Jan 19, 2017

Patah di Bandung


Braga, sore hari yang cukup menyengat.

Wiki Koffie adalah satu dari sekian tempat di mana aku bisa duduk berjam-jam tanpa memikirkan sesuatu. Hanya kopi, rasanya yang asam, juga berbagai cara penyeduhan. Paling kusuka adalah drip method atau kopi tetes. Setelahnya espresso barangkali ---tapi beberapa kali kucoba kopi yang kremanya tidak terlalu banyak, jadi aku menghindari kekecewaan-kekecewaan semacam itu di warung kopi.

Paling tidak memesan drip coffee tidak membuatku kecewa karena aku mendapatkan semuanya ---bahkan ampas kopinya. Aku tidak akan dibuat kecewa mengetahui krema di cangkir yang kuminum sedikit menandakan kualitas kopi yang buruk seperti memesan espresso, atau gambar di cangkirku jelek ketika memesan latte. Lagipula aku suka melihat proses titik-titik air itu keluar dari dripper dan jatuh di cangkir. Jadi, untuk sore ini, melengkapi kedatanganku setelah lama nggak ke Bandung aku memutuskan memesan kopi Toraja yang disajikan dengan drip method.

Tempatku duduk tak jauh dari Braga yang terkenal dengan kehidupan malamnya. Di sepanjang jalan kamu akan menemukan banyak sekali kedai kopi, sekaligus bar-bar yang menyajikan aneka wine dengan tiket masuk yang suka bikin sakit kepala. Tapi meski semua orang mencap buruk Braga ---sama hinanya seperti kalau di Jogja kamu main ke Pasar Kembang, tempat-tempat seperti ini sebenarnya menyimpan seninya tersendiri. Seperti kedai kopi tempatku duduk ini.

Aku nyaris melupakan semua hal; rasa sedih, kecewa, galau. Aku mau fokus di kopi dan hanya kopi. Sesekali saja aku pandangi jalanan Kota Bandung. Mobil, motor, bus-bus Damri, sepeda.. skuter! Beberapa kali kulihat dua sejoli mengenakan baju yang sama. Beberapa orang salah kostum ---bagaimanapun Bandung jam 3 siang panasnya bikin tabah untuk orang-orang yang memakai setelan coat tebal.

Di tengah kerandoman ini aku terkenang wajah temanku, Ega. Ega selalu bilang padaku bahwa ada masanya nanti aku merasakan "rasa" yang sebenarnya dari apa yang coba untuk ditunda kesadaranku hari ini. Ia katakan itu dua minggu lalu. Tepat ketika aku mengangkat telepon terakhir dari Royyan.

"Maksud kamu apa sih, Ra, putus?"
"Putus. Ya putus. Kita nggak ada relationship apa-apa lagi. Maksudku sebenarnya kita sejak lama seperti ini ---atau malah sejak awal? Entah sih. Tapi di antara kita sebenarnya cuma tinggal status-status tanpa kejelasan dan tinggal diclearin aja kalau sebenarnya kita sudah putus?"
"Salah aku apa sih?"
"Nggak ada yang salah. Yang salah itu waktu, dan jarak yang membuat waktu berbeda."
"Ara, sejak awal kita menjalin relasi ini, kita tahu jarak itu selalu ada. Kamu jangan mengada-ada sekarang!" Suara Royyan meninggi.
"Justru itu, Royyan!" Suaraku nggak kalah tinggi. Aku menghela napas beberapa detik. "Aku nggak mau terus-terusan terjebak ilusi dan kesalahan-kesalahan bodoh yang aku pelihara sekian lama."
"Okay, fine."

Lalu telepon diputus. Aku menggenggam ponselku beberapa saat dan kulihat langit-langit kamar hotel tempatku menginap. Aku baru saja bangun tidur dan langsung memutuskan pacarku yang sudah sejak bertahun-tahun belakangan ini jadi kekasihku. Seseorang yang sejak bertahun lalu kutunggu-tunggu ucapannya menyatakan cinta, lalu menjalin kasih dengannya. Tapi begitu semua berjalan, rasanya aneh sekali. Hingga di titik ini.

***

Dua minggu lalu aku masih menyatakan pada dunia aku baik-baik saja. Aku bahkan tidak patah hati karena kupikir aku sudah mati rasa. Tapi kata-kata Ega menjadi benar belakangan. Aku bahkan tidak butuh waktu lama. Cuma dua minggu. Dua minggu setelah aku bilang ingin putus dan Royyan dengan sebal cuma menanggapi 'okay fine' dalam teleponnya.

Ini semua karena Tania dan sebuah undangan yang memintaku datang ke kotanya.

"Lo udah banyak banget bantu gue dari awal-awal merintis bisnis ini dulu. Sekarang gue berada di satu fase yang lebih maju. Gue juga pengin lo terlibat di sini. Lo datang yah ke fashion show ini? Please!"

Tania tahu aku paling tidak bisa menolak permintaan temanku. Andai Royyan masih temanku, aku mungkin juga nggak akan tega waktu dia bilang tidak mau putus. Sayang sekali dia kekasihku, jadi aku bisa lebih tega.

"Gue usahain yah."

Iya. Aku-kamu harus berubah jadi gue-lo di depan Tania. Ega yang sejak lama di Jakarta nggak sebegininya. Tapi Tania yang baru beberapa waktu lalu di Bandung sekarang hampir udah lupa dengan "aku-kowe-jancuk-asu-matamu" dan segala macam pisuhan khas yang dimiliki anak-anak dengan mulut rusak kurang didikan macam kami.

***

Tania seorang designer. Sama halnya aku yang menikmati sekali hidupku di Jogja dengan semua kegiatan seni dan orang-orangnya yang unik, di sini Tania juga merasa "hidup". Tania mengatakan padaku kuliah di Teknik Mesin kampus negeri kenamaan di Bandung adalah sebuah anugerah, karena dari sinilah ia akhirnya bisa meraih mimpinya jadi designer.

"Sebenernya gue masih heran sih. Lo kan anak mesin. ITB."
"Nothing impossible sih, Ra."

Aku baru tahu Tania benar-benar serius dengan projectnya ini setelah dia memaksa-maksaku membuatkan satu macam video campaign untuk brand yang dirintisnya.

"Bisnis fashion di Bandung itu peluangnya gede, meski saingannya juga killer. Jadi kita harus bikin ini sekreatif mungkin biar nggak kalah dengan yang lain," ujar Tania suatu ketika. Itu kali pertama aku dibawa ke studionya.
"Oh."

Aku mengenal Tania ketika SMP. Dia temanku satu kelas sejak SMP hingga SMA. Kami menghabiskan masa remaja yang lucu di Semarang dengan kenakalan-kenakalan absurd. Sejak SMP Tania bercita-cita jadi hipster, rumahnya yang di Pleburan memungkinkan dia untuk main ke TBRS setiap malam minggu, bergaul dengan "seniman-seniman" di sana bahkan berlatih musik scream. Berbeda denganku yang justru menemukan nyawa seni ketika akhirnya kuliah di Jogja, Tania justru kehilangan jiwa seninya ketika kuliah.

"Harusnya dulu gue ke Jakarta, kuliah fashion atau sejenisnya."
"Enggak juga sih. Gue kalo akhirnya nggak kuliah komunikasi juga nggak serius ngelukis dan belajar sinematografi."
"Tapi Ega kuliah di IKJ, dan dia sutradara muda keren sekarang."
"Itu Ega, kita bakal beda lagi, Tan," ujarku sok bijak. Sambil sesekali menelan ludah pahit mendengar omonganku sendiri. Kini aku paham kenapa ada orang yang berprofesi sebagai motivator ---karena menasihati orang lain atas apa yang tidak bisa kita lakukan itu ternyata sangat mudah.

***

Royyan ke Boston beberapa bulan lalu sesaat setelah dia kerja di Jakarta, di sebuah perusahaan konsultan bergengsi yang memiliki kantor pusat di Amerika. Ia hanya beda setahun denganku, tapi ia begitu cepat lulus sementara aku bahkan belum menyelesaikan program KKN. Lalu tak lama kemudian ia bekerja di perusahaan yang diincar hampir semua lulusan kampus kenamaan di Indonesia. Keberuntungan Royyan tak berhenti di sana, ia mendapat promosi ke Boston. Katanya sebelum pergi, ini kesempatan bagus untuk dia bisa meraih cita-citanya MBA di HBS.

"Bayangin deh, Ra, Boston! Boston!" ujarnya berapi-api. Tapi aku cuma memandanginya miris karena setelah ini aku mungkin tidak pernah bertemu dia, kecuali jika kami benar-benar selo untuk saling berkunjung. Antara dia ke Jogja atau aku harus ke Boston. Oh tapi aku pernah mengikuti summer school di Rotterdam dan sampai sekarang aku tidak pernah punya kesempatan untuk balik lagi mengunjungi keluargaku di sana. Jadi aku tidak sedikit pun berpikir aku cukup selo untuk datang ke Boston ---apalagi untuk lelaki seperti Royyan.

Dan hari itu sungguhan tiba.

Aku telah melalui serangkaian drama sepanjang hubunganku dengan Royyan, tapi ini sungguh akan menjadi episode ter-nganu yang bahkan aku tidak menemukan padanan kata yang cukup untuk menjelaskan semuanya. Percayalah, aku benar-benar bosan dengan relasi seperti ini, tapi aku sungguh "jatuh" ke dalam perasaan yang kita bangun. Maka sebelum boarding, disaksikan keluarganya lengkap, Royyan menciumku ---dia mencurinya!

***

Canggu selepas maghrib.

"Lulus dulu, Ra! Nanti kita akan lebih banyak jalan-jalan setelah kamu lulus!" Wregas menepuk-nepuk bahuku. Teman masa kecilku wajahnya hampir nggak kukenali. Kulitnya hitam terbakar sinar matahari dan rambutnya yang gondrong semakin awut-awutan. Dalam ingatanku, Ega memang nggak ganteng-ganteng amat. Tapi dengan hidup di pinggir pantai seperti ini, Ega makin nggak karuan.

Aku sedih mengatakannya tapi.. "Ga, ketoke koe butuh ke salon deh."
"Bwahahahaha!" Ega terpingkal sampai memegangi perutnya. "Wes wes, ojo seneng mengalihkan pembicaraan."
"Ih, aku serius."
"Nek koe berharap aku bisa jadi model-model Royyan, ket mbiyen dewe iki wes pacaran. Hahaha!"
"Ih, nggak gitu. Ini demi kebaikanmu juga ya ampun itu lho lihat kamu udah nggak beda sama penduduk sini!"
"Ya bagus dong, berarti hasilku tinggal di sini udah tercapai, aku wes dadi penduduk kene. Mung kudu latihan Bahasa Bali aja."

Obrolan kami akhirnya ngelantur. Dari mulai membicarakan kepulanganku ke Jogja sampai instrumen Nocturne Opus 9 No. 2 milik Frederic Chopin yang semalam ditampilkan secara solo di salah satu pertunjukan di Ubud. Ega memang sungguh-sungguh seniman. Dia dilahirkan di keluarga seniman sejak kakek buyutnya. Dia bisa membuat film, memotret, melukis (meski yang ini dia mengakui hasilku lebih oke), dan mengaransemen musik. Ia bahkan mungkin bisa menari (cuma aku belum pernah lihat langsung) dan memahat kayu. Jadi berada di dekat Ega membuatku selalu merasa hidup. Aku selalu merasa heran mengapa sejak dulu kami nggak pernah saling suka.

"Royyan aman to?"
"Nggak tau."
"Jangan terus-terusan gitu to. Kalian kan udah bukan anak kecil."
"Dianya sih udah nggak anak kecil. Akunya yang masih bocah."
"Hahaha! Ra.. Ra.. Nggak berubah kamu!"
"Aku udah putus."
"Serius?"

Aku mengangguk.

"Kok bisa?"
"Bisa. Tinggal bilang putus. Udah."
"Maksudku.. kok bisa kamu biasa aja? Liburan ke Bali.. nggak ada sedih-sedihnya.."
"Ya udah mati rasa."
"Hahahaha!" Ega tertawa lagi.
"Nggak lucu."
"Aku nggak bilang lucu juga. Cuma... aneh." Ega membenarkan posisi duduknya. Pantai Canggu semakin gelap dan orang-orang mulai pergi dari aktivitasnya berselancar.

"Ra, dengerin aku." Ega menghadap lurus ke arahku. "Kamu sedang tidak sadar. I mean.. kamu cuma sedang 'menolak' perasaanmu sendiri. Kesadaranmu.. kesadaranmu cuma sedang membendung perasaan yang sebenarnya kamu rasakan. Dan nanti, pada saatnya batas sadarmu sudah tidak mampu menahannya, kamu akan merasakan perasaan itu... yang sebenarnya kamu rasakan."

***

Braga selepas maghrib.

Aku masih di tempatku duduk dan musik-musik klasik masih diperdengarkan di tempat ini. Bergantian aku mendengar lantunan Rayuan Pulau Kelapa, Injit-injit Semut, hingga Es Lilin serta Degung Sunda. Kira-kira aku sudah menghabiskan dua cangkir kopi, satu cangkir lagi aku mungkin tidak tidur sampai besok atau terkena serangan panik, tapi Tania nggak kunjung datang. Aku hampir kesal dengan orang ini kalau saja dia bukan temanku.

"Lo naik taksi aja yah, tunggu di Braga sampe gue dateng," pesannya tadi karena tidak bisa menjemputku di stasiun.

Berbagai pikiran mulai berkecamuk di kepalaku. Di sudut ruangan aku melihat dua sejoli. Mereka memesan kopi dan sepiring kue telur dengan lelehan cokelat di dalamnya. Pemandangan itu mengingatkanku pada suatu fragmen di sini ---di tempat ini, di titik yang sama persis. Ingatanku beralih seperti film dokumenter yang diputar dalam layar proyektor.

Aku mulai sedih menyadari benteng pertahanan itu akhirnya jebol.

***

"Sorry yah, gue telat. Sorry banget, lama yah, nunggunya?"
"Nggak papa. Bisa kita pergi dari sini?"
"Ra.."
"Hm?"
"Are you okay?"

Aku tidak menjawab.

Jan 2, 2017

Fragmen di Jogja: Pulang


Landing di Bandara Adi Soetjipto rasanya selalu menyeramkan. Aku pernah berputar-putar di atas bandara hampir setengah jam dalam perjalanan dari Jakarta. Pernah juga seperti nyaris mengenai rumah-rumah penduduk di sekitar Janti. Jadi, kurasa kalau ada wacana bandaranya dipindah aku hampir setuju.

Aku terbang dari Ngurah Rai dengan pesawat paling pagi. Malam kemarin di Deus aku bertemu Giovanni setelah berbulan-bulan kami tidak berjumpa. Gio bercerita beberapa waktu lalu Ra pulang ke Bandung dan menemuinya di rumah. Gio lalu memberikan alamat Wayan di Ubud dan homestay yang dulu kutempati di Canggu bersama Ega dan kawan-kawan. Aku hampir marah dengan Gio, tapi itu berlebihan. Kurasa itu bukan salah Gio karena dia tidak tahu apa-apa. Kami akhirnya bicara panjang lebar seperti dua orang teman akrab yang lama tidak bertemu. Kali terakhir aku juga menemuinya di sini, dengan Ega dan teman-teman ketika kami menggarap film. Sepulang dari Cannes Film Festival yang berbuah manis sekali, sebenarnya aku ingin ke Bandung bertemu Gio. Tapi sepertinya dia terlampau sibuk dengan bisnis barunya, jadi kuputuskan untuk tetap di Jakarta saja.

Rumah Ega di Kemang, dan hampir bisa ditebak malam-malam kami dihabiskan dengan ngopi dan clubbing. Hadiah uang Euro yang didapat dari Paris mungkin langsung habis untuk mendanai pesta-pesta. Tapi kami tidak peduli. Kami mengerjakan film karena rasa suka dan ingin senang-senang saja. Ega menulis script dan menjadi pengarah utama, sekaligus editor. Aku menata sinematografi dan artistik. Tiga teman kami membantu audio sekaligus menjadi pemeran utama. Sebenarnya Yogie, adikku, juga turut mengisi soundtrack dengan permainan-permainan pianonya yang ciamik. Tapi dia masih menempuh kuliah, sehingga tidak bisa ikut kami ke Paris. Lagipula Yogie tidak boleh minum dan clubbing, jadi kupikir dia tidak bisa diikutsertakan dalam perayaan-perayaan kami baik di Paris maupun di Jakarta.

Sepulangku ke Jogjakarta aku sebenarnya berjanji mentraktir dia dan membantunya untuk bisa sesegera mungkin menggelar konser. Adikku sangat berbakat dengan musik. Dia bisa memainkan hampir semua alat musik; gitar, piano, bahkan saxophone. Aku tidak tahu bakat itu diturunkan dari siapa. Tapi kata orang sebenarnya Ibu sejak dulu bercita-cita jadi seniman, dia penyuka teater dan puisi-puisi, tapi menikah dengan Ayah memang mengubah sekali jalan hidupnya. Jadilah kami anak-anaknya yang menggila. Aku tahu di balik semua sifat keras kepalanya Ayah dan Ibu yang seolah iya-iya aja, sebenarnya dia mendukung kami.

Ah, aku sudah lama sekali tidak pulang ke Jogja. Yogie terakhir menghubungiku seminggu lalu. Dia menanyakan apakah aku baik-baik saja. Kujawab semuanya baik dan aku juga sempat bilang kalau memang memungkinkan aku ingin dia menyusulku ke Canggu. Tapi adikku yang paling kecil, Ara, masih SMA, dan dia tidak mungkin ditinggal sendiri di rumah karena Angga sekarang mulai bekerja di salah satu firma hukum di Jakarta. Aku sempat bertemu Angga di SCBD dan dia mengajakku main ke kantornya yang lebih mirip lorong-lorong angkuh dengan perempuan-perempuannya yang berjalan dengan nada ketukan.

Tap. Tap. Tap.

Semua orang di kantor Angga melihat satu sama lain dengan tatapan angkuh dan sinis dan aku sampai sekarang bertanya-tanya bagaimana Angga akan menjalani hari-harinya di Jakarta bersama orang-orang seperti ini.

“Yah, beginilah kerja di Jakarta, Re. Rapi, terstruktur..”
“Dan kamu harus bayar parkir puluhan ribu setiap hari untuk menitipkan kendaraan di basement-basement sumpeknya,” potongku.

Angga tertawa. Dia mentraktirku ngopi di salah satu kedai kopi di kantornya. Sebenarnya aku mengajaknya ke Beer Garden, tapi katanya dia sekarang sudah tidak mau minum alkohol. Angga juga sudah tidak merokok ---yang ini aku bersyukur sih, karena merokok di kantornya ini sulit. Dia harus turun belasan lantai dengan lift untuk menyulut sebatang dua batang rokok, lalu naik lagi dengan lift yang penuh sesak dan semua orang memandanginya tajam karena bau rokoknya menempel di seluruh pakaian yang dikenakan. Aku nyaris terjungkal menahan tertawa mendengar minggu-minggu pertama Angga di Jakarta. Tapi aku sungguh mengapresiasi karena dia telah bekerja keras untuk ini.

***

Aku sudah lama sekali tidak pulang dan kini taksi yang kutumpangi dari bandara sudah sampai di depan rumah. Usai menurunkan koper-koperku, taksi itu pergi dan aku masih terpekur berdiri di depan rumah. Aku pandangi pagar kayunya yang tua dan kokoh. Rumah ini teduh sekali dan seharusnya semua orang yang tinggal di sana bisa tenang dan bahagia. Rumah ini memiliki banyak sejarah karena sudah ada sejak Ibu masih kecil. Bedanya dulu Condongcatur adalah sawah-sawah dan area tanah-tanah kosong.

Eyang membeli sepetak tanah untuk dibangun rumah yang sangat teduh dan menyenangkan. Halamannya luas sekali dipenuhi pohon-pohon mangga dan anega jenis tanaman yang rajin dirawat. Ada satu kolam ikan di depan rumah dan gazebo serta ayunan yang kerap kumainkan ketika aku kecil. Rumah Eyang seperti halnya rumah-rumah model lama yang hanya terdiri dari satu lantai, tapi luas sekali. Aku tinggal di sini menghabiskan masa kecilku yang bahagia, mengenal Ega yang tetangga depan rumahku, sebelum akhirnya pindah ke Jakarta, lalu ke Semarang, Banjarmasin, dan aku lupa aku pernah tinggal di mana lagi.

Sebenarnya aku tidak suka dengan Ayah yang insinyur sipil itu karena pekerjaannya. Paling tidak seharusnya jika memang keluarga kami harus berpindah-pindah, pindahlah ke tempat yang menyenangkan, bukan di daerah-daerah tandus dengan proyek-proyek yang sedang dibangun. Itu sebabnya aku memutuskan untuk kembali saja ke Jogja ketika mereka, Ayah dan Ibu, memutuskan ke Banjarmasin lagi. Lagipula aku memang kuliah di UGM, dan rumah Eyang kosong jadi kenapa tidak kutinggali saja? Awalnya aku bersama Angga dan seorang teman SMAku dari Semarang, Aisa, tinggal di rumah Eyang. Tetapi Aisa akhirnya memutuskan tinggal di Pogung karena dia jadi aktivis di Teknik dan rumah di Condongcatur baginya terlalu jauh dan melelahkan. Tak lama setelah Aisa pergi, Yogie masuk SMA dan dia juga memutuskan ke Jogja bersama Ara yang waktu itu masuk SMP. Dan begitulah akhirnya formasi rumah Eyang dihuni; aku, Angga, Yogie, dan Ara. Ibu sesekali menengok kami ketika libur dan begitu juga Ayah.

Kau tahu, sebenarnya Ibu sama sekali tidak bekerja, tetapi dia menyertai Ayah ke manapun laki-laki itu pergi. Bagi keluarga kami yang sangat Jawa, menjadi perempuan itu tidak enak. Kami menjadi orang nomor dua di rumah. Segala keputusan ada di tangan laki-laki, termasuk keputusan anak-anaknya harus kuliah apa, di mana, menjadi apa, dan lain sebagainya.

Aku sudah lama berselisih dengan Ayah semenjak dia menentangku kuliah film di IKJ. Tetapi nampaknya dia sudah cukup puas karena aku mau kuliah di UGM, meski di jurusan Komunikasi ---yang jauh sekali dari harapannya. Paling tidak, bagi Ayah yang lulusan ITB, dia ingin anaknya menjadi Sarjana Teknik, atau dokter, atau sejenisnya. Yogie sedikit beruntung karena dia laki-laki jadi ia bebas menentukan ingin kuliah apa. Kupikir dia akan masuk ke Jurusan Seni Musik di ISI atau sejenisnya, tetapi ia memilih masuk di Komunikasi.

Aku tidak paham bagaimana dia mengambil keputusan itu, tapi semoga ia masuk Komunikasi bukan karena ingin mengikuti jejakku. Jujur saja aku malu karena aku berbeda tiga tahun dengan Yogie dan aku terancam lulus lebih lambat dari dia karena hingga sekarang aku belum juga lulus. Orang tuaku sudah give up memaksaku lulus cepat dan kuliah S2. Tetapi sebenarnya aku bisa-bisa aja lulus dengan segera, hanya aku tidak menemukan kegiatan yang lebih baik setelah aku sarjana. Jadi menjadi mahasiswa sepertinya lebih menarik.

“Paling tidak lulus dulu lah, Mbak. Memang nggak males sedekah terus dengan UGM?”
“Oke, Yogie. Aku akan lulus semester ini.”

Yogie mungkin malu atau bagaimana karena sebagian temannya yang tahu aku kakaknya mungkin akan menganggap aku bodoh atau sejenisnya. Tetapi aku tidak pernah mau dibilang atau dianggap bodoh, karena aku tidak bodoh. Kau tahu, aku sudah berkali-kali menggelar pameranku sendiri atau bersama teman-teman. Aku berkali-kali mengerjakan proyek film dan video untuk fakultas atau jurusan dan risetku tentang film dengan dosen di jurusan tidak sedikit. Jadi, sebenarnya jika untuk lulus saja menurutku mudah. Jadi aku memutuskan aku akan jadi sarjana tahun ini. Ini masih awal tahun. Aku bisa wisuda bulan Mei atau Agustus tahun ini. Skripsiku tinggal sedikit lagi.

***

“Loh, sejak kapan dateng?” Suara Yogie membuyarkan lamunanku. Aku masih di depan rumah. Yogie sepertinya baru selesai jogging karena dia sangat berkeringat dan dia memakai sepatu olahraga.
“Eh? Baru kok.”
“Di rumah nggak ada orang. Ara lagi ada acara nginep di Kaliurang.”
“Oh.” Yogie kemudian membantuku mengangkat koper-koper dan membawanya ke dalam rumah.

***

Kami duduk berdua di meja makan. Adikku setelah kulihat lebih seksama tampan sekali. Alisnya tebal dan matanya tajam melihat sesuatu di balik bingkai kacamatanya. Kami menikmati bubur ayam yang lewat di depan rumah tak lama setelah kami masuk. Pagi ini rumah sepi. Sebenarnya selalu sepi semenjak Angga lulus dan ke Jakarta, dan aku memutuskan ke mana-mana tak tentu arahnya.

Aku mulai berpikir sejak kapan hidupku menjadi seperti ini. Tapi, pagi hari di Jogja setelah lama sekali aku pergi rasanya terlalu syahdu untuk sekadar dihabiskan menyesali hal-hal yang sudah lewat. Jadi, aku memutuskan ke halaman belakang. Mbak Irah yang biasa bersih-bersih dan masak di rumah sudah datang. Ia menyapaku dan basa-basi sebentar tapi tidak kutanggapi. Lalu ia kembali pada pekerjaannya; menyiangi tanaman, menyapu, mengepel, membersihkan kamar dan kamar mandi, mengelap kaca-kaca dan perabotan rumah, lalu memasak untuk kami semua.

Aku mulai membuka kuas-kuasku yang lama dan beberapa cat minyak yang kutuang pada palet sudah mengering karena terlalu lama kubiarkan menumpuk di satu sudut di halaman rumah belakang. Aku duduk di ayunan yang menjadi singgasanaku untuk melukis karena aku ingin sekali melukis pagi ini. Dan Yogie duduk di sampingku, membawa gitarnya dan memainkan lagu-lagu Banda Neira.

***

Bersambung jika tidak malas menulisnya.