Thursday, February 25, 2016

Kepulangan Mendadak


"Nad," ujarku dari ambang pintu. Aku melangkahkan kaki ke dalam kamar. Yang kupanggil masih meringkuk di bawah selimut. Aku tahu dia tidak sedang tidur. Entah dia hanya sedang malas berbicara denganku karena beberapa hari belakangan semenjak kedatanganku ke sini kami hanya bertengkar. Atau bahkan dia tidak ingin melihat mukaku. Yang jelas, panggilanku sama sekali tak mengusiknya. Dan aku tahu itu.
Aku duduk di bibir ranjang, membelakanginya. "Aku balik ya. Kamu baik-baik di sini. Jaga diri. Semoga skripsinya cepat selesai dan bisa melanjutkan mimpi-mimpi yang sering kamu ceritakan."

Dia bergeming. Aku menghela napas dan menghembuskannya berat. "Maaf kalau akhirnya begini. Aku selalu berpikir ini bukan akhirnya. It's just until we meet again," ujarku lagi. Tidak ada jawaban. Aku bangkit, melangkah keluar, lalu menutup pintu kamar.

Angga dan Ferdy masih berdiri kikuk tak jauh di depanku. Aku tersenyum dan memeluk mereka satu persatu, kemudian berpamitan. Taksi yang kupesan sudah datang. Mereka mengantarku sampai pagar. Terakhir, aku menoleh ke sebuah jendela kamar yang tirainya perlahan tersibak. Aku melihat wajah gadisku untuk kali terakhir.

***

Aku langsung ke Jakarta. Sama sekali tidak memiliki keinginan untuk pulang ke Bandung. Sebenarnya, cutiku berakhir hingga tahun baru sebelum aku kembali lagi ke Boston untuk urusan pekerjaan. Tapi kalau balik, kemungkinan besar orang-orang rumah akan bertanya-tanya mengapa tiba-tiba aku pulang ---dan tidak berkabar sebelumnya. Aku bahkan langsung ke Yogyakarta begitu menginjakkan kaki di Indonesia. Tidak. Aku tidak ingin mendapat banyak pertanyaan ketika pikiranku sedang begini. Jadi, aku memutuskan ke Jakarta.

Siang tadi sebelum boarding, aku mengontak Syafiq lewat WhatsApp dan mengabarkan aku di Yogyakarta. Syafiq juga sedang liburan akhir tahun. Setelah berbicara beberapa saat, aku memutuskan untuk tinggal di apartemen miliknya hingga waktu cutiku selesai.

Seperti biasa, Syafiq menjemputku di bandara. Ini pertemuan pertamaku dengan Syafiq semenjak kami sama-sama lulus dari ITB. Aku sempat beberapa bulan menjalani internship program di BSG Jakarta dan ia langsung melanjutkan studi masternya ke Munich. Syafiq sudah menjalani beberapa bulan masa kuliahnya dan sekarang ia sedang libur akhir tahun. Itulah kenapa ia memutuskan untuk pulang. Sama denganku, ia juga sedang suntuk, katanya.

"Nggak sekompleks lo sih," akunya. Kami menikmati makan siang di salah satu mall di daerah Bintaro.

Aku sedikit tertegun mendengar cerita sahabatku itu. Semenjak mengenalnya di bangku SMP, aku jarang ---hampir tidak pernah--- melihatnya galau. Syafiq selalu ceria dalam kondisi dan suasana macam apapun. Ketika teman-teman galau dengan ujian, Syafiq masih menyempatkan main basket atau ngajak jogging mencoba aplikasi running di ponselnya. Ketika kami stres dengan ujian masuk SMA, Syafiq dengan santai malah masuk ke kelas khusus yang menyiapkan anak-anaknya untuk OSN. Ia juga santai saja menghadapi momen 'pindahan' dari Bandung ke Jakarta yang membuatnya terpisah dari kami semua. Puncaknya, ketika kami akhirnya sama-sama kuliah di ITB, cuma dia yang paling santai menjalani masa TPB.

Seumur hidup aku mengenal Syafiq, hampir masalahnya tidak jauh-jauh dari dompetnya yang ketinggalan, kunci mobil yang ilang, atau gadget yang rusak. Soal cinta, studi, aku nggak pernah mendapatinya mengeluh. Karena itulah siang ini ketika dia menceritakan semuanya aku jadi sedikit tertegun.

Perempuan itu dikenalnya ketika SMA. Satu sekolah, satu kelas. Sungguh kisah cinta yang payah karena katanya, selama 3 tahun dia di SMA, tak sekalipun ia berani menyapanya, atau bahkan mengajak kencan. Syafiq justru memulai masa pendekatannya ketika mereka sudah lulus, dan sedang galau mencari kampus. Hingga akhirnya Syafiq ke Bandung, dan perempuan itu.. ke UGM.

Ah. Seluruh teka-teki tentang Syafiq dan Yogyakarta seolah-olah kini terang-benderang. Syafiq mencintai Yogyakarta, seperti ia mencintai perempuan itu. Perempuan yang ternyata juga membawanya hingga ke Jerman.

"Lo tau kan, Va, kalau kita di luar negeri tu, temen se-Indonesia berasa saudara sendiri, apalagi temen satu Jakarta, satu SMA, satu kelas!" katanya. Aku mengangguk sambil terus menyuapkan makanan ke mulutku.

Sejujurnya, pada pertemuanku dengan dia kali ini, aku ingin cerita banyak hal. Aku ingin bercerita tentang Fidkya yang menyambangiku ke Boston, gadisku yang merasa telah kubohongi, kedatanganku ke Yogyakarta yang dadakan, Nadhira yang meminta putus setelah aku benar-benar sangat mencintainya. Tapi melihat Syafiq yang seperti ini, aku jadi tidak tega. Aku mengurungkan semua niatanku dan mengunci mulutku rapat-rapat.

Syafiq terlalu baik. Selama ini dialah pendengar setia dari kami semua ---aku, Fadhil, Khaira, bahkan Rahman. Kini kami semua tinggal di tempat terpencar dan hanya aku yang satu-satunya duduk di depannya. Syafiq kali ini butuh didengarkan. Mungkin selama ini kami sudah bersikap tidak adil padanya. Dan aku sendiri cukup terpukul, karena selama ini kami saling kenal, sebegitunya aku tidak 'mengenal' dia.

Ah, iya. Nadhira juga mengatakan sesuatu tentang itu padaku kemarin dalam pertengkaran kami. Mungkin aku memang terlalu egois dengan mengukur segala sesuatunya dari sudut pandangku. Dia benar. Jangankan padanya yang kukenal sebentar-sebentar dalam pertemuan kami yang singkat dan sepotong-sepotong, dengan Syafiq saja, yang hampir tiap hari kuajak nongkrong dan belajar, aku tidak sungguh-sungguh kenal.

Jadi aku ini teman macam apa?



credit photo: deviantart.net
Share: