kan kupikir mereka itu orang yang "dituakan" dan sebagai ABG aku kudu hormat sama mereka. Apalagi baik Mas Bach ataupun Mas Ryan keduanya udah bapak-bapak yang punya anak dan jadi kepala keluarga di rumah. Jadi menurutku menyesuaikan peran mereka sebagai bapak-bapak, aku juga kudu respect dan nggak kurang ajar sama mereka. Jadi awalnya gitu sih.

Cuma setelah tiga bulan di sini kayaknya aku harus mengoreksi panggilan itu. Apalagi sejak Koh Ryan (itu lebih cocok sih kayaknya) dengan freak ngebully Ervina sama Moffy. Itu freak sih. Asli. Haha. Nah Mas Bach lebih parah, doi kalo main jodoh-jodohin orang nggak kira-kira banget. Ervina berusaha paham sih selama ini jadi korban perjodoh-jodohan liar karena keberadaannya cuma empat bulan di kantor. Dari yang maksa banget jodohin sama Mas Kamsul sampai nawarin Kak Irfan kayak nawarin barang. Wkwk. Bercandanya juga kadang wagu. Aneh gitu lihat bapak-bapak bercandanya gitu. WKAKAKA. Ini semoga mereka nggak baper sih kalo baca. 😂😂

***

Masih Desember.

Desember di Jakarta beda sama di Jogja. Di Jogja kalau bulan Desember tiap hari bisa hujan. Dan itu badai banget sampai ringroad depan UPN banjir dan ngelewatin Jalan Candi Gebang menuju rumah berasa menerjang arus sungai. Tapi di Jakarta hujan turun jarang sekali bulan ini. Dan aku bersyukur.

***

Masih Desember.

Berkontak lagi dengan Rahadian.

***

Masih Desember.

Merencanakan ke Bandung dengan Tania. Sayangnya Arul masih di Semarang dan Rahadian katanya lagi di Palembang. Fix sih kencan lagi sama Tania.

***

Masih Desember.

Aku nggak suka pembicaraan yang nggak tuntas sih. Mending enggak sama sekali daripada setengah-setengah. Gantung.

***

Masih Desember.

Sedang banyak berimajinasi dan melahirkan beberapa tulisan fiksi. Tiba-tiba pengin ke Bali. Ke Ubud atau ke Canggu.

***

Masih Desember.

"Aku nggak punya rencana apa-apa sih, Tan. Takutnya udah sampe Bandung cuma numpang makan tidur di kosanmu. Tapi Rahadian menyarankan ke Braga sih."
"Ih yaudah kita clubbing aja yuk ke Braga."

Tania nggak tahu kalau di Kemang lebih asik dibanding di Braga.

***

Masih Desember.

Cicik ngontak. Lama sekali nggak kontakan sama Cicik.

"Ayolah Errr aku mau nakal sesekali sebelum aku jadi istri orang dan punya anak. Kan nggak lucu kalau nanti aku udah jadi istri orang trus aku jadi nakal."
"Aduh, Cik, tapi di Jogja terlalu berbahaya."
"Halah emang di Jakarta enggak?"
"Paling nggak kalo di Jakarta aku nggak akan ketemu temen kampus atau siapapun yang kenal aku. WKWK."
"Cuma minum jeruk anget."
"Ndasmu."
"Air mineral."
"Masuknya mahal."
"Cari yang ladies free."
"Aduh, jangan lah, Cik. Di Jogja terlalu berbahaya. Lagipula aku ini wanita baik-baik, muslimah kaffah masa ya ke Liquid. Nggak cyocok lah."
"AS*U."
"Astaghfirullahal adzim."
"Wkwk. Tenane ndes!"
"Tenan Cik. Hahaha. Ojo lah. Nek kamu ke Jakarta aja kuajak ke Kemang. Wkakakaka."

***

Masih Desember.

Seperti malaikat, Ibuk selalu tahu iman anaknya sedikit terganggu di tempat ini. Jadi belakangan Ibuk sering meneleponku untuk membicarakan ihwal iman dan agama. Hehe. Yah, sholat yang utama, dessert yang kedua.

Aku nggak berani bohong ke Ibuk. Jadi meski aku bgzt dan bgke kayak gimanapun aku tahu menyakiti perasaan orang tua itu dosa besar, apalagi Ibuk. Aku bilang jujur kalau kadang-kadang Ervina bangunnya setengah 6 atau bahkan jam 6, karena tidur pagi lalu bangun subuh itu sulit. Kalau di kantor selalu ketolong teman-teman yang imannya bagus selalu sholat tepat waktu.

Aku juga bilang jujur kalau beberapa kali aku pernah main ke tempat-tempat yang menjual berbagai jenis alkohol dan berteman dengan wanita-wanita dan pria yang ngebir atau merokok, bahkan sejak di Jogja. Tapi aku juga bilang jujur kalau di tempat-tempat itu aku cuma ngopi dan mentoknya minum susu, karena alkohol harganya mahal, lagipula rasanya nggak enak. Eh. Dan soal rokok sebenarnya aku benci bau rokok. Bahkan kalau duduk di kantor sebelah Koh Billy aja baunya nggak enak soalnya doi ngerokok. Ini semoga dia nggak baper sih. Wkwk.

Jadi, meski ke Bandung diajak Tania clubbing atau bahkan udah ditunggu balik ke Jogja dan clubbing sama Cicik yang belum pernah clubbing, tapi aslinya aku udah memutuskan untuk menjauhi hal-hal itu. Aku rasa kalau Cicik masih penasaran banget aku mau ngenalin dia ke Firi sih. Siapa tahu tahun depan diajak ke DWP. LOL.

***

Masih Desember.

Beberapa orang yang kukenal akan menikah bulan-bulan ini. Dan di antara mereka ada yang benar-benar kukenal banget rekam jejaknya. Meski sampai sekarang belum kepikiran mau menikah, tapi aku mulai melihat sebuah pola bahwa untuk mendapat pasangan yang ideal kita juga harus menjadi ideal. That's why aku merasa udah nggak lucu untuk orang seusiaku main-main ke club atau ngelakuin hal aneh-aneh.

Kita adalah representasi dari pasangan kita. Somehow aku tetep penginin dia nanti, siapapun itu meski bukan anak ITB, adalah anak baik-baik. Nggak ngerokok, nggak ngebir, nggak berbuat aneh-aneh, dan pinter, cakep juga hehe. Wkwk. Serah sih gimana kalian ngedefinisiin baik-baik. Menurutku perspektif tiap orang beda-beda, dan it's okay.

***

Masih Desember.

Tahun 2016 pada akhirnya ditutup dengan perjalanan yang cukup panjang, dari yang seneng karena mendapat sesuatu, sedih karena kehilangan sesuatu, berkenalan dengan orang asing, dan semua-muanya. Hidup ini tuh kayak naik bianglala gitu. Kadang di atas, kadang di bawah, dan muter terus selama kita masih hidup, Kadang muternya susah dan berat tapi setelahnya kita ada di posisi atas. Tapi kadang kita dibikin seneng banget waktu bianglalanya meluncur turun, padahal setelahnya kita dibikin berada di bawah. Ya gitulah kompleks.

Seharusnya malam ini aku meditasi atau sejenisnya tapi ternyata di Tebet petasannya bangke banget dan jadilah kami tahun baruan bareng. Iya. Kami; aku sama anak-anak kost.

***

Masih Desember.

Internshiplifeku di Kofera belum selesai sih, jadi nggak sopan kalo udah dirangkum di sini. Nanti aja kalo udah balik ke Jogja ditulisnya jadi bisa bebas ngata-ngatain semua orang. Wkwk.

Tahun 2017 aku nggak punya resolusi apapun kayaknya. Tujuanku cuma pengin bahagia terus sepanjang waktu dan tetap maju pantang mundur untuk semua hal yang dipengenin. Semua hal. Semuanya.

Sekali lagi, selamat tahun baru yah!

You May Also Like

0 comments