Fragmen di Jogja: Pulang


Landing di Bandara Adi Soetjipto rasanya selalu menyeramkan. Aku pernah berputar-putar di atas bandara hampir setengah jam dalam perjalanan dari Jakarta. Pernah juga seperti nyaris mengenai rumah-rumah penduduk di sekitar Janti. Jadi, kurasa kalau ada wacana bandaranya dipindah aku hampir setuju.

Aku terbang dari Ngurah Rai dengan pesawat paling pagi. Malam kemarin di Deus aku bertemu Giovanni setelah berbulan-bulan kami tidak berjumpa. Gio bercerita beberapa waktu lalu Ra pulang ke Bandung dan menemuinya di rumah. Gio lalu memberikan alamat Wayan di Ubud dan homestay yang dulu kutempati di Canggu bersama Ega dan kawan-kawan. Aku hampir marah dengan Gio, tapi itu berlebihan. Kurasa itu bukan salah Gio karena dia tidak tahu apa-apa. Kami akhirnya bicara panjang lebar seperti dua orang teman akrab yang lama tidak bertemu. Kali terakhir aku juga menemuinya di sini, dengan Ega dan teman-teman ketika kami menggarap film. Sepulang dari Cannes Film Festival yang berbuah manis sekali, sebenarnya aku ingin ke Bandung bertemu Gio. Tapi sepertinya dia terlampau sibuk dengan bisnis barunya, jadi kuputuskan untuk tetap di Jakarta saja.

Rumah Ega di Kemang, dan hampir bisa ditebak malam-malam kami dihabiskan dengan ngopi dan clubbing. Hadiah uang Euro yang didapat dari Paris mungkin langsung habis untuk mendanai pesta-pesta. Tapi kami tidak peduli. Kami mengerjakan film karena rasa suka dan ingin senang-senang saja. Ega menulis script dan menjadi pengarah utama, sekaligus editor. Aku menata sinematografi dan artistik. Tiga teman kami membantu audio sekaligus menjadi pemeran utama. Sebenarnya Yogie, adikku, juga turut mengisi soundtrack dengan permainan-permainan pianonya yang ciamik. Tapi dia masih menempuh kuliah, sehingga tidak bisa ikut kami ke Paris. Lagipula Yogie tidak boleh minum dan clubbing, jadi kupikir dia tidak bisa diikutsertakan dalam perayaan-perayaan kami baik di Paris maupun di Jakarta.

Sepulangku ke Jogjakarta aku sebenarnya berjanji mentraktir dia dan membantunya untuk bisa sesegera mungkin menggelar konser. Adikku sangat berbakat dengan musik. Dia bisa memainkan hampir semua alat musik; gitar, piano, bahkan saxophone. Aku tidak tahu bakat itu diturunkan dari siapa. Tapi kata orang sebenarnya Ibu sejak dulu bercita-cita jadi seniman, dia penyuka teater dan puisi-puisi, tapi menikah dengan Ayah memang mengubah sekali jalan hidupnya. Jadilah kami anak-anaknya yang menggila. Aku tahu di balik semua sifat keras kepalanya Ayah dan Ibu yang seolah iya-iya aja, sebenarnya dia mendukung kami.

Ah, aku sudah lama sekali tidak pulang ke Jogja. Yogie terakhir menghubungiku seminggu lalu. Dia menanyakan apakah aku baik-baik saja. Kujawab semuanya baik dan aku juga sempat bilang kalau memang memungkinkan aku ingin dia menyusulku ke Canggu. Tapi adikku yang paling kecil, Ara, masih SMA, dan dia tidak mungkin ditinggal sendiri di rumah karena Angga sekarang mulai bekerja di salah satu firma hukum di Jakarta. Aku sempat bertemu Angga di SCBD dan dia mengajakku main ke kantornya yang lebih mirip lorong-lorong angkuh dengan perempuan-perempuannya yang berjalan dengan nada ketukan.

Tap. Tap. Tap.

Semua orang di kantor Angga melihat satu sama lain dengan tatapan angkuh dan sinis dan aku sampai sekarang bertanya-tanya bagaimana Angga akan menjalani hari-harinya di Jakarta bersama orang-orang seperti ini.

“Yah, beginilah kerja di Jakarta, Re. Rapi, terstruktur..”
“Dan kamu harus bayar parkir puluhan ribu setiap hari untuk menitipkan kendaraan di basement-basement sumpeknya,” potongku.

Angga tertawa. Dia mentraktirku ngopi di salah satu kedai kopi di kantornya. Sebenarnya aku mengajaknya ke Beer Garden, tapi katanya dia sekarang sudah tidak mau minum alkohol. Angga juga sudah tidak merokok ---yang ini aku bersyukur sih, karena merokok di kantornya ini sulit. Dia harus turun belasan lantai dengan lift untuk menyulut sebatang dua batang rokok, lalu naik lagi dengan lift yang penuh sesak dan semua orang memandanginya tajam karena bau rokoknya menempel di seluruh pakaian yang dikenakan. Aku nyaris terjungkal menahan tertawa mendengar minggu-minggu pertama Angga di Jakarta. Tapi aku sungguh mengapresiasi karena dia telah bekerja keras untuk ini.

***

Aku sudah lama sekali tidak pulang dan kini taksi yang kutumpangi dari bandara sudah sampai di depan rumah. Usai menurunkan koper-koperku, taksi itu pergi dan aku masih terpekur berdiri di depan rumah. Aku pandangi pagar kayunya yang tua dan kokoh. Rumah ini teduh sekali dan seharusnya semua orang yang tinggal di sana bisa tenang dan bahagia. Rumah ini memiliki banyak sejarah karena sudah ada sejak Ibu masih kecil. Bedanya dulu Condongcatur adalah sawah-sawah dan area tanah-tanah kosong.

Eyang membeli sepetak tanah untuk dibangun rumah yang sangat teduh dan menyenangkan. Halamannya luas sekali dipenuhi pohon-pohon mangga dan anega jenis tanaman yang rajin dirawat. Ada satu kolam ikan di depan rumah dan gazebo serta ayunan yang kerap kumainkan ketika aku kecil. Rumah Eyang seperti halnya rumah-rumah model lama yang hanya terdiri dari satu lantai, tapi luas sekali. Aku tinggal di sini menghabiskan masa kecilku yang bahagia, mengenal Ega yang tetangga depan rumahku, sebelum akhirnya pindah ke Jakarta, lalu ke Semarang, Banjarmasin, dan aku lupa aku pernah tinggal di mana lagi.

Sebenarnya aku tidak suka dengan Ayah yang insinyur sipil itu karena pekerjaannya. Paling tidak seharusnya jika memang keluarga kami harus berpindah-pindah, pindahlah ke tempat yang menyenangkan, bukan di daerah-daerah tandus dengan proyek-proyek yang sedang dibangun. Itu sebabnya aku memutuskan untuk kembali saja ke Jogja ketika mereka, Ayah dan Ibu, memutuskan ke Banjarmasin lagi. Lagipula aku memang kuliah di UGM, dan rumah Eyang kosong jadi kenapa tidak kutinggali saja? Awalnya aku bersama Angga dan seorang teman SMAku dari Semarang, Aisa, tinggal di rumah Eyang. Tetapi Aisa akhirnya memutuskan tinggal di Pogung karena dia jadi aktivis di Teknik dan rumah di Condongcatur baginya terlalu jauh dan melelahkan. Tak lama setelah Aisa pergi, Yogie masuk SMA dan dia juga memutuskan ke Jogja bersama Ara yang waktu itu masuk SMP. Dan begitulah akhirnya formasi rumah Eyang dihuni; aku, Angga, Yogie, dan Ara. Ibu sesekali menengok kami ketika libur dan begitu juga Ayah.

Kau tahu, sebenarnya Ibu sama sekali tidak bekerja, tetapi dia menyertai Ayah ke manapun laki-laki itu pergi. Bagi keluarga kami yang sangat Jawa, menjadi perempuan itu tidak enak. Kami menjadi orang nomor dua di rumah. Segala keputusan ada di tangan laki-laki, termasuk keputusan anak-anaknya harus kuliah apa, di mana, menjadi apa, dan lain sebagainya.

Aku sudah lama berselisih dengan Ayah semenjak dia menentangku kuliah film di IKJ. Tetapi nampaknya dia sudah cukup puas karena aku mau kuliah di UGM, meski di jurusan Komunikasi ---yang jauh sekali dari harapannya. Paling tidak, bagi Ayah yang lulusan ITB, dia ingin anaknya menjadi Sarjana Teknik, atau dokter, atau sejenisnya. Yogie sedikit beruntung karena dia laki-laki jadi ia bebas menentukan ingin kuliah apa. Kupikir dia akan masuk ke Jurusan Seni Musik di ISI atau sejenisnya, tetapi ia memilih masuk di Komunikasi.

Aku tidak paham bagaimana dia mengambil keputusan itu, tapi semoga ia masuk Komunikasi bukan karena ingin mengikuti jejakku. Jujur saja aku malu karena aku berbeda tiga tahun dengan Yogie dan aku terancam lulus lebih lambat dari dia karena hingga sekarang aku belum juga lulus. Orang tuaku sudah give up memaksaku lulus cepat dan kuliah S2. Tetapi sebenarnya aku bisa-bisa aja lulus dengan segera, hanya aku tidak menemukan kegiatan yang lebih baik setelah aku sarjana. Jadi menjadi mahasiswa sepertinya lebih menarik.

“Paling tidak lulus dulu lah, Mbak. Memang nggak males sedekah terus dengan UGM?”
“Oke, Yogie. Aku akan lulus semester ini.”

Yogie mungkin malu atau bagaimana karena sebagian temannya yang tahu aku kakaknya mungkin akan menganggap aku bodoh atau sejenisnya. Tetapi aku tidak pernah mau dibilang atau dianggap bodoh, karena aku tidak bodoh. Kau tahu, aku sudah berkali-kali menggelar pameranku sendiri atau bersama teman-teman. Aku berkali-kali mengerjakan proyek film dan video untuk fakultas atau jurusan dan risetku tentang film dengan dosen di jurusan tidak sedikit. Jadi, sebenarnya jika untuk lulus saja menurutku mudah. Jadi aku memutuskan aku akan jadi sarjana tahun ini. Ini masih awal tahun. Aku bisa wisuda bulan Mei atau Agustus tahun ini. Skripsiku tinggal sedikit lagi.

***

“Loh, sejak kapan dateng?” Suara Yogie membuyarkan lamunanku. Aku masih di depan rumah. Yogie sepertinya baru selesai jogging karena dia sangat berkeringat dan dia memakai sepatu olahraga.
“Eh? Baru kok.”
“Di rumah nggak ada orang. Ara lagi ada acara nginep di Kaliurang.”
“Oh.” Yogie kemudian membantuku mengangkat koper-koper dan membawanya ke dalam rumah.

***

Kami duduk berdua di meja makan. Adikku setelah kulihat lebih seksama tampan sekali. Alisnya tebal dan matanya tajam melihat sesuatu di balik bingkai kacamatanya. Kami menikmati bubur ayam yang lewat di depan rumah tak lama setelah kami masuk. Pagi ini rumah sepi. Sebenarnya selalu sepi semenjak Angga lulus dan ke Jakarta, dan aku memutuskan ke mana-mana tak tentu arahnya.

Aku mulai berpikir sejak kapan hidupku menjadi seperti ini. Tapi, pagi hari di Jogja setelah lama sekali aku pergi rasanya terlalu syahdu untuk sekadar dihabiskan menyesali hal-hal yang sudah lewat. Jadi, aku memutuskan ke halaman belakang. Mbak Irah yang biasa bersih-bersih dan masak di rumah sudah datang. Ia menyapaku dan basa-basi sebentar tapi tidak kutanggapi. Lalu ia kembali pada pekerjaannya; menyiangi tanaman, menyapu, mengepel, membersihkan kamar dan kamar mandi, mengelap kaca-kaca dan perabotan rumah, lalu memasak untuk kami semua.

Aku mulai membuka kuas-kuasku yang lama dan beberapa cat minyak yang kutuang pada palet sudah mengering karena terlalu lama kubiarkan menumpuk di satu sudut di halaman rumah belakang. Aku duduk di ayunan yang menjadi singgasanaku untuk melukis karena aku ingin sekali melukis pagi ini. Dan Yogie duduk di sampingku, membawa gitarnya dan memainkan lagu-lagu Banda Neira.

***

Bersambung jika tidak malas menulisnya.

0 comments:

Post a Comment

My Instagram