Thursday, March 10, 2016

Pertemuan Selanjutnya


Selama ini aku berpikir manusia diciptakan Tuhan memiliki ingatan lengkap dengan pasangannya; kemampuan untuk melupakan. Dalam hidupnya, manusia ditakdirkan Tuhan untuk mengalami kejadian ---sesuatu yang tak bisa dihindarinya. Dalam setiap hal yang dialami, manusia akan mengingat.

Namun, tak semua hal menyenangkan untuk diingat. Sebab itu Tuhan menciptakan kemampuan untuk melupakan. Agar kehidupan manusia seimbang. Agar manusia bisa memilih mana hal-hal dalam dirinya yang bisa dilupakan, mana yang akan dikenang selamanya dalam ingatan. Tapi pada satu kejadian bernama jatuh cinta, kurasa Tuhan tidak memberikan pilihan.

"Jare wes lupa.." Rendy mengaduk es tehnya. Mie ayam kantin Fisipol yang legendaris itu ludes dilahapnya sambil mendengar ceritaku yang panjang tentang Rafa.

"Nggak ngerti, Ren.. Aku tu udah give up banget habis kita ribut itu. Kita juga udah nggak kontakan sejak aku semester dua kuliah. Sekarang aku udah mau semester enam, bayangin!" ujarku lagi. "Tapi dia ngehubungin aku lagi.. setelah selama ini aku pikir kita tu udah saling lupa kita pernah kenal satu sama lain.."

"Hm trus?"

Aku diam. Memandang lurus ke arah temanku yang ekspresinya selalu polos dan datar itu.

"Trus aku nggak menampik kalau ternyata aku kangen banget sama dia.. huhu.."

"Jangan nangis," katanya. "Nanti disangkanya aku kurang ajar ke kamu lho."

Kantin Fisipol mulai sepi menjelang libur panjang semester. Hanya satu-dua orang yang masih di kampus. Sebagian besar mahasiswa sudah pulang kampung. Kalaupun belum, mereka nggak ke kampus. Aku pun menjadwalkan ke kampus hari ini cuma untuk ketemu Rendy ---yang katanya ada interview dengan orang CDC Fisipol, untuk cerita. Meskipun aku tahu cerita dengan Rendy nggak membuahkan solusi apapun, setidaknya aku bisa cerita tanpa diinterupsi.

"Trus, kemarin kalian ketemu ngapain aja?" tanya Rendy. Aku menyeruput es tehku yang tinggal setengah.

"Makan."

"Terus?"

"Ke Kopma."

"Lalu?"

"Ke hotel."

"Ngapain?" Ekspresi Rendy berubah.

"Nganterin aja."

"Trus?"

"Udah. Mereka mau ngecamp di pantai-pantai gitu, Ren. Ya, aku cewek sih, masa ikut?"

"Jadi mung gara-gara makan kamu jadi galau begini?"

"Ya enggak.. Enggak karena makannya."

"Lha terus karena apa?"

"Ya karena kita ketemu! Kita saling kontak lagi!"

"Tapi ya habis ini dia pulang ke rumahnya. Paling nanti nggak kontak lagi."

Aku diam mencerna kalimat Rendy. Bener juga. Paling nanti nggak kontak lagi. Duh, lalu buat apa empat bulan terakhir ini kami berkomunikasi, chatting panjang-panjang, teleponan, ketemu, kalau ujung-ujungnya ngilang lagi?

"Tapi besok lusa aku ketemu dia lagi," ujarku sambil mengaduk-aduk minumanku yang tinggal menyisakan es batu.

"Jadi, kamu nggak pulang mung nggo nunggu dia say goodbye besok lusa?" ujar Rendy. Kali ini ia menatap wajahku lurus.

"Enggak juga," kataku jujur. "Pertama, rumahku tu ya di Condongcatur. Kalaupun Ibu sama Ayah tinggal di Banjarmasin, itu karena kerjaan. Yang ngekost tuh ya, mereka. Jadi, terminologi 'pulang', nggak cocok buat aku. Kedua, adik-adik aku ada di sini, dan mereka udah mulai sekolah lagi. Pun kalau akhirnya aku ke Banjarmasin, paling-paling nunggu mereka ada tanggal merah biar ke sana bisa bareng. Ketiga, kamu tau kan, filmku dapat penghargaan? Hehehe." Aku terkekeh. "Aku harus datang ke awardingnya lah!"

"Oh iya ya, kan weekend ini awardingnya. Masnya diajak dong?"

"Astaghfirullah! Ren!" Aku menepuk keningku. "Besok lusa kan Rafa sama Syafiq udah di Jogja lagi?!" ujarku panik.

***

Usai bertemu Rendy di kantin Fisipol, kurasa masalahku bertambah satu lagi: aku galau. Aku bingung menentukan pilihan apakah akan datang ke awarding night tanpa Rafa (berarti aku melewatkan saat-saat berharga bisa main bareng dia) atau mengajaknya ---dengan risiko dia salah kostum, atau dia tidak mau ikut karena merasa akan salah kostum.

Aku mondar-mandir mencari jalan keluar yang paling pas. Seingatku kemarin ketika bertemu di Malioboro, baik Rafa maupun Syafiq memakai kaos dan jeans dengan masing-masing menenteng Jansport yang isinya pasti baju ganti, mungkin juga kaos. Yah, mereka ke Jogja untuk tujuan wisata alam, bukan datang ke pameran atau bahkan menghadiri malam penghargaan. Aku yakin 100% mereka nggak menyediakan baju formal ---dresscode di malam penghargaan nanti.

Kemungkinan terburuknya mungkin aku memang terpaksa 'minta maaf' pada mereka karena malam ini membatalkan rencana jadi tour guide menikmati wisata kuliner Jogja seperti yang kujanjikan. Lalu menggantinya dengan sarapan keesokan harinya. Huh, itupun kalau aku bangun.

Seingatku mereka bilang akan kembali ke Bandung hari Minggu pagi. Itu artinya, aku bahkan mungkin melewatkan sama sekali kesempatan untuk sekadar say goodbye dengan Rafa. Lalu kalau yang dibilang Rendy benar bahwa setelah ini kami akan saling menghilang seperti sebelumnya, yah, berarti cerita ini tamat sampai sini.

Tok tok tok

Pintu kamarku diketuk.

"Masuk," ujarku. Wajah Angga muncul. "Kenapa, Ngga?"

"Aku rak tego ndelok raimu." Angga meletakkan tas besar di tempat tidurku. "Tawarin mereka ikut. Kalau mau, ini bajunya. Kalau enggak, rejekimu," ujar Angga tanpa ekspresi.

Aku buru-buru membuka isi tas besar tersebut. "Angga!" Aku nyaris berteriak saking senengnya lihat isi tas yang dibawa Angga. "Ya ampuuuun, Ngga, sumpah! Kowe koncoku, Ngga! Aaaaak, makasihhh!" Aku menghambur ke pelukan sepupuku.

"Wes ojo lebay. Njelehi."

"Kok aku nggak kepikiran ya huhu, ya ampun, makasih banget, Ngga!"

***

Pertemuan keduaku.

Kali ini pertemuan kami nggak sedramatis pertemuan kemarin. Mungkin karena aku sudah mulai belajar mengendalikan emosiku mengingat berbagai kemungkinan seperti yang dikatakan Rendy. Mungkin juga karena setelah ngobrol berjam-jam, aku seperti menemukan 'ruang' yang pas untuk menyatukan kami bertiga, terutama dengan Syafiq.

Kalau kupikir-pikir, Syafiq tipe yang jauh lebih menyenangkan untuk diajak berteman dibanding Rafa. Syafiq relatif lebih ramah, easy going, dan pintar membuka ruang pembicaraan. Kami baru bertemu di Jalan Malioboro beberapa hari lalu, tetapi sepertinya orang akan mengira Syafiq-lah teman dari Bandung yang kukenal bertahun-tahun lalu dalam konferensi pemuda di Jakarta, bukan Rafa.

Sosok itu masih nggak berubah; pendiam, kaku. Satu-satunya hal yang berubah dari Rafa adalah sekarang ia terlihat lebih kurus daripada kali terakhir aku menemuinya. Oh, bahkan frame kacamatanya pun nggak berubah. Kalau boleh aku bilang, Rafa itu payah.

"Festival film?" ujar Syafiq sambil menyetir mobilku membelah Jalan Kaliurang yang padat. Selama 3 hari kemarin, Syafiq dan Rafa berpetualang dengan motor yang dipinjam dari sebuah rental di daerah Karangwuni. Mereka baru saja mengembalikan motor itu dan janjian denganku bertemu di depan Circle-K Jalan Kaliurang. Syafiq menawarkan diri menjadi sopir. Kami berencana makan siang di Warung Lotek Bu Bagyo yang legendaris di daerah Sagan.

"Hm hm, sebenarnya udah seminggu ini sih festivalnya. Nah, nanti malam itu malam penghargaannya gitu, Fiq, Ra," jawabku.

"Kalau malam penghargaan gitu bukannya biasanya dresscodenya resmi ya?" Rafa buka suara.

"Emm, iya sih. Sebenernya kalau misal kalian mau ikut, sepupuku bisa minjemin blazer dan pantofel sih.. Kan, kalian udah pakai celana panjang. Jeans nggak masalah aku rasa, nanti dikasih outer, pakai kaos pun bisa keliatan semi-formal," ujarku hati-hati.

"Wah asyik tuh! Boleh deh!" jawab Syafiq antusias.

"Kok ngerepotin banget sih, Nad.. Padahal sebenernya kita ditinggal di hotel juga nggak papa kok.." Jawaban Rafa nggak seperti yang kuharapkan.

"Eee kalau nggak mau juga nggak papa kok. Hehe," ujarku berusaha menyembunyikan rasa kecewa.

"Ya ampun, Fa, lo gimana sih, kemarin katanya ke Jogja sekalian dateng ke festival ini? Kok sekarang nggak mau?" ujar Syafiq bersungut-sungut.

"Kalian tahu ada festival ini?" ujarku heran. Aku nggak pernah tahu Rafa suka hal-hal semacam ini. Atau mungkin Syafiq yang suka?

"Tau lah!" Lagi-lagi Syafiq menyahut antusias. "Kita sebenernya emang merencanakan mau dateng, Nad.. Cuma ya itu, lupa bawa bajunya kemarin ketinggalan gitu, kita buru-buru. Untungnya ada yang minjemin. Hahaha. Lucky banget ya, kita, Fa! Hahaha!" Syafiq tertawa keras menyaingi musik Metronomy yang diputar di mobil.

"Emang kalian suka film?" ujarku. Kali ini bener-bener heran.

"Aku sih nggak begitu, Nad. Rafa tuh yang penggemar film. Ya nggak, Fa? Hehehe." Syafiq tertawa renyah.

"Hah? Film? Iy.. iya. Yaa, lumayan lah," jawab Rafa yang duduk di sebelah Syafiq.

"Rafa suka film? Kok aku nggak pernah tahu ya, kamu suka film.." ujarku jujur.

"Ah, kamu, Nad! Katanya kenal dari SMA masa bisa nggak tau dia suka film juga.. sama kan, kayak kamu? Hehehe."

"Emang suka genre apa biasanya kalau nonton film?" tanyaku serius.

"Science-fiction! Suka banget dia!" Syafiq lagi-lagi menyahut sambil tersenyum lebar.

"Hah? Science-fiction?" Rafa terdengar sedikit kaget dengan jawaban Syafiq.

"Tapi kadang-kadang dia suka romance juga, apalagi film-film Thailand! Hahaha!"

"Apa sih lo, Fiq. Enggak, ngarang dia mah," ujar Rafa menghardik. Tawa Syafiq makin keras. Sementara itu, di belakang aku masih serius bertanya-tanya apa bener Rafa suka film. Anak teknik yang kayaknya hidupnya nggak kenal seni dan keindahan kayak gitu?



Photo Source
Share: