Dec 29, 2016

Fragmen di Canggu



Canggu sebenarnya bukan tempat yang asing. Dulu sekali ketika tempat ini belum seramai sekarang, Ayah kerap mengajakku mengunjungi salah satu temannya yang tinggal di Canggu. Dulu sekali Canggu adalah sawah-sawah yang hijau, mungkin lebih indah dari Ubud. Sebab ada laut juga tak jauh dari sini. Biasanya kami tinggal di salah satu rumah penduduk yang disewakan. Ada satu atau dua turis, tetapi tidak seramai sekarang. Aku lupa sejak kapan Canggu menjadi sedemikian padat. Tetapi meski jalan-jalannya kecil, dan sesekali masih ada mobil wisatawan yang terperosok ke sawahnya, bagiku Canggu adalah tempat paling ideal.. untuk menghilang.


Ya aku ingin menghilang saja dari keriuhan. Meski aku tahu di sini juga sangat riuh. Aku suka makanan-makanan Thailand yang banyak dijual di kedai-kedai sekitar Jalan Pantai Berawa, tapi paling suka dengan club-clubnya, juga orang-orang di sana. Paling favorit adalah Deus Ex-Machina. Tapi aku juga pernah ke Old Man’s bersama teman-teman SMA sewaktu kami liburan. Sebagian orang yang kukenal menyukai Seminyak atau Kuta ketika mereka ke Bali. Sesekali saja aku mengajak mereka ke Ubud. Biasanya ketika ada festival, atau di saat-saat tertentu. Ketika aku mengerjakan film dengan Ega, aku memilih untuk tinggal di Canggu dan Ubud, bergantian. Di Canggu kami mendapat sebuah homestay yang harga sewanya fantastis. Murah. Iya, sangat murah kurasanya. Sementara di Ubud kami tinggal di rumah Wayan, teman kami, yang juga galerinya.

Oh ya, aku sudah seminggu di Canggu dan aku sama sekali tidak memberitahu siapapun kecuali Ega. Ega sedang di Hong Kong. Satu lagi film pendeknya masuk ke festival dan sebagai teman sejak kecilnya aku merasa bangga sekali. Ega bilang padaku jika aku mulai stress mungkin sesekali aku harus belajar surfing di Berawa atau Pantai Canggu. Tapi itu bukan ide menarik. Aku lebih suka ikut sembahyang di Pura Tanah Lot atau sesekali menghadiri meditasi rutin yang dilakukan anak-anak Wayan di Ubud.

***

Ra mencariku. Setidaknya begitu yang dikatakan melalui pesan-pesannya yang tidak pernah kubalas. Aku memang sengaja menghilang dan salah satu alasan menghilangku ini adalah dia. Kubilang hanya salah satu, sebab ada seribu satu alasan lain yang tidak bisa kujelaskan. Aku bingung. Bagaimanapun aku tidak menemukan alasan yang bagus untuk mengakhiri hidup. Sama halnya aku tidak pernah menemukan alasan yang bagus untuk tetap hidup. Jadi aku memilih ada di sini. Sebab di sini kadang-kadang aku merasa hidup sepenuhnya ---ketika menghabiskan malam di club-club yang konon adalah surganya para hipster di Bali. Tetapi kadang-kadang aku merasa sangat “pulang”, ketika menghabiskan waktu di pura atau mengikuti meditasi bersama Wayan. Entahlah aku sudah tidak bisa lagi menjelaskan kehidupan religiku. Tapi setidaknya aku tidak merasa menyakiti orang lain.

***

Senja mengingatkanku kepada perpisahan yang diulur-ulur
dan kepada keraguan antara kehadiran dan kemusnahan.
Mengapa tidak sekaligus mati sehingga orang tak sempat meneteskan air mata.
Aku terus menghindari senja.
Senja yang membawa sedih selalu.
(Subagio Sastrowardojo)

***

Dulu sekali aku merasa aku takut dewasa. Masa SMA-ku sangat menyenangkan. Aku tidak melihat orang tua yang terlibat sengkarut konflik, teman-teman yang bangsat, dan semua hal yang aku tidak suka. Jalinanku dengan Ra dulu pun sangat sederhana ---tidak seperti sekarang. Maka aku menganggap dewasa adalah sebuah teror.

Tapi kini, pelan-pelan aku mulai paham bahwa manusia memang harus dewasa. Sebab dengan dewasa ia dibebaskan. Menjadi dewasa membawa konsekuensi kita untuk menentukan sendiri setiap pilihan yang ingin kita ambil. Dewasa memberi kita pilihan-pilhan, yang meski pada beberapa waktu ia sangat terbatas, tetapi membebaskan. Aku membayangkan jika saat ini usiaku bukan 23 tahun aku mungkin tidak seberani ini untuk pergi dari rumah. Aku tidak mungkin bisa melepaskan penatku dengan gelas-gelas wine, atau bahkan menghabiskan hidup di Bali ---yang kata Ibu adalah tempat yang seharusnya tidak perlu dikunjungi jika tidak perlu sekali. Tapi kurasa Ibu maupun Ayah terlalu naif. Mereka pernah tinggal di Jakarta, mereka pernah tinggal di Surabaya, di Semarang. Itu bukan kota dengan manusia-manusianya yang polos dan lucu. Jadi, kupikir itu hanya karena mereka sudah pernah mengalami masa di mana manusia sedang bebas-bebasnya, makanya mereka tidak ingin aku mengalaminya. Cukup mereka saja. Tapi itu berlebihan. Manusia harus bereksperimen. Dan kepergianku kali ini kurasa juga bagian dari eksperimen, meski aku tidak tahu apa yang ingin aku ketahui dari hal ini. Oh tunggu, paling tidak aku ingin tahu, bagaimana rasanya melupakan Ra.

***



Bersambung jika tidak malas menulisnya.






Dec 28, 2016

Fragmen Kesekian Desember


Ra, ini bukan baru sehari atau dua hari lalu saya mengenal kamu dan sejujurnya saya mulai bosan dengan semua basa-basi yang tidak perlu.

***

Re tidak suka basa-basi. Dan kadang, pada ketidaksukaan dia terhadap basa-basi itu, ia menyakiti banyak orang. Aku sendiri berusaha paham mengapa surat itu baru kubaca hari ini ---semuanya salahku. Dan benar meski tidak sampai tuntas aku membacanya; kita memang bukan sehari atau dua hari lalu saling kenal. Dan tidak salah juga jika mungkin Re sudah mulai bosan. Aku sendiri sudah berapa musim hujan dan berapa Desember kita lewati seperti ini.

Re menyebut ini seperti fragmen. Ia terdiri atas potongan-potongan; bukan satu cerita yang utuh. Ada masanya di mana fragmen itu mengandung cerita menyenangkan. Ada pula yang tidak. Tak jarang fragmen itu terpotong jeda yang cukup lama. Lalu berlanjut lagi, hingga aku sendiri tidak paham bagaimana menyusunnya agar ini menjadi sebuah cerita. Mungkin ia juga. Itu sebabnya dia mulai bosan.

***

"Saya pikir yang di Jogja kemarin sudah terakhir, setelah itu tamat."
"Kamu kenapa bicaranya begitu?"
"Hahaha. Saya tidak tahu. Aneh sekali. Saya mulai menggunakan kata ganti saya untuk menyebut diri sendiri."
"Kamu menyindir saya?"
"Enggak."

***

"Saya melihat vlog kamu."
"Lalu?"
"Kamu berpikir saya tidak bisa atau tidak mau diajak ke konser atau festival seni?"
"Hmm bukannya memang iya?"
"Saya suka ke konser. Saya suka musik-musik indie, pop alternative, folk, apa saja."
"Sejak kapan, Ra? Hahahaha."
"Sejak lama. Jadi, kapan kamu akan mengajak saya ke konser Payung Teduh?"
"Kenapa Payung Teduh?"
"Kamu suka, kan? Bahkan demi ke sana kamu pergi berdua dengan mahasiswa DKV ISI itu."
"Hey, dia designer saya, Ra. Hahaha. Lagipula dia anak kecil, seperti pergi dengan adik saya. Kami sedang banyak project jadi memang harus banyak-banyak quality time dan membangun chemistry."
"Saya tidak apa-apa kamu pergi dengan dia."
"Memang seharusnya begitu kan?"
"Ya sih."
"Sudah santai aja, kapan-kapan saya ajak kamu nonton konser.. kalau kita ketemu dan sedang ada pertunjukan malam itu. Saya tutup teleponnya, yah?"
"Bye."

***

Ini bukan sekali atau dua kali saya menunggu hujan, sambil berpikir bagaimana saya harus menutup cerita panjang kita yang tidak selesai-selesai. Fragmen ini sudah sangat rancu. Sekeping di Jogja, sekeping lagi di Jakarta, sekeping lagi di Bandung. Sisanya berceceran di Semarang dan sepanjang jalanan Ubud ke Seminyak. Ra, saya bukan anak kecil yang suka bermain-main apalagi menunggu untuk waktu yang tidak bisa ditentukan kapan akhirnya.

***

Rumah teman Re di Dago Timur. Aku pernah sekali ke sana, sewaktu mengantarnya pulang bersama Re yang sedang liburan di Bandung. Setelahnya aku sedikit menyesal karena tidak menjalin pertemanan yang cukup akrab. Padahal dia sahabat Re, dan sikapnya baik terhadapku.

"Hai, Ra. Maaf yah, lama nunggunya?"
"Tidak apa-apa. Sebenarnya saya tidak ingin lama-lama, tapi saya ingin mendengarnya langsung dari kamu. Kamu pasti tahu."

Teman Re menatapku lama. Dia pandangi lurus wajahku dari balik kacamatanya yang berbingkai tebal. Aku yakin dia tahu sesuatu.

***

Aku tahu Re baru saja pulang dari Paris sewaktu film garapannya dengan teman-temannya yang alumni IKJ menang di suatu kompetisi bergengsi di sana. Ia di Jakarta berhari-hari setelah itu, ke tempat-tempat yang suka sekali ia datangi. Aku tahu semuanya karena dia begitu aktif di media sosial. Aku melihatnya, tapi dia tidak menghubungiku, apalagi menemuiku.

Sebelum surat itu kusadari, kupikir perginya ia hanya sekadar karena ia sedang sibuk atau bosan. Re orangnya cepat bosan. Aku tahu itu sebab aku mengenalnya bukan baru sehari atau dua hari ---sudah bertahun-tahun sejak SMA.

"Aku punya dua buah alamat, yang satu di Ubud, yang satu di Canggu. Aku nggak ngerti jika selain di kedua tempat ini dia ada di mana." Teman Re memberiku dua buah alamat di Bali. "Aku juga sudah lama nggak ketemu dia. Terakhir aku ketemu sewaktu aku di Bali. Kami ketemu di Deus dan dia mengajakku ke tempat ia tinggal di Canggu. Setelah itu dia memang sempat bilang akan beberapa waktu stay di Bali karena harus menggarap film pendeknya. Tapi itu lama sekali, Ra. Sebelum dia dan teman-temannya ke Paris. Sepertinya nggak mungkin kalau dia masih di sana. Dia udah pulang."
"Dia nggak ada di rumah."
"Kamu mau apa sih?"
"Menjawab pertanyaan dia."
"Kamu tahu Re itu sedikit sinting efek kebanyakan bergaul dengan teman-temannya yang.. yah kamu tahu sendiri. Jadi, kalau dia menghilang seperti ini, harusnya kamu tidak perlu panik."
"Tapi biasanya dia tidak memberi saya surat."
"Baiklah terserah kamu, Ra."

***

Mudah sekali sebenarnya menghilang dari kamu. Kita ini orang asing, terpisah dengan jarak yang jauh sekali. Dan kamu tidak tahu apapun dalam diri saya selain yang kamu lihat di social media. Ra, kita adalah dua orang asing yang berjalan sendiri-sendiri. Dan pada perjalanan kita masing-masing, kita pernah dipertemukan. Hanya bertemu. Sudah itu saja. Setelahnya kita berjalan sendiri-sendiri kembali, seperti seharusnya.

***

"Saya baru membaca buku Soe Hok Gie."
"Saya tahu dia."
"Kamu tahu dia?"
"Iya lah. Saya membaca bukunya sejak SMA. Dia mahasiswa yang keren pada zamannya."
"Kamu tahu dia pria romantis?"
"Maksud kamu?"
"Hahaha yaudah lupakan."

Kami di Prawirotaman. Jam di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul dua. Sudah pagi. Kami pergi dari sore tadi. Sudah mengitari seluruh jalanan Jogja, menikmati kuliner-kuliner yang sedang ngehits bahkan sampai ke pelosok Imogiri, terakhir menikmati bir di Prawirotaman setelah kenyang makan di Warung Bu Ageng.

"Sebenarnya saya paling suka di Jakarta."
"Kenapa?"
"Di sana orang menikmati bir sebagai seni, seperti di Bali."
"Di mana yang paling kamu suka?"
"Beer Garden, SCBD."
"Kapan-kapan saya ajak kamu ke sana. Itu tidak jauh dari kantor."
"Saya tahu."

Besok pagi aku pulang ke Jakarta dengan pesawat paling pagi. Aku nggak yakin bisa bangun, tapi menurut ide Re sebaiknya aku memang nggak usah tidur. Setelah ini kita ambil barang di hotel lalu ke bandara. Itulah kenapa hingga jam segini kami masih di sini. Bicara random apa saja, seolah ingin merangkum jeda yang telah kami lewatkan berbulan lamanya tidak bersua.

"Kerja capek yah?"
"Ya.. sedikit. Tapi kalau kita cinta, sepertinya capeknya nggak berasa. Apalagi dengan kerja kita bisa senang-senang seperti ini?"
"Kamu materialistis sekali, Ra."
"Memang kamu nggak?"
"Nggak tahu. Hahaha. Tapi saya tidak mau kerja."
"Kenapa?"
"Saya mau jadi seniman aja."
"Itu juga pekerjaan."
"Tapi saya cuma melukis dan membuat film."
"Beberapa orang bekerja dengan cara seperti itu, Re."
"Tapi saya pasti diusir Ayah dan Ibu kalau bilang mau jadi seniman. Hahaha. Susah sekali, Ra, lulus dari kampus bangsat kayak UGM. Saya mau gila rasanya."
"Coba kamu fokus. Jangan main-main terus."
"Saya nggak main-main. Tadi kamu sendiri bilang beberapa orang bekerja dengan cara seperti itu; melukis, membuat film. Sekarang kamu bilang main-main?"
"Sudah.. sudah.. kamu kebanyakan minum. Kita pulang aja yah?"
"Nanti kamu nggak bangun. Kamu nggak mau pulang ke Jakarta yah? Kamu mau tetap di sini? Kamu tidak takut dipecat karena nggak ngantor?"

Re sepertinya kebanyakan minum dan dia benar-benar ketiduran di mobil. Aku meninggalkannya di parkiran hotel sementara aku mengemasi barang-barang. Tapi sekembalinya aku ke parkiran dia sudah ceria dan menggenggam sebotol minuman bersoda yang didapat dari Circle-K tak jauh dari sini.

"Kamu tega sekali ninggalin saya di mobil sendiri. Kalau saya diperkosa gimana?"
"Hahaha. Jangan aneh-aneh."
"Ra, saya serius."

Tapi ekspresi Re nggak pernah bisa bohong. Kami tertawa sepanjang perjalanan hingga bandara.

"Kamu yakin bisa nyetir sendiri pulangnya?"
"Bisa."
"Mending suruh Angga jemput."
"Angga bangun jam 9 pagi, itu paling pagi."
"Atau siapa aja yang bisa jemput ke sini?"
"Jangan aneh-aneh. Haha. Meski Sim A saya ditahan Ayah tapi saya bisa nyetir kalau cuma sampai rumah. Bandara ke Condongcatur tidak jauh, apalagi subuh-subuh begini nggak ada kendaraan."
"Tapi kamu habis mabuk."
"Saya nggak mabuk yah!"
"Kamu habis minum."
"Kamu juga!"
"Saya cuma dikit."
"Saya minum tapi nggak pernah mabuk, dan saya tidak merokok."
"Yaudah terserah."
"Hati-hati."
"Kamu juga."

Terakhir dia memelukku dan memasukkan selembar kertas ke dalam kantong jaket yang aku kenakan; sebuah surat.

Lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi;
Kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya
Kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
Ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita
Apakah kau masih akan berkata,
"Kudengar derap jantungmu."
Kita begitu berbeda dalam semua;
Kecuali dalam cinta.
(Gie)

***

Bersambung jika tidak malas menulis lagi.



Photo Source

Dec 27, 2016

Fragmen Desember


Seperti yang biasa kau lakukan
Di tengah perbincangan kita tiba-tiba kau terdiam
Sementara ku sibuk menerka apa yang ada di fikiranmu

Ini baru kedua kalinya seperti ini. Tapi perempuan itu hampir bisa menebak bagaimana akhirnya. Bagaimanapun cerita fiksi akan ada endingnya, seperti drama-drama di televisi atau juga berbagai pentas teater yang sering ia tonton. Desember di Jakarta tidak sedingin di Jogja. Tapi atmosfer di manapun selalu sama. Ia selalu cemas menghitung hari, menghitung mundur pada detik-detik pertemuan.

Sial. Perempuan itu selalu lupa bagaimana awalnya. Tetapi sepertinya kini dia bukan remaja lagi ---bukan anak kecil. Dan seperti halnya orang dewasa, ia sudah tahu bagaimana hal ini akhirnya.

***

Menghitung hari. Menghitung mundur di penghujung tahun.

Sesungguhnya berbicara denganmu
Tentang segala hal yang bukan tentang kita;
Mungkin tentang ikan paus di laut
Atau mungkin tentang bunga pagi di sawah
Sungguh bicara denganmu tentang segala hal yang bukan tentang kita,
Selalu bisa membuat semua lebih bersahaja

Ia sudah tahu akhirnya. Perempuan itu menyebutnya takdir. Ia heran bagaimana setiap fragmen yang sudah acak-acakan itu tetap tersimpan rapi bahkan sejak ia SMA. Hingga kini. Bertahun-tahun setelah ia sudah meninggalkan masa putih abu-abunya. Bertahun sejak ia memutuskan menjadi dewasa.

Malam jangan berlalu
Jangan datang dulu terang
Telah lama kutunggu
Ingin berdua denganmu

***

Satu potongan kecil interpretasi lagu Mari Bercerita milik Payung Teduh yang didengarkan sejak semalam. Lagu Payung Teduh pasti diciptakan saat mereka sedang jatuh cinta. Aku sedang membayangkan suatu sore di Jogja, di pinggir Malioboro dekat Stasiun Tugu, di bawah pohon-pohonnya yang teduh di depan pelataran Gedung DPRD. Kadang-kadang di tengah lamunan itu aku juga ngebayangin suatu malam di Bandung, tak jauh dari stasiun kereta, atau di Bukit Lembang, di salah tempat ngopi dengan kepulan asap kopi dari cangkir yang berbau harum ---dengan seseorang.

Aku memutar berkali-kali semua lagu Payung Teduh sejak berhari-hari lalu. Nggak tahu kenapa. Kadang-kadang aku memutar White Shoes atau Mocca atau kadang Stars and Rabbit, tapi selalu kembali lagi ke Payung Teduh. Beberapa waktu lalu Tahta mengontakku untuk project menulis lagu. Ini akan jadi lagu kedua yang kami buat. Pertama waktu kami SMA dulu bareng Ridho dan aku nggak ngerti gimana akhirnya. Wkwk. Meski aku sempet denger demonya yang cukup bagus, tapi kayaknya akhirnya kami sibuk cari kuliah dan lupa pada project itu. Nah, yang kedua ini seharusnya jadi, dan harus bagus.

Tapi Tahta harus nunggu sampai aku balik dari Bandung. Hehe.




Photo Source