Saturday, March 12, 2016

Rencana ke Jogja


Aku sebenarnya nggak merencanakan ke Jogja di penghujung masa liburan seperti ini. Selain karena sebenarnya aku butuh tenaga ekstra buat menghadapi minggu pertama kuliah, juga karena keuanganku sedang menipis. Oke, ini klasik sekali untuk anak kost.

"Nol budget deh." Dia mencoba meyakinkanku sekali lagi.

"Se-nol-nol-budget-nya tuh yang namanya liburan, kita tetep butuh duit, Fa. Buat transpor ke sana, transpor di sana, biaya hotel, biaya tiket-tiket masuk ke tempat wisata, makan.." Gue mulai mulai mikir keperluan apa lagi yang mengeluarkan biaya. "Oleh-oleh?"

"Anjir lu mikir oleh-oleh segala," ujarnya menggerutu. Aku ketawa tiap liat dia kesel kayak gitu.

"Kecuali gini, bro.. lu bayarin keperluan gue di sana. Yaa.. yang dasar-dasar aja lah, makan, tidur, transpor kita bagi dua. Gimana?"

Temenku akhirnya diem setelah dari tadi ngerecokin aku dengan hal-hal soal liburan, ke Jogja, dan sebagainya. Mungkin dia ngerasa keberatan kalau harus nanggung makanku segala. Ah, tapi dia rich kid. Aku yakin 100% hal-hal semacam nraktir temen makan, apalagi di Jogja, nggak akan bikin kantong dia jebol.

"Tapi.." Dia akhirnya bersuara. "Kita naik kereta yang paling murah."

"Sok atuh kita berangkat!" Aku terkekeh membenarkan letak kacamataku. Temenku itu mendengus kesal. Hari ini usai mengelana nggak jelas, kami menghabiskan senja yang selalu cantik di Bukit Moko, Cimenyan.

***

Kalian pasti heran mengapa ada orang yang sebegitunya mau berkorban untuk sebuah acara liburan yang terkesan maksa ini. Hm biar kujelaskan. Mulanya adalah di Pasar Seni ITB taun lalu. Kami ---aku, temanku tadi, dan tiga teman kami yang lain, seperti halnya mahasiswa ITB pada umumnya, memutuskan datang. Yang utama, karena mungkin kami nggak tahu harus ngapain di akhir pekan kayak gini ketika tugas kuliah terlalu menjenuhkan buat diajak bercumbu. Kedua, mungkin karena teman kami, Reno, punya gebetan anak DKV asli Bali yang kebetulan jadi panitia di acara ini. Praktis kami ke sana sebagai bentuk dukungan moral, sekaligus mencari hiburan.

Dari kami berlima, aku, Rafa, Fadhil, Khaira, dan Reno, tak satupun yang memiliki 'someone' untuk diajak berkencan di akhir pekan. Kecuali Fadhil dan Khaira, itupun keduanya ogah mengakui bahwa ada sesuatu di antara mereka. Reno masih dalam usaha pendekatannya dengan anak DKV itu. Rafa, ah, dia mah dari dulu ambisnya cuman mentok di ngejar indeks, bukan ngejar cewek. Kalau aku, hmm nanti kalau udah saatnya kalian tau sendiri.

Kami mungkin jomblo, tapi percayalah sejak diresmikan pertama kali oleh Walikota Bandung, kami belum pernah ke Taman Pasupati. Rafa bahkan pernah memaki-makiku karena pernah dengan sengaja aku berniat mengajaknya ke sana. Hahahaha!

Pasar Seni mungkin bukan sesuatu yang menarik buat Rafa ---buat kami semua kurasa. Cuma Reno yang tertarik, itupun karena ada faktor lain. Kami berangkat berlima, tapi sampai di sana, tinggal Rafa yang kutemukan berjalan mengekorku. Kami persis pasangan gay yang keberadaannya banyak di Bandung. Aku nggak ngerti gimana kejadiannya dan bagaimana awal mulanya, tapi di sana perhatian Rafa benar-benar teralihkan oleh suara gelak tawa. Iya, dia mulanya mendengar percakapan beberapa orang, lalu mereka tertawa. Tertawa yang berisik ---seperti kondisi di sana. Tapi, yang paling nggak kusangka, Rafa justru mencari sumber suara.

Dan di sana.. di ujung sana, seseorang dengan rok pendek, kaus bertuliskan merk terkenal pabrik kata-kata asal Bali, sepatu boots, dan rambut yang dicat pirang tergelung, lengkap dengan bandana yang berwarna menyala ---mirip dengan tas Jansport kecil yang ada di punggungnya--- mampu mengalihkan perhatian Rafa. Aku tidak kenal siapa perempuan itu. Tapi aku berani bersumpah, malam itu, untuk pertama kalinya aku melihat temanku Rafa memperhatikan perempuan.

Dua puluh tahun dia tinggal di Bandung, yang konon terkenal mojang-nya nggak nguatin, baru pertama kalinya sejak aku mengenalnya, malam ini fokusnya teralihkan oleh perempuan ---yang menurutku biasa aja. Tapi perempuan itu sungguh terlihat bahagia. Dia tertawa, mereka tertawa, lepas sekali, entah menertawakan apa. Dan Rafa sangat tertarik. Beberapa saat ia terpaku pada jarak yang kesekian. Ia bergeming, bahkan setelah kuguncang-guncang bahunya. Jujur aku takut dia kesurupan.

***

Berbulan setelahnya aku mendapati jawaban atas misteri di malam Pasar Seni ITB itu. Perempuan itu bernama Nadhira. Iya, Nadhira, mahasiswa UGM, teman Rafa semasa SMA katanya. Aku berteman dengan Rafa sejak SMP, tapi aku nggak kenal siapa perempuan itu. Mungkin karena sejak SMA keluargaku pindah ke Tangerang, makanya aku nggak begitu paham dengan siapa aja Rafa bergaul selama SMA. Tapi tak hanya aku, ternyata teman-temanku yang lain juga tidak kenal siapa perempuan itu. Kami berlima bersahabat sejak SMP, dan tetap mereka tidak tahu siapa itu Nadhira.

"Bukan orang Bandung, cuma kenalan aja dulunya," aku Rafa setelah terdesak oleh kami.

"Uuu kenalan..." Koor serentak dariku, Fadhil, dan Khaira membuat Rafa gusar.

"Apa sih kalian?"

"Kenalan aja, sih, Ra, masa nggak boleh?" Aku menyenggol bahu Khaira yang sedang menyeruput green tea latte. Dia nyaris tersedak.

"Sial lu! Hahaha!" Khaira kesal, tapi tetap tertawa.

Pasalnya sudah beberapa minggu ini kami memerhatikan gelagat yang berbeda dari Rafa ---dia jadi lebih sering membuka ponselnya. Entah karena level keponya kami berlebihan atau gimana, kami diwakili Khaira akhirnya memutuskan membuka ponsel Rafa ketika si empunya ke toilet, dan.. taraaa! Terungkap semua. Seseorang di aplikasi messenger ponselnya mengalihkan dunia Rafa dari kami. Seseorang yang ternyata juga pernah mengalihkan dunia Rafa ketika di Pasar Seni. Iya, gadis dengan sepatu boots dan rambut yang dicat pirang itu. Dan namanya Nadhira, mahasiswi UGM, teman Rafa dari SMA.

Rafa nggak bisa mengelak dari bullying yang kami lakukan, meskipun ia tetap tutup mulut. Tapi aku ini temannya dari SMP, yang paling dipercaya Rafa dibanding mereka semua. Suatu hari dia pasti cerita semuanya. Aku yakin itu.

***

"Jujur aja gue udah lama banget ngga ketemu dia.. Empat tahun mungkin?" Sebuah kafe di Dago menjadi tempat favorit kami kalau lagi berdua ---lagi-lagi kami seperti pasangan gay. Rafa akhirnya bercerita semuanya, meskipun aku merasa dia memotong beberapa bagian dalam cerita. Tapi aku cukup paham. Aku cukup menangkap maksudnya.

"Kenapa lu harus ninggalin dia? Emm maksud gue, memutus kontak dari dia?"

"Jujur gue kesel sih, Fiq. Gue ngerasa kita tu berangkat dari titik yang sama, tapi dia sampai dengan selamat, sementara di sini gue ngerasa kelempar banget gitu," Rafa bercerita dengan raut muka serius. FTTM bukan mimpi seorang anak yang gagal di matematika ketika tes masuk SMA. Menjadi engineer pasti mengerikan. Aku berusaha paham itu.

Rafa diam, memandang lurus ke depan seperti menerawang, menembus garis waktu yang membawa ingatannya ke masa-masa di mana dia masih menginginkan masuk ke sana; FK UGM.

"Gue mungkin iri sih, sama dia," ujarnya lagi. "Lu inget nggak, gimana dia ketawa waktu itu?"

Aku mengangguk. "Lepas. Kayak nggak ada beban apapun."

"Ya dia selalu gitu, Fiq. Semacam lucky-girl gitu lah. Nggak pernah ada sialnya. Lu bayangin aja dia dengan mudahnya masuk FK, ya meskipun di Undip. Tapi dia lepas dengan seenaknya, cuma dengan alasan yang pengin FK tu ayahnya, bukan dia. Trus katanya dia masuk IKJ, karena suka sama film."

"Kok jadinya UGM?"

"Nggak keterima sih kayaknya."

"Ya udah, berarti kalian tu sama! Nasibnya sama-sama kelempar di tempat yang kalian nggak begitu suka. Trus masalahnya di mana?" tanyaku heran.

"Enggak tau sih waktu itu gimana. Ya maklum lah, TPB nggak pernah mudah dan lumayan bisa bikin kacau pikiran," ujar Rafa berusaha jujur. Aku memaklumi semua penjelasan dia dan menggunakan nalarku yang paling praktis, mungkin dia kesel aja sama cewek itu, akhirnya memutuskan untuk menyudahi pertemanan sesimpel nggak pernah ngontak dan nggak pernah nemuin, bahkan ketika Rafa ke Jogja berkali-kali dan ke kampus tempat si cewek itu kuliah. Kejam yah perasaan memang.

"Tapi, Fa. Kok tiba-tiba lu pengin ngontak dia lagi?"

Rafa melihat lurus ke arahku, lalu menunduk. "Gue nggak menampik kalau selama gue kenal sama dia, dia itu temen yang nyenengin, unik. Bisa dibilang temen spesial lah. Gue semacam ada ikatan tertentu gitu sama dia. Nggak ngerti sih, kenapa. Tapi gue ngerasa dia salah satu temen deket gue aja. Dan gue ngerasa bersalah atas pertengkaran kita yang sebenernya nggak penting itu."

"Kalian berantem?" potongku.

"Gue sih ngeliatnya gitu, awalnya." Rafa menghela napas. "Gue pikir dia marah, atau nyimpen dendam, atau semacam itu ke gue. Makanya gue selalu sungkan buat sekadar nyapa dia. Padahal gue selalu liat post dia di Instagram, check-in di Path, twit dia, banyak sih. Gue bahkan masih nyimpen nomer hape dia di kertas kotretan gue jaman SMA." Rafa diam sebentar.

"Terus?"

"Tapi gue nggak berani nyapa dia duluan, karena gue pikir dia marah atau masih kesel sama gue."

"Hmm lalu?"

"Sampai akhirnya gue ketemu di Pasar Seni itu. Enta momennya yang pas atau gimana, hari-hari itu emang gue kayak lagi kepikiran jaman-jaman SMA gitu. Dia salah satunya," Rafa bercerita serius. "Akhirnya gue ngechat dia buat kali pertama. Dan sumpah, Fiq! Kita tu kayak nggak ada apa-apa gitu. Kayak nggak pernah terjadi apapun. Kayak kita baru dua hari nggak ngobrol. Jadi, selama ini gue tu cuma terkurung sama pikiran-pikiran negatif gue sendiri. Dia tu nggak marah sama gue, tetep kayak Nadhira yang gue kenal dulu!"

Cerita Rafa terdengar antusias. Aku tersenyum tipis melihat ekspresi sahabatku. Berjam-jam kemudian, cerita kami dipenuhi nostalgia Rafa bersama perempuan yang dipanggil 'Nad' itu. Rafa jarang sekali bercerita mengenai apa yang dirasakannya. Terakhir aku mendengarnya bercerita seperti ini, terlebih dalam topik soal perempuan, adalah ketika TPB. Seorang gadis dari Depok berhasil masuk ke lingkaran pertemanannya. Tetapi setelah di tahun kedua gadis itu memutuskan pindah ke UI ---mengejar mimpinya masuk FK seperti Rafa, aku tidak pernah lagi mendengar cerita soal dia. Sampai hari ini ketika Rafa bercerita panjang lebar lagi. Aku yakin terjadi sesuatu yang tidak biasa, terlihat dari sorot mata sahabatku yang menyala. Nadanya antusias mencerita percakapan demi percakapan mereka.

Sampai akhirnya di penghujung liburan, ketika sebagian teman sudah di Bandung, dan duitnya menipis untuk sekadar ongkos jalan-jalan, ia mengajak kami liburan, ke Jogja. Semua menolak dengan alasan serupa; udah capek, nggak ada duit pula.

"Kenapa baru sekarang sih lu bilang?" Fadhil.

"Lu kan tau gue ke Surakarta selama liburan, kenapa nggak dari kemarin-kemarin?" Khaira.

"Sorry banget, Fa, gue udah ada janji jemput Jenny di Jakarta. Dia dari Denpasar ke Jakarta dulu soalnya." Reno.

Tapi mereka tidak tahu ada apa sebenarnya dengan Rafa.



Photo Source
Share: