Wednesday, March 9, 2016

Pertemuan Pertama


Ini akan menjadi pertemuan pertamaku dengan Rafa.. hmm dalam empat tahun ini. Ya. Empat tahun. Aku kira itu waktu yang lama untuk sebuah jeda pertemuan dua orang.. teman. Ya, dia temanku. Tidak pernah lebih dari itu semenjak kali pertama aku mengenalnya di Jakarta ketika kami masih SMA.

"Ngajak balen paling," Angga menyahut asal usai mendengar ceritaku. Viana tertawa mendengarnya.

"Jadian aja nggak pernah kok balen hahaha!" sahutnya. Aku tersenyum kecut. Tapi percayalah berhari-hari aku tidak bisa tidur dibuatnya.

***

Aku sebenarnya menahan Viana agar tidak buru-buru pulang ke Semarang. "Paling nggak sampai aku ketemu dengan Rafa, Vi.. Please lah," ujarku merajuk.

"Aku harus KRSan, Ra. Maksudku, ketemu dosen pembimbing untuk konsultasi KRS. Yah, you know lah.. aku mau mulai serius di semester enam nanti," jawab Viana sambil mengemasi bajunya ke dalam tas. Aku nggak bisa maksain lagi kalau urusannya udah soal kuliah. Yang aku tahu, kesadaran untuk 'serius' kuliah itu pasti didapatkan Via dengan penuh perjuangan. Jadi, aku nggak akan mengusik keyakinan dan niat baiknya itu. "Lagian kenapa harus nervous sih? Biasa aja kali! Situ kan sering ketemu banyak orang. Kenapa dengan dia grogi gitu?" Skakmat.

Aku tersenyum kecut.

"Emm.. dia tu.. dia tu ke sini sama temennya, Vi. Ya aku takut awkward aja kan aku nggak kenal sama temennya dia."

"Cewek atau cowok?"

"Nggak tahu pasti sih.. Tapi kayaknya kok cowok ya.."

"Ya udah, santai aja!"

Lalu sore itu juga Viana pulang ke Semarang.

***

Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul empat sore. Malioboro padat merayap membuat kendaraanku melaju dengan kecepatan di bawah 30 km/jam. Setelah memutuskan parkir di basement Malioboro Mall, aku masuk ke McD, memesan satu buah Sundae, lalu duduk di kursi dekat jendela. Aku masih sempat memandang ke luar ---Jalan Malioboro yang padat. Sesekali aku mengecek ponsel.

"Nad, udah di Jogja nih. Haha." Sebuah pesan masuk ke ponsel pintarku.

***

Ini menjadi pertemuan pertamaku dengan Rafa dalam empat tahun terakhir. Ya, empat tahun tentu bukan waktu yang sebentar untuk sebuah jeda dua orang teman tidak bertatap muka. Terakhir yang kuingat darinya adalah orang yang pendiam, kaku, tetapi begitu presentasi di depan audience.. yawlaah, nggak nahan untuk nggak mantengin sosoknya.

Rafa terlalu biasa untuk sosok anak SMA waktu itu. Terlalu biasa, kecuali ketika dia bicara. Dan pada pertemuan kami yang pertama, kurasa aku jatuh cinta. Emm maksudku, aku tertarik. Ada sesuatu dalam sosok Rafa yang nggak pernah kutemukan di antara teman-teman lelakiku selama ini. Sesuatu semacam kharisma ---atau apapun itu orang menyebutnya. Kami lantas menjalin komunikasi sebagai sesama delegasi dalam konferensi itu. Percakapan demi percakapan kami lalui pada tahun-tahun terakhir kami sebagai anak SMA. Lalu karena satu dan lain hal, kami menyudahinya.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan akhir dari percakapan-percakapan kami sewaktu itu. Yang jelas, kami memang 'menghilang', tidak saling berkabar, tidak tahu nasib dan cerita satu sama lain. Terakhir yang kutahu dia di Bandung, di ITB.

"Assalamualaikum," ujarnya.

Ah, kau pernah menonton film di mana seketika gambar menjadi melambat, suara mendadak lenyap, dan sekitarmu tiba-tiba hening? Ya, aku begitu saat ini. Tiba-tiba saja suara bising kendaraan di Jalan Malioboro terdengar syahdu melebur dengan instrumen lagu-lagu yang mendadak muncul di kepalaku. Mulanya The Moment-nya Kenny G., lalu Where Do I Begin-nya Andy William, bahkan Imagine-nya John Lennon mendadak mengalun di kepalaku. Langit berwarna jingga, lampu-lampu dinyalakan menyambut senja di Malioboro yang hari itu entah kenapa terasa indah, lengang, teduh.

"Apa kabar?" ujarnya lagi. Aku segera menguasai diriku.

"Waalaikum salam, baik. Kamu?"

"Alhamdulillah baik juga," jawabnya. Tersenyum.

"Ehm!" Seseorang berdehem.

"Oh, Nad, ini.. temenku. Kenalin, ini Syafiq. Syafiq, ini Nadhira," ujar Rafa yang tiba-tiba salah tingkah.

"Hai, Nadhira." Syafiq mengulurkan tangannya.

"Halo, Syafiq," ujarku menyambut uluran tangannya.

Kami bertiga lalu diam. Hening. Aku menunduk. Angin terasa sepoi meniup ujung-ujung rambutku yang kubiarkan tergerai. Jalan Malioboro masih lengang dalam bayanganku. Kami berdiri saja untuk beberapa saat di bawah pohon besar di depan kantor DPRD DIY.

Like a river flows
Surely to the sea
Darling so it goes
Some things are meant to be

Yah, Elvis Presley tiba-tiba memenuhi isi kepalaku. Aku merasa gila.



Photo Source
Share: