#Merangkum2016: Bagian Satu

by - December 31, 2016


Ya. Ya. Ya.

Pada akhirnya di manapun Ervina berada, blog ini pasti menyertainya. Nggak jaman SMA, nggak jaman di Balairung, nggak di Kofera (bayangin gaess ini mereka baru kenal 3 bulan lalu!!) udah berani ngebully blog ini. 😢

Ana sungguh terguncyang karena blog ini kembali jadi trending topic. HAHAHA. Tapi selo sih, sebagai orang yang selalu jahat di manapun berada, kalo cuma dibully gegara blog mah itu receh. Catat yak, anak-anak kantor, ini retjeh. 😤

***

Setelah kupikir-pikir ternyata tahun 2016 berlalunya cepet banget. Ini mungkin akan jadi post terakhir di 2016. Seperti biasa, di penghujung tahun ini aku juga bakal bikin catatan-catatan seperti tahun-tahun sebelumnya. Bedanya, kalo dulu semua dirangkum di satu post, kali ini aku memutuskan menulis di beberapa bagian. Kenapa? Karena ceritanya sangaaaaat panjang, dan kompleks.

Terlalu banyak moment yang terjadi di tahun ini. Dan kalo misal harus nulisin di satu post panjang, mengutip kata Kakak Dokter Zul favoritqu, nggak shanggup. Jadilah rangkuman itu harus ditulis dalam beberapa bagian. Aku menamainya sebagai #Merangkum2016.

***

Januari.

Aku udah bakal ngira tahun ini akan jadi tahun terbaper sepanjang sejarah 20 tahun hidup. You know. Seseorang datang usai jeda bertahun-tahun. Maksudku, kami sudah lamaaaaaa sekali tidak berjumpa dan tiba-tiba kami bertemu kembali seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Luar biasa bukan?

Aku menjemputnya di Stasiun Tugu. Kami makan di kampus UGM, menyusun rencana jalan-jalan, dan hal-hal manis-receh-seneng-ngebaperin lainnya. Awalnya aku pikir sehari atau dua hari setelah makhluk ini pulang, aku akan lupa dan kembali pada rutinitas seperti biasa.

Satu yang aku nggak nyangka adalah ini bakal berlangsung lama.

***

Februari.

Kamu tahu random? Ini bulan random. Menurutku ini efek kebaperan yang terjadi di bulan lalu. Baper adalah sesuatu yang tidak sehat untuk membuka tahun baru.

***

Aku nggak suka ITB dan UGM liburnya pasti beda. Pas ITB masuk, UGM baru libur. Emang nggak jodoh.

***

Masih Februari.

Mengontak Hanif lagi setelah berbulan-bulan nggak ketemu untuk ngerusuhin nanya-nanya KKN. Hanif temen SMP, sekarang di Mesin ITB. Btw, Hanif makin cakep setelah jadi anak ITB, dan makin songong.

***

Masih Februari.

Galau pada akhirnya nggak melulu negatif. Di satu sisi, galau membawa pengaruh positif, terutama dari segi imajinasi untuk nulis. Jadilah bulan ini dipenuhi dengan fiksi-fiksi yang tidak semuanya diupload di blog. Sebagian tersimpan rapi dalam hard disk laptop ---yang akhirnya rusak. Fak sih.

***

Februari akhir.

Benar-benar sudah resign dari kantor. Menghapus nomor 085743820023 yang selama ini dipakai untuk kontak orang-orang. Sampai sekarang masih suka dikirimi press release atau undangan liputan dan tawaran kerjasama tentu aja. HAHA.

Tapi makasih banyak. Dari sana cita-cita Ervina untuk masuk jurusan komunikasi bisa terbayar. Bisa jadi PR, jurnalis, sekaligus copywriter.

***

Maret.

Ikut Innovative Academy. Kenalan dengan Piyut dan kayak nemuin soulmate. Untung dia cewek. Kalo cowok udah jadian kita sih.

***

Maret.

Ada #NostalgiaTwitter jadi trending topic. Ya ampun Twitter! Sampai sekarang @ervinalutfi masih aktif di Twitter dan Twitter adalah masa SMA-ku banget. Ngomongin Twitter pasti nggak lepas dari... fragmen di Bandung.

Shit. Gue bisa mati penasaran kalau kayak gini ceritanya sih.

***

April.

Untuk kesekian kalinya ketemu Koh Yansen dan selalu dibikin ngiri dengan kehidupan startup. Wkwk. Meski doi selalu bilang #startuplifesucks tapi sucksnya itu lho! April bisa juga dikatakan sebagai bulan-bulan di mana kehidupan kampusku mulai dihabisin di EDS dengan berbagai acara jalan-jalan dan buang-buang uang.

Ikut DBS Challenge: Change Asia Today.

Diundang ke WPP Stream.

Ikut berbagai acara GDG dan GBG. Terakhir disibukkan bikin Startup Weekend yang baru pertama kali di Jogja. Antara seru, capek, dan tai banget.

***

Masih April.

Bikin resolusi untuk lebih banyak baca buku dan ngurangin kopi.

***

Kami datang ke Hyatt seperti anak-anak cupu kurang maen. Ketika semua orang megang bir, kami cukup minum jus jeruk. Mas Ade bahkan minum susu plain UHT. Harusnya cuma Piyut dan Mbak Nisa yang dapat undangan. Tapi atas nama solidaritas, semua orang yang bisa datang diajak. Bahkan Lucgu sampai harus memakai tongkat untuk datang ke sana. Wkwk.

Aku anak baru dan di antara mereka aku paling asing. Tapi karena mungkin kami adalah anak-anak yang dilahirkan dari "rahim" yang sama dan mimpi-mimpi sinting serupa, kami cepat akrab. Kubilang tadi, harusnya yang dapat undangan memang cuma Piyut dan Mbak Nisa. Maka kami pun cuma dapat satu kamar yang harusnya diisi berdua. Tapi seingetku di Calova bawa 4 orang dan Iwak bawa 4 orang juga. Jadi silakan dibayangkan gimana kami tidur akhirnya.

Terakhir kali aku bobok-bobok sehotel sama lelaki bukan muhrim (astaghfirullah!) adalah waktu SMA. Setelah kuliah aku pikir hal seperti itu tabu. Tapi malam itu semua ketabuan itu hilang. Wkwk. Mereka tidur di karpet. Cuma Lucgu yang dapet prioritas sofa karena doi kayak difabel. Yang cewek tidur di ranjang. Esoknya karena sarapan pakai kupon, terpaksa Piyut dan Mbak Nisa bergantian nyolong makanan untuk kami. Wkwk.

Di tengah-tengah acara aku masih sempat kuliah karena harus presentasi dan mengikuti sesi sharing di kelas Mas Fuad. Kami menyebutnya 306 Stories.

***

Post Instagram 28 April.

"Selama saya kuliah di UGM, kedatangan saya ke kelas semata-mata untuk presensi. Jarang sekali saya berharap saya akan mendapatkan ilmu baru dari kuliah dosen yang kira-kira nggak seflat yang tertulis dalam textbook. Kedua, saya hampir tidak pernah berpikir saya kuliah untuk bertemu teman-teman. Tapi di kelas ini, kedua hal yang hampir mustahil itu terjadi juga. I got something new ---unusual, insight, contemplation--- from the lectures. And the second thing is, I missed everyone ---their stories, our laughing, and every particularly things happened between us. Let the days come and go, but we always start it with once upon a time.."

306 Stories mengubah perspektifku sekali mengenai semua hal tentang kampus dan teman-teman di sini. Aku sudah kuliah ratusan SKS tapi rasanya cuma 3 SKS ini yang benar-benar berarti dan mengubah banyak hal mengenai pikiranku. Ironis yah. Padahal aku kuliah psikologi.

***

Bersambung di bagian dua.


Photo Source.

You May Also Like

0 comments