Mar 22, 2016

Nostalgia Twitter


Mulanya adalah Twitter. Lebih tepatnya, kemarin Twitter ulang tahun. Dan sebagai pengguna setianya sejak 2009, aku pun ikut merayakan dengan meramaikan #NostalgiaTwitter, #LoveTwitter, dan juga #KarenaTwitter. Alay ya?

Bodo.

Yang jelas, entah kebawa perasaan atau memang karena aku ini nggak move on dari jaman SMA, bisa-bisanya aku keinget beberapa kejadian. Masa SMAku adalah masanya Twitter banget. Sewaktu aku SMA, nggak fixed gaul kalau nggak punya Twitter. Nggak fixed gaul kalau nggak ikutan galau. Sampai-sampai ada film berjudul Radio Galau FM yang waktu itu kami rasain bener-bener kekinian menyikapi zaman. Wkwkwk.

Buat kamu yang nggak paham gimana sensasinya anak SMA pada jamanku, liat aja Radio Galau FM. Kurasa itu film paling relevan buat memahami gimana seseorang bisa deket cuma berawal dari ngeadd BBM dan gimana pasangan bisa ribut cuma karena ngetwit "bad day" di timelinenya. Hahahaha. Sumpah ini aku ngetik sambil ketawa beneran.

Ngomongin soal Twitter dan masa SMA, secara random jariku mengarah ke kolom search, ketik-ketik username orang, arahin ke all tweet, dan... jleb. Itu tengah malem terandomku ketika mendadak aku nyecroll ke bawah-bawah, baca satu per satu tweet dari tahun 2012an, padahal besoknya aku ada kelas yang dosennya ngusir mahasiswa kalau telat. Tapi, kepalang nanggung.

Yah, ini untuk pertama kalinya sejak aku menulis di blog ini, aku mambahas soal someone. Kukatan begitu saja, karena jujur sampai sekarang aku tidak tahu nama dia sebenarnya.

Berawal dari Twitter. Hari itu awal 2012 yang biasa aja di Semarang. Nggak ada yang spesial, pun dengan hari-hariku yang selain dolan selalu aja suwung. Begitulah mulanya mengapa akhirnya (bahkan sampai sekarang) aku jatuh cinta dengan Twitter.

Twitter mempertemukan kami lewat sapaan, "Anak SMANSA ya? Boleh follback nggak?"

Satu hal yang harus kalian pahami lagi adalah waktu itu menggunakan #smansasemarang di bio Twitter adalah sesuatu yang membanggakan. Maka, menerima permintaan follback karena tau kita anak SMANSA, rasanya bukan sesuatu yang aneh. SMANSA adalah sekolah elit di Semarang. Eciehhh. Hahaha. Anak-anaknya menjadi trendsetter, gaul, berkelas, disegani. Yah, pokoknya menjadi bagian dari sana nggak malu-maluin banget lah.

Sebagai anak yang bisa berteman dengan siapa aja, bagiku ngefollow Twitter orang yang belum kenal juga sah-sah aja. Waktu itu aku nggak seprotektif sekarang sih. Maklum lah, anak SMA. Kita sebut saja someone ini adalah Kacraw.

Dari sini, semua berawal...

Aku nggak ngerti gimana akhirnya interaksi kami terjalin. Jujur, dia bukan satu-satunya teman dunia mayaku. Jauh sebelum aku familiar dengan Twitter, aku terlebih dulu akrab dengan media sosial Facebook dan menjalin berbagai pertemanan lewat grup para blogger yang tersebar di mana-mana. Jauh sebelum itu juga, aku sudah kenal Friendster. Hampir di setiap media sosial yang aku punya, aku memiliki interaksi yang baik dengan orang-orang yang kurasa memiliki minat yang sama.

Sebut saja Chevi. Aku mengenalnya kira-kira kelas 2 SMP. Waktu itu kami 'bertemu' di Friendster dalam obrolan kami yang sama-sama menggemari Jogja. Perlu kalian tahu, bertahun-tahun setelah itu, kami akhirnya dipertemukan dalam sebuah tempat yang juga menyatukan kami. Ya, dia anak UII, aku anak UGM. Kami tinggal di Jogja sekarang.

Lalu di Facebook. Facebook membawa lingkaranku lebih luas karena di sana aku berteman dengan para blogger. Iya. Itu lho, blog ervinalutfi.blogspot.com yang kini sudah kututup itu, dulu dengan bangga kupamerin ke kalangan temen-temen komunitasku ---yang rata-rata ngeblog dengan serius dalam satu topik bahasan. Dari blog dan Facebook, aku kenal dengan orang-orang Bandung, Jakarta, bahkan dengan orang Semarang sendiri. Aku juga akhirnya sempat bergabung di beberapa forum penulis yang akhirnya mengadakan kopdar. Dari media sosial, aku kenal dengan penulis semacam Dewi Rieka, Wiwien Wintarto, Nora Umres, dan lain sebagainya.

Pokoknya perkenalan dengan Kacraw di Twitter bagiku bukan hal yang aneh, karena sebelumnya aku sudah pernah. Obrolan kami nyambung sebagai sesama anak OSN. Ehm. Meski pada akhirnya aku mengakui bahwa lama-kelamaan aku merasa kami ini adalah orang yang berkebalikan. Kacraw adalah manusia paling lurus yang kujuluki orang paling suwung nomor dua di mentionku ---saking lurus dan suwungnya. Ia bersekolah di sekolah berasrama, menghabiskan masa SMP-SMA di kelas akselerasi, berteman dengan sedikit orang, mengalami sedikit masalah dengan proses interaksi di dunia nyata, anak OSN Fisika, sedih karena peringkat 8 paralel. Yaaa, hal-hal semacam itu.

Sejenis antitesis dari seorang Ervina dan teman-temannya ketika SMA. Yang nggak jelas studi dan masa depannya, tiap hari kerjaannya cuma main, nggak pernah pulang sebelum maghrib meskipun masih berseragam. Boro-boro sedih dapet peringkat 8 paralel, masuk di jajaran 'peringkat yang keliatan' aja udah bersyukur banget. Kacau lah pokoknya masa SMAku kalau bandingannya sama dia.

Tapi, enggak tahu kenapa, hal-hal itu yang justru bikin kami unik dan nyambung. Aku menertawakan keluguan dia dan dia mungkin miris dengan kehidupan masa SMAku ---yang buang-buang waktu dengan hal-hal nggak jelas dan kebanyakan gojek.

Kami mungkin memandang satu sama lain sebagai individu yang unik. Lalu seperti halnya kisah-kisah di sinetron picisan, kami mungkin merasa 'nyaman'. Well, nyaman adalah terminologi paling susah untuk dijelasin dalam konteks relasi dua anak manusia berbeda jenis kelamin. Nyaman adalah sesuatu yang absurd, namun dianggap ada. Sesuatu yang rawan membuat celaka, namun dipelihara.

Hingga akhirnya masa itu datang juga. Sama halnya seperti kebingunganku menjelaskan bagaimana awal mula kami merasa saling kenal, keretakan relasi kami juga susah untuk kujelaskan.

Saat itu aku kelas 2 SMA, dia kelas 3, udah mau lulus. Kacraw bercerita banyak mengenai cita-citanya masuk Arsitektur ITB, ancaman ayahnya (yang alumni ITB) kalau sampai dia gagal ke sana, dan hal-hal semacam itu. Mungkin Kacraw merasa jumawa. Ia pantas bangga bercerita seyakin itu ke orang kayak aku. Meski akhirnya aku cuma menjawab dengan selorohan, "Awas aja kalau sampai gagal ITB, aku yang pertama bakal ngecengcengin kamu! Hahaha!"

Aku sungguhan bercanda. Maksudku, aku bener-bener nggak serius ketika ngomong kayak gitu. Tetapi Kacraw adalah orang yang berkebalikan denganku. Maka ketika akhirnya dia gagal masuk ITB, dia mungkin merasa nggak akan punya muka lagi di depanku.

Hari-hari sebelum prahara 'itu' kami sebenarnya sudah sering ribut. Aku ribut karena mulut temannya yang susah dikontrol, dia ribut karena menurutnya aku berlebihan menanggapi mulut kurang didikan temannya. Lalu dia mungkin muak, kesal, marah, atau apapun itu aku nggak tahu.

Yang jelas.. tiba-tiba akunnya menghilang. Ya, akunnya deactive nggak lama setelah kubaca sebuah bio HI UGM di Twitternya. Kacraw ilang. Dia menghilang. Literally.. menghilang. Karena sejak saat itu aku udah nggak tahu lagi dia ada di mana, masih hidup apa enggak, dan.. pokoknya bener-bener kehilangan jejak.

Ketika akhirnya aku berkesempatan menanyakan pada Raha ---yang sekarang anak ITB dan teman satu bimbelnya dulu--- di mana keberadaan Kacraw, yang ada Raha justru ngamuk. Entah kenapa.

***

Sekarang lewat empat tahun sejak menghilangnya Kacraw dengan misterius. Aku tetap nggak tahu dia ada di mana. Awal masuk UGM dulu, kupikir aku bakal ketemu dia di Fisipol atau Bonbin. Tapi aku sudah memastikan tidak ada keberadaannya di HI 2012. Aku juga udah nggak pengin nanyain keberadaan dia kepada Raha, meskipun beberapa waktu lalu Raha main ke Jogja dan aku bertemu dengan dia, makan, dan ngobrol berjam-jam.

Oh, bukan. Ini bukan cerita orang yang nggak bisa move on atau hal-hal tragis semacamnya. Ini cuma sedikit fragmen masa SMAku yang unyu. Sengaja ditulis mumpung aku masih inget. Dan kali aja pada suatu kesempatan-yang-nggak-diduga, dia bisa baca. Aku nggak pengin bilang apa-apa. Nggak mau bilang dia jahat juga kayak yang diucapin Cinta ke Rangga.

Padanya, aku cuma ingin bilang, "Anak ITB atau bukan, kamu tetap temanku. Ke mana aja selama ini? Kenapa menghilang?"


Share: