Main [Sok] Hipster di Bandung

by - January 16, 2017


Oke. Jadi, akhirnya setelah wacana panjang berbulan-bulan, tiba juga kesempatan untuk ke Bandung yang benar-benar main sendirian. Oh enggak. Dengan Tania. Awalnya mau dengan banyak orang juga yang sok-sok nge-DM ataupun chat personal, tapi cuma wacana sih ketemunya. Yaudah. Seadanya.

Sebelumnya, liburan ke Bandung menurutku tu selalu aman. Biasanya aku Bandung dengan keluarga. Ke sana naik mobil, bobo di hotel yang ada air panasnya, dan segala kenyamanan-kenyamanan lain, kecuali bebas, karena dengan keluarga. Yaya piknik keluarga gitu ngerti lah ya suasananya kayak apa. Hingga akhirnya Jumat siang kemarin aku memutuskan ke Bandung. Sore hari naik kereta dari Gambir. Rencana akan sampai di Bandung malam hari dan memutuskan langsung ke kost Tania.

***

Ehm.

Aku dan Tania memiliki relasi yang unik soal Bandung dan Jogja. Kami sama-sama budak wacana jika merencakan akan pergi ke dua kota itu ---antara Tania mau ke Jogja atau aku mau ke Bandung. Sampai-sampai semua teman kami tahu kalau mau ada rencana dolan yang bener-bener dolan Ervina ke Bandung, atau Tania ke Jogja itu pasti wacana. Tapi kepergianku ke Jakarta memang mengubah banyak hal.

Praktis sejak Tania kuliah di Jogja kayaknya aku nggak pernah ketemu dia. Yang antara kalau aku ke Semarang dia di Bandung, kalau dia ke Jogja aku nggak ke Jogja ---atau lebih seringnya Tania ke Jogja dengan keluarga jadi susah kuajak main. Pokoknya kita rumit gitulah.

Tapi menjelang aku ke Jakarta, ternyata Tania di Bekasi. Eh enggak sih. Tania udah sejak awal 2016 di Bekasi karena ada praktik kerja dari kampusnya, dan aku di Tebet. Jadi kayak ini kesempatan kami untuk ngepuas-ngepuasin dolan atau ngopi bareng yang kayaknya kali terakhir tu di Semarang jaman kami masih SMA atau di Jogja jaman Tania nyari kampus dulu. Itupun suasananya serba buru-buru, kesusu, nggak enak pokoknya.

Singkat cerita selama aku di Jakarta kami beberapa kali dolan. Yang sekadar ngopi di tempat-tempat hits di Jakarta Selatan, ngemall di PIM, dan lain sebagainya. Wkakakak. Lalu beberapa waktu sebelum tahun baru kemarin, masa magangnya dia udah selesai dan dia balik ke Bandung. Nggak lupa dia menagih janjiku mengenai rencana dolan ke Bandung yang selama ini wacana.

Oh ya, liburan akhir tahun kemarin aku stay di Jakarta dan Tania bersama keluarga ke Jogja. Ya, selalu kayak gitu. Wkwk.

***

Aku udah beli tiket jauh-jauh hari dan sama sekali nggak menyangka kalau menjelang keberangkatanku justru adalah saat di mana aku bener-bener nggak punya duit. HAHAHAHA. Ini parah sih. Seingetku acara main itu udah pasti ngabisin banyak duit (mengingat-ingat dulu kami ke Bogor sehari aja ngabisin 300 ribu lebih huhu). Tapi tiket udah terlanjur dibeli, dan sayang kalo nggak jadi ---karena pasti nggak jadi-jadi kalau nggak diniatin.

Maka berbekal wacana "main ala hipster" aku berangkat ke Bandung. Tau nggak sih main ala hipster tuh gimana? Maksudnya tuh kami berusaha antimainstream dengan nggak mengunjungi tempat-tempat sok-sokan yang banyak didatangi "turis lokal" kalau ke Bandung. Kami merencanakan dolan yang nggak biasa ---kalau nggak mau disebut nggak punya rencana apapun.

***

"Jadi kita mau ngapain yah besok?"
"Kalau kata aku sih habis sarapan trus cari tempat ngopi yang dingin buat nongkrong siang-siang, terus sorenya ke Braga, sampe malem."
"Udah gitu aja? Ih apa ke Lembang aja sih?"
"Cenah nggak punya duit.."
"Oh iya. Emang transpor apa aja sih yang ada di Bandung?"
"Angkot?"
"Buset angkot banget. Di Jakarta aja gue nggak pernah naik angkot."

***

Kedatanganku ke Bandung kacau sih. Berawal dari pesen Go-Jek, lalu sambil nunggu akangnya dateng tiba-tiba kayak ada tetesan air. Tapi aku udah lama banget nggak keliaran di Bandung.

"Ih apa Bandung sekarang emang dinginnya sampai kayak ada air gini yah?" Aku masih berpikir positif. Go-Jek yang dipesen dateng.

***

"Neng, mau pake jas ujan dulu atau gimana?"
"Ah nggak usah Pak, ujan segini aja haha."

***

"BANGKEEEEE. KREMBIS! UJANNYA DERES BANGET!"
"Yah Er aku baru mau bilang ke kamu di sini hujan deres."

***

Aku sampai di kost Tania sekitar pukul 8 malam. Atau lebih yah? Nggak ngerti. Tapi atmosfernya udah ngebetein banget karena aku kehujanan dari sebelum Jalan Ir. H. Djuanda sampai Dago Atas. Satu-satunya yang aku pikir cuma nyelametin ransel karena di dalemnya ada baju ganti dan berbagai peralatan elektronik. Sementara tas pundak, sepatu, baju yang dikenakan, semuanya basah.

"Itu kamu badluck sih, Er."
"Bad doang njirr."

Jadilah malam itu aku cuma selimutan karena air di kost Tania dinginnya nggak nahan. Kami sebelumnya merencanakan bakal kulineran malam ini. Tapi apa daya, hujannya bener-bener deres dan moodku udah berantakan karena kehujanan di jalan. Setelah pesen Indomie goreng ke ibu kost, kami nyuwung di kamar. Oh ya, ini pertama kali aku ke kost Tania. Rumahnya lucu. Mirip villa-villa di Kaliurang yang interiornya klasik dan lantainya terbuat dari kayu.

Begitu hujannya reda, Tania nanyain lagi apakah kami jadi wisata kuliner. Tapi moodku udah bener-bener rusak dan aku juga capek banget karena sejak pagi di kantor, perjalanan 3 jam ke Bandung, dan serangkaian acara hujan-hujanan sampai ke Dago. Lagipula aku baru selesai meeting dengan Tim IA di Jogja dan baru sekitar pukul 11 semuanya selesai. Yah, gitu pokoknya.

Malam itu kami cuma ngobrol-ngobrol sampai pagi. Lalu secara tidak sengaja aku membuka Twitter dan mendapati sebuah DM dari Uber.

"HIH, TAN! BESOK KITA KE KONSER!"

***

Ini akan menjadi konser pertamaku di Bandung. Konser yang beneran konser. Biasanya kalau ke Bandung aku cuma lihat live performance yang dihadirkan sebagai hiburan ala kadarnya di tempat-tempat wisata keluarga. Tapi kali ini aku beneran ke konser. Nggak main-main. Ada Tompi, Stars&Rabbit, Barry Likumahuwa Project, sampai yang paling antimainstream tuh ada band indie elektronika asal Jakarta, KomiKal.

Ini konser jazz-pop-folk-elektronika-rock alternative tapi juga dibalut dengan sentuhan instrumen gamelan. Entah karena ini adalah kali pertama nonton konser lagi setelah lamaaaaaaa banget nggak ke konser, atau emang konsepnya keren, tapi rasanya begitu bagus. Yang aku heran adalah penonton di Bandung nggak seatraktif penonton di konser-konser yang aku datengin, entah di Semarang atau di Jogja. Mereka relatif lebih diem dan nggak banyak berinteraksi sama guest star. Bahkan ada dari mereka yang duduk anteng menyilangkan kaki di kursi sambil manggut-manggut. Yah, udah gitu aja.

Beruntung di akhir-akhir penonton mulai berdiri di deket panggung dan mulailah euforia konser yang sebenernya di mana kita nyanyi-nyanyi bareng dan teriak-teriak. Satu kata buat konser ini: pecah! Thanks Uber buat tiketnya!

***

Sebelum ke konser yang berlangsung di Sabuga ITB itu (iya, ITB) kami ke Braga untuk ngopi. Oh ya, sebelumnya karena ini adalah "main ala hipster" kami sempatkan untuk makan di warung makan seafood nggak jauh dari kost Tania. Heran sih masih ada tempat makan yang cuma ngabisin 30 ribu untuk berdua. Kami datang ke Wiki Koffie di daerah Braga dan memesan kopi aceh gayo serta matcha latte di sana. Wiki overall adalah tempat yang asik buat nongkrong. Interiornya bagus dengan ornamen-ornamen vintage dan musik-musik klasik yang diputar dari sound system yang menjadi ciri khas kafe-kafe urban.

Dalam bayanganku tempat-tempat kayak gini asiknya buat quality time sama temen atau kerja freelance, meski nggak nandingin nyamannya Coffeetime di Jogja atau Crematology di Jakarta. Oh ya, aku selalu memiliki pertautan dengan tempat-tempat ngopi di mana aku pernah tinggal. Jaman di Semarang dulu aku suka sekali ke H3R (yang nggak lama setelah aku lulus dan move dari Semarang ternyata bangkrut). Kami, aku dan teman-teman, juga suka ke Pamularsih di salah satu tempat ngopinya yang outdoor (kalo nggak bisa dibilang nggak modal) hanya berbekal sebuah ruko dan tikar-tikar lusuh. Namanya Kopimiring. Khusus Semarang, aku menyukai tempat ngopi karena teman-temanku dan semua cerita yang kami bagi di sana.

Lalu setelah di Jogja aku juga menjelajah tempat-tempat ngopi. Bedanya kalau di sini aku lebih sering ngopi sendirian (iya, sen-di-ri-an). Biasanya aku ngopi untuk dapetin wifi atau sekadar karena pengin ngopi aja. Selain di kafe-kafe di seputaran Demangan, tempat asik lainnya adalah di Seturan. Mungkin karena aku tinggalnya di Condongcatur kali yah makanya aku nggak begitu suka ke daerah selatan di Prawirotaman atau Malioboro yang tempat ngopinya juga asik. Belakangan aja aku suka ke Lokal, Letravail, atau paling asik di Coffeetime karena nggak ada perokok di sana. Lagipula sepertinya antara barista atau sesama pengunjung di Coffeetime sudah terbiasa dengan kehadiran freelancer dan tempat itu sering nyediain promo happy hour.

Setelah ke Jakarta yang aku cari pertama juga tempat ngopi asik. Karena tinggalnya di Tebet, nggak ketinggalan aku mampir ke Kopikina yang mengklaim punya koleksi kopi paling lengkap di Indonesia. Lalu aku juga ke Journey, Comic, bahkan Nine yang ada sishanya. Tapi paling enak tetap di Crematology dan seputaran Kebayoran. Pernah juga di Melawai, di Woodpecker, Sinou, dan seringnya ke Kemang juga Cikini. Dari mulai Filosofi Kopi, Kedai Tjikini, Anomali. Tapi yang aku heran aku sering banget ke mall, apalagi Kokas, ke Starbucks. Kini setelah tinggal di Jakarta aku paham mengapa sebagian coffee drinker di Jakarta menganggap Starbucks adalah tempat ngopi murah. Tentu karena ngopi di Jakarta membutuhkan budget paling tidak 100 ribu untuk sekali duduk. Oke, ini hedon.

***

Aku pernah cerita ke salah satu temanku yang orang Bandung kalau selama ini aku nggak pernah punya acara "liburan" ke Bandung karena tiap di sana sama teman-teman, mainnya nggak jauh-jauh dari kafe-kafe ---yang sebenarnya di mana-mana ada. Hahaha. Tapi percayalah kemarin ketika ke Bandung destinasi terbanyakku juga di kafe. Cuma sebentar aja aku ke BCW untuk mampir sholat (ehm) kemudian melanjutkan jalan kaki menikmati udara sore Bandung, macet, dan asap kendaraan dari Braga ke Jalan Asia Afrika.

Cuma karena aku janjian dengan Uber-nya pukul 6 sore, sekitar jam 5 lebih kami bertolak ke ITB. Tania bilang perjalanan dari Asia Afrika ke Tamansari bisa aja macet jadi sebaiknya kami siap-siap.

***

Terlalu banyak ketololan dalam perjalananku dengan Tania ---di manapun. Kami hampir melewati segala hal random di manapun kami pernah tinggal. Dari mulai kesuwungan-kesuwungan ngopi di Semarang, serangan cacing waktu pertama kali kost di Jogja, rebutan selimut dan desak-desakan di kasur single bed sewaktu kedatangan pertama di kost Menteng Dalam di Jakarta, hingga kerandoman waktu kami ke Bogor.

Nah, ketika akhirnya kami jalan-jalan ke Bandung, ketololan semacam ini juga nggak bisa ilang. Berawal dari naik Go-Car. Kami mengendarai mobil Brio yang disetiri mas-mas trendy yang lebih cocok jadi SPG daripada driver Go-Car. Lalu aku hampir lupa kalau Tania punya semacam alergi terhadap parfum. Di tengah kemacetan Bandung menjelang malam minggu, Tania mengeluh mual.

"Serius lo Tan?"
"Serius ini. Gue buka ya kacanya?"

Mas-mas driver itu mulai melirik-lirik dari kaca mobil di depan.

"Ih Pak, maaf yah, teman saya udik, kebiasa naik truk soalnya. Hahaha."
"Asem ik, ora ndes. Pak maaf yah Pak, itu parfumnya bisa disimpen aja nggak?"

Lalu dengan hampir ketawa driver itu menyingkirkan parfum mobil dari depan AC. Aku udah ketawa ngakak liat Tania ternyata beneran lemes. Untungnya nggak lama kemudian kami masuk ke kawasan ITB dan kami turun di depan Sabuga.

"Edan, Er, aing lemes beneran. Kayaknya harus cari teh panas atau sejenis itu."
"Buset, lu kayak mak-mak abis naik bis kota perjalanan antar-provinsi tau nggak? Udah minum air putih aja. Hahahahahaha."

Aku antara mau ketawa atau kasian. Nggak lama kemudian kami disamperin crew Uber dan tiketnya dikasih lalu kami masuk ke venue.

***

Awalnya kupikir kami akan pulang jam 10 malam dan sempat kulineran di Dago sebelum akhirnya pulang. Kosan Tania barokah banget karena tutup jam 12 malam. Tapi ini konser sih. Di sekolahku aja konser paling awal tu bubar jam 11 malem, masa ini konser yang HTMnya segini bubar jam 10. Cupu banget. Eh ternyata bener. Acara baru selesai jam 12 malam dan kami akhirnya kekunci hingga subuh. Kami lalu memutuskan ke Bober yang kata Tania buka 24 jam. Tapi sialnya ternyata hari Minggu Bober buka cuma sampai pukul 4 dan dengan sangat terpaksa kami pulang.

Usai subuhan sekitar pukul 6 pagi kami baru tidur. Ini sudah hari Minggu.

***

"Aku belum beli tiket sih. Enaknya aku balik malem ini apa besok aja yah?"
"Kalau temen-temenku sih biasa balik pagi dari Bandung, Er, nggak papa sih."
"Tapi aku nggak yakin bisa ngejar kereta pagi."
"Yaudah siang."
"Berarti aku beli siang aja yah?"
"Serah lu."
"Trus hari ini kita ke mana?"
"Perlu nugas sih sebenarnya."
"Aku juga butuh ngerjain freelance."
"Yaudah Starbucks aja yuk yang lagi promo."
"Demi apa Starbucks banget?"
"Yang murah, kan hipster."

Kami akhirnya ke PVJ. Yah itung-itung cari suasana yang lain karena selain ada Starbucks di sana, PVJ termasuk mall dengan konsep yang unik. Interiornya dibikin kayak outdoor gitu. Saking outdoornya, toiletnya pun semi outdoor.

Kami stay di Starbucks PVJ dan mulai menyalakan laptop masing-masing. Pesan secangkir kopi untuk masing-masing yang ternyata kemanisan, lalu lagi-lagi kami melakukan ketololan dengan minta tambahan es batu.

"Sumpah ini baru pertama kami aku beli es batu di Starbucks."
"Lah kamu pikir aku nggak?"

Tapi biar bagaimanapun di sana aku cukup produktif dan kami balik pukul 10 dengan bahagia.

***

Hari terakhir. Tania kebangun pagi banget. Tumben. Sebaliknya aku masih gulung-gulung di kasur waktu nyadarin dia udah rapi mau ke kampus.

"Nanti pintunya ditutup ajalah. Aku keburu telat kalo nunggu kamu selesai mandi."
"Oh yaudah kalo gitu, kita pisah di sini yah. Bye Tan, see you di Jogja!"

Aku order Uber ke stasiun dan nggak lupa ijin ke Kak Bach dan Koh Ryan kalau hari ini aku ngantor dari Bandung. Parahnya Stasiun Bandung ternyata nggak provide free wifi kayak di Gambir. Begitu juga outlet-outlet di sana. Bahkan Dunkin yang biasanya selalu sedia wifi, di sini enggak. Fix Bandung nggak ramah mahasiswa.

Keretaku berangkat jam 12 dan ini masih sekitar pukul 9 jadi aku membeli voucher Wifi ID untuk sehari. Sambil menikmati kopi yang asem banget di Dunkin aku mulai membuka laptop dan mendadak aku sadar kalau kehidupan orang dewasa nantinya akan begini; lari-larian dikejar waktu, hidup dalam rutinitas Senin-Jumat kerja dan berusaha bahagiain diri sendiri di akhir pekan. Lalu begitu terus sampai masanya pensiun. Satu-satunya harapanku sekarang adalah aku segera lulus dan nggak masalah jika setelahnya harus menghabiskan masa dewasaku dengan bekerja dan bersenang-senang ala kadarnya seperti ini.

Acara dolan ke Bandung selesai. Uhmazingnya setelah ditotal aku cuma ngabisin sekitar 195 ribu dari hari Jumat hingga Senin untuk semua kemeriahan makan, ngopi, dan nongkrong-nongkrong. Ini bener-bener mainnya anak "hipster" yang nggak butuh modal banyak buat seneng-seneng, dan pastinya anti-mainstream. Aku bahkan nggak ke Lembang, nggak ke Ciwidey, nggak ke kebun teh atau Rumah Bambu. Wkwk.




Photo Source

You May Also Like

0 comments