Wednesday, December 28, 2016

Fragmen Kesekian Desember


Ra, ini bukan baru sehari atau dua hari lalu saya mengenal kamu dan sejujurnya saya mulai bosan dengan semua basa-basi yang tidak perlu.

***

Re tidak suka basa-basi. Dan kadang, pada ketidaksukaan dia terhadap basa-basi itu, ia menyakiti banyak orang. Aku sendiri berusaha paham mengapa surat itu baru kubaca hari ini ---semuanya salahku. Dan benar meski tidak sampai tuntas aku membacanya; kita memang bukan sehari atau dua hari lalu saling kenal. Dan tidak salah juga jika mungkin Re sudah mulai bosan. Aku sendiri sudah berapa musim hujan dan berapa Desember kita lewati seperti ini.

Re menyebut ini seperti fragmen. Ia terdiri atas potongan-potongan; bukan satu cerita yang utuh. Ada masanya di mana fragmen itu mengandung cerita menyenangkan. Ada pula yang tidak. Tak jarang fragmen itu terpotong jeda yang cukup lama. Lalu berlanjut lagi, hingga aku sendiri tidak paham bagaimana menyusunnya agar ini menjadi sebuah cerita. Mungkin ia juga. Itu sebabnya dia mulai bosan.

***

"Saya pikir yang di Jogja kemarin sudah terakhir, setelah itu tamat."
"Kamu kenapa bicaranya begitu?"
"Hahaha. Saya tidak tahu. Aneh sekali. Saya mulai menggunakan kata ganti saya untuk menyebut diri sendiri."
"Kamu menyindir saya?"
"Enggak."

***

"Saya melihat vlog kamu."
"Lalu?"
"Kamu berpikir saya tidak bisa atau tidak mau diajak ke konser atau festival seni?"
"Hmm bukannya memang iya?"
"Saya suka ke konser. Saya suka musik-musik indie, pop alternative, folk, apa saja."
"Sejak kapan, Ra? Hahahaha."
"Sejak lama. Jadi, kapan kamu akan mengajak saya ke konser Payung Teduh?"
"Kenapa Payung Teduh?"
"Kamu suka, kan? Bahkan demi ke sana kamu pergi berdua dengan mahasiswa DKV ISI itu."
"Hey, dia designer saya, Ra. Hahaha. Lagipula dia anak kecil, seperti pergi dengan adik saya. Kami sedang banyak project jadi memang harus banyak-banyak quality time dan membangun chemistry."
"Saya tidak apa-apa kamu pergi dengan dia."
"Memang seharusnya begitu kan?"
"Ya sih."
"Sudah santai aja, kapan-kapan saya ajak kamu nonton konser.. kalau kita ketemu dan sedang ada pertunjukan malam itu. Saya tutup teleponnya, yah?"
"Bye."

***

Ini bukan sekali atau dua kali saya menunggu hujan, sambil berpikir bagaimana saya harus menutup cerita panjang kita yang tidak selesai-selesai. Fragmen ini sudah sangat rancu. Sekeping di Jogja, sekeping lagi di Jakarta, sekeping lagi di Bandung. Sisanya berceceran di Semarang dan sepanjang jalanan Ubud ke Seminyak. Ra, saya bukan anak kecil yang suka bermain-main apalagi menunggu untuk waktu yang tidak bisa ditentukan kapan akhirnya.

***

Rumah teman Re di Dago Timur. Aku pernah sekali ke sana, sewaktu mengantarnya pulang bersama Re yang sedang liburan di Bandung. Setelahnya aku sedikit menyesal karena tidak menjalin pertemanan yang cukup akrab. Padahal dia sahabat Re, dan sikapnya baik terhadapku.

"Hai, Ra. Maaf yah, lama nunggunya?"
"Tidak apa-apa. Sebenarnya saya tidak ingin lama-lama, tapi saya ingin mendengarnya langsung dari kamu. Kamu pasti tahu."

Teman Re menatapku lama. Dia pandangi lurus wajahku dari balik kacamatanya yang berbingkai tebal. Aku yakin dia tahu sesuatu.

***

Aku tahu Re baru saja pulang dari Paris sewaktu film garapannya dengan teman-temannya yang alumni IKJ menang di suatu kompetisi bergengsi di sana. Ia di Jakarta berhari-hari setelah itu, ke tempat-tempat yang suka sekali ia datangi. Aku tahu semuanya karena dia begitu aktif di media sosial. Aku melihatnya, tapi dia tidak menghubungiku, apalagi menemuiku.

Sebelum surat itu kusadari, kupikir perginya ia hanya sekadar karena ia sedang sibuk atau bosan. Re orangnya cepat bosan. Aku tahu itu sebab aku mengenalnya bukan baru sehari atau dua hari ---sudah bertahun-tahun sejak SMA.

"Aku punya dua buah alamat, yang satu di Ubud, yang satu di Canggu. Aku nggak ngerti jika selain di kedua tempat ini dia ada di mana." Teman Re memberiku dua buah alamat di Bali. "Aku juga sudah lama nggak ketemu dia. Terakhir aku ketemu sewaktu aku di Bali. Kami ketemu di Deus dan dia mengajakku ke tempat ia tinggal di Canggu. Setelah itu dia memang sempat bilang akan beberapa waktu stay di Bali karena harus menggarap film pendeknya. Tapi itu lama sekali, Ra. Sebelum dia dan teman-temannya ke Paris. Sepertinya nggak mungkin kalau dia masih di sana. Dia udah pulang."
"Dia nggak ada di rumah."
"Kamu mau apa sih?"
"Menjawab pertanyaan dia."
"Kamu tahu Re itu sedikit sinting efek kebanyakan bergaul dengan teman-temannya yang.. yah kamu tahu sendiri. Jadi, kalau dia menghilang seperti ini, harusnya kamu tidak perlu panik."
"Tapi biasanya dia tidak memberi saya surat."
"Baiklah terserah kamu, Ra."

***

Mudah sekali sebenarnya menghilang dari kamu. Kita ini orang asing, terpisah dengan jarak yang jauh sekali. Dan kamu tidak tahu apapun dalam diri saya selain yang kamu lihat di social media. Ra, kita adalah dua orang asing yang berjalan sendiri-sendiri. Dan pada perjalanan kita masing-masing, kita pernah dipertemukan. Hanya bertemu. Sudah itu saja. Setelahnya kita berjalan sendiri-sendiri kembali, seperti seharusnya.

***

"Saya baru membaca buku Soe Hok Gie."
"Saya tahu dia."
"Kamu tahu dia?"
"Iya lah. Saya membaca bukunya sejak SMA. Dia mahasiswa yang keren pada zamannya."
"Kamu tahu dia pria romantis?"
"Maksud kamu?"
"Hahaha yaudah lupakan."

Kami di Prawirotaman. Jam di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul dua. Sudah pagi. Kami pergi dari sore tadi. Sudah mengitari seluruh jalanan Jogja, menikmati kuliner-kuliner yang sedang ngehits bahkan sampai ke pelosok Imogiri, terakhir menikmati bir di Prawirotaman setelah kenyang makan di Warung Bu Ageng.

"Sebenarnya saya paling suka di Jakarta."
"Kenapa?"
"Di sana orang menikmati bir sebagai seni, seperti di Bali."
"Di mana yang paling kamu suka?"
"Beer Garden, SCBD."
"Kapan-kapan saya ajak kamu ke sana. Itu tidak jauh dari kantor."
"Saya tahu."

Besok pagi aku pulang ke Jakarta dengan pesawat paling pagi. Aku nggak yakin bisa bangun, tapi menurut ide Re sebaiknya aku memang nggak usah tidur. Setelah ini kita ambil barang di hotel lalu ke bandara. Itulah kenapa hingga jam segini kami masih di sini. Bicara random apa saja, seolah ingin merangkum jeda yang telah kami lewatkan berbulan lamanya tidak bersua.

"Kerja capek yah?"
"Ya.. sedikit. Tapi kalau kita cinta, sepertinya capeknya nggak berasa. Apalagi dengan kerja kita bisa senang-senang seperti ini?"
"Kamu materialistis sekali, Ra."
"Memang kamu nggak?"
"Nggak tahu. Hahaha. Tapi saya tidak mau kerja."
"Kenapa?"
"Saya mau jadi seniman aja."
"Itu juga pekerjaan."
"Tapi saya cuma melukis dan membuat film."
"Beberapa orang bekerja dengan cara seperti itu, Re."
"Tapi saya pasti diusir Ayah dan Ibu kalau bilang mau jadi seniman. Hahaha. Susah sekali, Ra, lulus dari kampus bangsat kayak UGM. Saya mau gila rasanya."
"Coba kamu fokus. Jangan main-main terus."
"Saya nggak main-main. Tadi kamu sendiri bilang beberapa orang bekerja dengan cara seperti itu; melukis, membuat film. Sekarang kamu bilang main-main?"
"Sudah.. sudah.. kamu kebanyakan minum. Kita pulang aja yah?"
"Nanti kamu nggak bangun. Kamu nggak mau pulang ke Jakarta yah? Kamu mau tetap di sini? Kamu tidak takut dipecat karena nggak ngantor?"

Re sepertinya kebanyakan minum dan dia benar-benar ketiduran di mobil. Aku meninggalkannya di parkiran hotel sementara aku mengemasi barang-barang. Tapi sekembalinya aku ke parkiran dia sudah ceria dan menggenggam sebotol minuman bersoda yang didapat dari Circle-K tak jauh dari sini.

"Kamu tega sekali ninggalin saya di mobil sendiri. Kalau saya diperkosa gimana?"
"Hahaha. Jangan aneh-aneh."
"Ra, saya serius."

Tapi ekspresi Re nggak pernah bisa bohong. Kami tertawa sepanjang perjalanan hingga bandara.

"Kamu yakin bisa nyetir sendiri pulangnya?"
"Bisa."
"Mending suruh Angga jemput."
"Angga bangun jam 9 pagi, itu paling pagi."
"Atau siapa aja yang bisa jemput ke sini?"
"Jangan aneh-aneh. Haha. Meski Sim A saya ditahan Ayah tapi saya bisa nyetir kalau cuma sampai rumah. Bandara ke Condongcatur tidak jauh, apalagi subuh-subuh begini nggak ada kendaraan."
"Tapi kamu habis mabuk."
"Saya nggak mabuk yah!"
"Kamu habis minum."
"Kamu juga!"
"Saya cuma dikit."
"Saya minum tapi nggak pernah mabuk, dan saya tidak merokok."
"Yaudah terserah."
"Hati-hati."
"Kamu juga."

Terakhir dia memelukku dan memasukkan selembar kertas ke dalam kantong jaket yang aku kenakan; sebuah surat.

Lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi;
Kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya
Kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
Ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita
Apakah kau masih akan berkata,
"Kudengar derap jantungmu."
Kita begitu berbeda dalam semua;
Kecuali dalam cinta.
(Gie)

***

Bersambung jika tidak malas menulis lagi.



Photo Source
Share:

0 comments:

Post a Comment