Thursday, December 29, 2016

Fragmen di Canggu



Canggu sebenarnya bukan tempat yang asing. Dulu sekali ketika tempat ini belum seramai sekarang, Ayah kerap mengajakku mengunjungi salah satu temannya yang tinggal di Canggu. Dulu sekali Canggu adalah sawah-sawah yang hijau, mungkin lebih indah dari Ubud. Sebab ada laut juga tak jauh dari sini. Biasanya kami tinggal di salah satu rumah penduduk yang disewakan. Ada satu atau dua turis, tetapi tidak seramai sekarang. Aku lupa sejak kapan Canggu menjadi sedemikian padat. Tetapi meski jalan-jalannya kecil, dan sesekali masih ada mobil wisatawan yang terperosok ke sawahnya, bagiku Canggu adalah tempat paling ideal.. untuk menghilang.


Ya aku ingin menghilang saja dari keriuhan. Meski aku tahu di sini juga sangat riuh. Aku suka makanan-makanan Thailand yang banyak dijual di kedai-kedai sekitar Jalan Pantai Berawa, tapi paling suka dengan club-clubnya, juga orang-orang di sana. Paling favorit adalah Deus Ex-Machina. Tapi aku juga pernah ke Old Man’s bersama teman-teman SMA sewaktu kami liburan. Sebagian orang yang kukenal menyukai Seminyak atau Kuta ketika mereka ke Bali. Sesekali saja aku mengajak mereka ke Ubud. Biasanya ketika ada festival, atau di saat-saat tertentu. Ketika aku mengerjakan film dengan Ega, aku memilih untuk tinggal di Canggu dan Ubud, bergantian. Di Canggu kami mendapat sebuah homestay yang harga sewanya fantastis. Murah. Iya, sangat murah kurasanya. Sementara di Ubud kami tinggal di rumah Wayan, teman kami, yang juga galerinya.

Oh ya, aku sudah seminggu di Canggu dan aku sama sekali tidak memberitahu siapapun kecuali Ega. Ega sedang di Hong Kong. Satu lagi film pendeknya masuk ke festival dan sebagai teman sejak kecilnya aku merasa bangga sekali. Ega bilang padaku jika aku mulai stress mungkin sesekali aku harus belajar surfing di Berawa atau Pantai Canggu. Tapi itu bukan ide menarik. Aku lebih suka ikut sembahyang di Pura Tanah Lot atau sesekali menghadiri meditasi rutin yang dilakukan anak-anak Wayan di Ubud.

***

Ra mencariku. Setidaknya begitu yang dikatakan melalui pesan-pesannya yang tidak pernah kubalas. Aku memang sengaja menghilang dan salah satu alasan menghilangku ini adalah dia. Kubilang hanya salah satu, sebab ada seribu satu alasan lain yang tidak bisa kujelaskan. Aku bingung. Bagaimanapun aku tidak menemukan alasan yang bagus untuk mengakhiri hidup. Sama halnya aku tidak pernah menemukan alasan yang bagus untuk tetap hidup. Jadi aku memilih ada di sini. Sebab di sini kadang-kadang aku merasa hidup sepenuhnya ---ketika menghabiskan malam di club-club yang konon adalah surganya para hipster di Bali. Tetapi kadang-kadang aku merasa sangat “pulang”, ketika menghabiskan waktu di pura atau mengikuti meditasi bersama Wayan. Entahlah aku sudah tidak bisa lagi menjelaskan kehidupan religiku. Tapi setidaknya aku tidak merasa menyakiti orang lain.

***

Senja mengingatkanku kepada perpisahan yang diulur-ulur
dan kepada keraguan antara kehadiran dan kemusnahan.
Mengapa tidak sekaligus mati sehingga orang tak sempat meneteskan air mata.
Aku terus menghindari senja.
Senja yang membawa sedih selalu.
(Subagio Sastrowardojo)

***

Dulu sekali aku merasa aku takut dewasa. Masa SMA-ku sangat menyenangkan. Aku tidak melihat orang tua yang terlibat sengkarut konflik, teman-teman yang bangsat, dan semua hal yang aku tidak suka. Jalinanku dengan Ra dulu pun sangat sederhana ---tidak seperti sekarang. Maka aku menganggap dewasa adalah sebuah teror.

Tapi kini, pelan-pelan aku mulai paham bahwa manusia memang harus dewasa. Sebab dengan dewasa ia dibebaskan. Menjadi dewasa membawa konsekuensi kita untuk menentukan sendiri setiap pilihan yang ingin kita ambil. Dewasa memberi kita pilihan-pilhan, yang meski pada beberapa waktu ia sangat terbatas, tetapi membebaskan. Aku membayangkan jika saat ini usiaku bukan 23 tahun aku mungkin tidak seberani ini untuk pergi dari rumah. Aku tidak mungkin bisa melepaskan penatku dengan gelas-gelas wine, atau bahkan menghabiskan hidup di Bali ---yang kata Ibu adalah tempat yang seharusnya tidak perlu dikunjungi jika tidak perlu sekali. Tapi kurasa Ibu maupun Ayah terlalu naif. Mereka pernah tinggal di Jakarta, mereka pernah tinggal di Surabaya, di Semarang. Itu bukan kota dengan manusia-manusianya yang polos dan lucu. Jadi, kupikir itu hanya karena mereka sudah pernah mengalami masa di mana manusia sedang bebas-bebasnya, makanya mereka tidak ingin aku mengalaminya. Cukup mereka saja. Tapi itu berlebihan. Manusia harus bereksperimen. Dan kepergianku kali ini kurasa juga bagian dari eksperimen, meski aku tidak tahu apa yang ingin aku ketahui dari hal ini. Oh tunggu, paling tidak aku ingin tahu, bagaimana rasanya melupakan Ra.

***



Bersambung jika tidak malas menulisnya.






Wednesday, December 28, 2016

Fragmen Kesekian Desember


Ra, ini bukan baru sehari atau dua hari lalu saya mengenal kamu dan sejujurnya saya mulai bosan dengan semua basa-basi yang tidak perlu.

***

Re tidak suka basa-basi. Dan kadang, pada ketidaksukaan dia terhadap basa-basi itu, ia menyakiti banyak orang. Aku sendiri berusaha paham mengapa surat itu baru kubaca hari ini ---semuanya salahku. Dan benar meski tidak sampai tuntas aku membacanya; kita memang bukan sehari atau dua hari lalu saling kenal. Dan tidak salah juga jika mungkin Re sudah mulai bosan. Aku sendiri sudah berapa musim hujan dan berapa Desember kita lewati seperti ini.

Re menyebut ini seperti fragmen. Ia terdiri atas potongan-potongan; bukan satu cerita yang utuh. Ada masanya di mana fragmen itu mengandung cerita menyenangkan. Ada pula yang tidak. Tak jarang fragmen itu terpotong jeda yang cukup lama. Lalu berlanjut lagi, hingga aku sendiri tidak paham bagaimana menyusunnya agar ini menjadi sebuah cerita. Mungkin ia juga. Itu sebabnya dia mulai bosan.

***

"Saya pikir yang di Jogja kemarin sudah terakhir, setelah itu tamat."
"Kamu kenapa bicaranya begitu?"
"Hahaha. Saya tidak tahu. Aneh sekali. Saya mulai menggunakan kata ganti saya untuk menyebut diri sendiri."
"Kamu menyindir saya?"
"Enggak."

***

"Saya melihat vlog kamu."
"Lalu?"
"Kamu berpikir saya tidak bisa atau tidak mau diajak ke konser atau festival seni?"
"Hmm bukannya memang iya?"
"Saya suka ke konser. Saya suka musik-musik indie, pop alternative, folk, apa saja."
"Sejak kapan, Ra? Hahahaha."
"Sejak lama. Jadi, kapan kamu akan mengajak saya ke konser Payung Teduh?"
"Kenapa Payung Teduh?"
"Kamu suka, kan? Bahkan demi ke sana kamu pergi berdua dengan mahasiswa DKV ISI itu."
"Hey, dia designer saya, Ra. Hahaha. Lagipula dia anak kecil, seperti pergi dengan adik saya. Kami sedang banyak project jadi memang harus banyak-banyak quality time dan membangun chemistry."
"Saya tidak apa-apa kamu pergi dengan dia."
"Memang seharusnya begitu kan?"
"Ya sih."
"Sudah santai aja, kapan-kapan saya ajak kamu nonton konser.. kalau kita ketemu dan sedang ada pertunjukan malam itu. Saya tutup teleponnya, yah?"
"Bye."

***

Ini bukan sekali atau dua kali saya menunggu hujan, sambil berpikir bagaimana saya harus menutup cerita panjang kita yang tidak selesai-selesai. Fragmen ini sudah sangat rancu. Sekeping di Jogja, sekeping lagi di Jakarta, sekeping lagi di Bandung. Sisanya berceceran di Semarang dan sepanjang jalanan Ubud ke Seminyak. Ra, saya bukan anak kecil yang suka bermain-main apalagi menunggu untuk waktu yang tidak bisa ditentukan kapan akhirnya.

***

Rumah teman Re di Dago Timur. Aku pernah sekali ke sana, sewaktu mengantarnya pulang bersama Re yang sedang liburan di Bandung. Setelahnya aku sedikit menyesal karena tidak menjalin pertemanan yang cukup akrab. Padahal dia sahabat Re, dan sikapnya baik terhadapku.

"Hai, Ra. Maaf yah, lama nunggunya?"
"Tidak apa-apa. Sebenarnya saya tidak ingin lama-lama, tapi saya ingin mendengarnya langsung dari kamu. Kamu pasti tahu."

Teman Re menatapku lama. Dia pandangi lurus wajahku dari balik kacamatanya yang berbingkai tebal. Aku yakin dia tahu sesuatu.

***

Aku tahu Re baru saja pulang dari Paris sewaktu film garapannya dengan teman-temannya yang alumni IKJ menang di suatu kompetisi bergengsi di sana. Ia di Jakarta berhari-hari setelah itu, ke tempat-tempat yang suka sekali ia datangi. Aku tahu semuanya karena dia begitu aktif di media sosial. Aku melihatnya, tapi dia tidak menghubungiku, apalagi menemuiku.

Sebelum surat itu kusadari, kupikir perginya ia hanya sekadar karena ia sedang sibuk atau bosan. Re orangnya cepat bosan. Aku tahu itu sebab aku mengenalnya bukan baru sehari atau dua hari ---sudah bertahun-tahun sejak SMA.

"Aku punya dua buah alamat, yang satu di Ubud, yang satu di Canggu. Aku nggak ngerti jika selain di kedua tempat ini dia ada di mana." Teman Re memberiku dua buah alamat di Bali. "Aku juga sudah lama nggak ketemu dia. Terakhir aku ketemu sewaktu aku di Bali. Kami ketemu di Deus dan dia mengajakku ke tempat ia tinggal di Canggu. Setelah itu dia memang sempat bilang akan beberapa waktu stay di Bali karena harus menggarap film pendeknya. Tapi itu lama sekali, Ra. Sebelum dia dan teman-temannya ke Paris. Sepertinya nggak mungkin kalau dia masih di sana. Dia udah pulang."
"Dia nggak ada di rumah."
"Kamu mau apa sih?"
"Menjawab pertanyaan dia."
"Kamu tahu Re itu sedikit sinting efek kebanyakan bergaul dengan teman-temannya yang.. yah kamu tahu sendiri. Jadi, kalau dia menghilang seperti ini, harusnya kamu tidak perlu panik."
"Tapi biasanya dia tidak memberi saya surat."
"Baiklah terserah kamu, Ra."

***

Mudah sekali sebenarnya menghilang dari kamu. Kita ini orang asing, terpisah dengan jarak yang jauh sekali. Dan kamu tidak tahu apapun dalam diri saya selain yang kamu lihat di social media. Ra, kita adalah dua orang asing yang berjalan sendiri-sendiri. Dan pada perjalanan kita masing-masing, kita pernah dipertemukan. Hanya bertemu. Sudah itu saja. Setelahnya kita berjalan sendiri-sendiri kembali, seperti seharusnya.

***

"Saya baru membaca buku Soe Hok Gie."
"Saya tahu dia."
"Kamu tahu dia?"
"Iya lah. Saya membaca bukunya sejak SMA. Dia mahasiswa yang keren pada zamannya."
"Kamu tahu dia pria romantis?"
"Maksud kamu?"
"Hahaha yaudah lupakan."

Kami di Prawirotaman. Jam di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul dua. Sudah pagi. Kami pergi dari sore tadi. Sudah mengitari seluruh jalanan Jogja, menikmati kuliner-kuliner yang sedang ngehits bahkan sampai ke pelosok Imogiri, terakhir menikmati bir di Prawirotaman setelah kenyang makan di Warung Bu Ageng.

"Sebenarnya saya paling suka di Jakarta."
"Kenapa?"
"Di sana orang menikmati bir sebagai seni, seperti di Bali."
"Di mana yang paling kamu suka?"
"Beer Garden, SCBD."
"Kapan-kapan saya ajak kamu ke sana. Itu tidak jauh dari kantor."
"Saya tahu."

Besok pagi aku pulang ke Jakarta dengan pesawat paling pagi. Aku nggak yakin bisa bangun, tapi menurut ide Re sebaiknya aku memang nggak usah tidur. Setelah ini kita ambil barang di hotel lalu ke bandara. Itulah kenapa hingga jam segini kami masih di sini. Bicara random apa saja, seolah ingin merangkum jeda yang telah kami lewatkan berbulan lamanya tidak bersua.

"Kerja capek yah?"
"Ya.. sedikit. Tapi kalau kita cinta, sepertinya capeknya nggak berasa. Apalagi dengan kerja kita bisa senang-senang seperti ini?"
"Kamu materialistis sekali, Ra."
"Memang kamu nggak?"
"Nggak tahu. Hahaha. Tapi saya tidak mau kerja."
"Kenapa?"
"Saya mau jadi seniman aja."
"Itu juga pekerjaan."
"Tapi saya cuma melukis dan membuat film."
"Beberapa orang bekerja dengan cara seperti itu, Re."
"Tapi saya pasti diusir Ayah dan Ibu kalau bilang mau jadi seniman. Hahaha. Susah sekali, Ra, lulus dari kampus bangsat kayak UGM. Saya mau gila rasanya."
"Coba kamu fokus. Jangan main-main terus."
"Saya nggak main-main. Tadi kamu sendiri bilang beberapa orang bekerja dengan cara seperti itu; melukis, membuat film. Sekarang kamu bilang main-main?"
"Sudah.. sudah.. kamu kebanyakan minum. Kita pulang aja yah?"
"Nanti kamu nggak bangun. Kamu nggak mau pulang ke Jakarta yah? Kamu mau tetap di sini? Kamu tidak takut dipecat karena nggak ngantor?"

Re sepertinya kebanyakan minum dan dia benar-benar ketiduran di mobil. Aku meninggalkannya di parkiran hotel sementara aku mengemasi barang-barang. Tapi sekembalinya aku ke parkiran dia sudah ceria dan menggenggam sebotol minuman bersoda yang didapat dari Circle-K tak jauh dari sini.

"Kamu tega sekali ninggalin saya di mobil sendiri. Kalau saya diperkosa gimana?"
"Hahaha. Jangan aneh-aneh."
"Ra, saya serius."

Tapi ekspresi Re nggak pernah bisa bohong. Kami tertawa sepanjang perjalanan hingga bandara.

"Kamu yakin bisa nyetir sendiri pulangnya?"
"Bisa."
"Mending suruh Angga jemput."
"Angga bangun jam 9 pagi, itu paling pagi."
"Atau siapa aja yang bisa jemput ke sini?"
"Jangan aneh-aneh. Haha. Meski Sim A saya ditahan Ayah tapi saya bisa nyetir kalau cuma sampai rumah. Bandara ke Condongcatur tidak jauh, apalagi subuh-subuh begini nggak ada kendaraan."
"Tapi kamu habis mabuk."
"Saya nggak mabuk yah!"
"Kamu habis minum."
"Kamu juga!"
"Saya cuma dikit."
"Saya minum tapi nggak pernah mabuk, dan saya tidak merokok."
"Yaudah terserah."
"Hati-hati."
"Kamu juga."

Terakhir dia memelukku dan memasukkan selembar kertas ke dalam kantong jaket yang aku kenakan; sebuah surat.

Lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi;
Kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya
Kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
Ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita
Apakah kau masih akan berkata,
"Kudengar derap jantungmu."
Kita begitu berbeda dalam semua;
Kecuali dalam cinta.
(Gie)

***

Bersambung jika tidak malas menulis lagi.



Photo Source

Tuesday, December 27, 2016

Fragmen Desember


Seperti yang biasa kau lakukan
Di tengah perbincangan kita tiba-tiba kau terdiam
Sementara ku sibuk menerka apa yang ada di fikiranmu

Ini baru kedua kalinya seperti ini. Tapi perempuan itu hampir bisa menebak bagaimana akhirnya. Bagaimanapun cerita fiksi akan ada endingnya, seperti drama-drama di televisi atau juga berbagai pentas teater yang sering ia tonton. Desember di Jakarta tidak sedingin di Jogja. Tapi atmosfer di manapun selalu sama. Ia selalu cemas menghitung hari, menghitung mundur pada detik-detik pertemuan.

Sial. Perempuan itu selalu lupa bagaimana awalnya. Tetapi sepertinya kini dia bukan remaja lagi ---bukan anak kecil. Dan seperti halnya orang dewasa, ia sudah tahu bagaimana hal ini akhirnya.

***

Menghitung hari. Menghitung mundur di penghujung tahun.

Sesungguhnya berbicara denganmu
Tentang segala hal yang bukan tentang kita;
Mungkin tentang ikan paus di laut
Atau mungkin tentang bunga pagi di sawah
Sungguh bicara denganmu tentang segala hal yang bukan tentang kita,
Selalu bisa membuat semua lebih bersahaja

Ia sudah tahu akhirnya. Perempuan itu menyebutnya takdir. Ia heran bagaimana setiap fragmen yang sudah acak-acakan itu tetap tersimpan rapi bahkan sejak ia SMA. Hingga kini. Bertahun-tahun setelah ia sudah meninggalkan masa putih abu-abunya. Bertahun sejak ia memutuskan menjadi dewasa.

Malam jangan berlalu
Jangan datang dulu terang
Telah lama kutunggu
Ingin berdua denganmu

***

Satu potongan kecil interpretasi lagu Mari Bercerita milik Payung Teduh yang didengarkan sejak semalam. Lagu Payung Teduh pasti diciptakan saat mereka sedang jatuh cinta. Aku sedang membayangkan suatu sore di Jogja, di pinggir Malioboro dekat Stasiun Tugu, di bawah pohon-pohonnya yang teduh di depan pelataran Gedung DPRD. Kadang-kadang di tengah lamunan itu aku juga ngebayangin suatu malam di Bandung, tak jauh dari stasiun kereta, atau di Bukit Lembang, di salah tempat ngopi dengan kepulan asap kopi dari cangkir yang berbau harum ---dengan seseorang.

Aku memutar berkali-kali semua lagu Payung Teduh sejak berhari-hari lalu. Nggak tahu kenapa. Kadang-kadang aku memutar White Shoes atau Mocca atau kadang Stars and Rabbit, tapi selalu kembali lagi ke Payung Teduh. Beberapa waktu lalu Tahta mengontakku untuk project menulis lagu. Ini akan jadi lagu kedua yang kami buat. Pertama waktu kami SMA dulu bareng Ridho dan aku nggak ngerti gimana akhirnya. Wkwk. Meski aku sempet denger demonya yang cukup bagus, tapi kayaknya akhirnya kami sibuk cari kuliah dan lupa pada project itu. Nah, yang kedua ini seharusnya jadi, dan harus bagus.

Tapi Tahta harus nunggu sampai aku balik dari Bandung. Hehe.




Photo Source

Saturday, March 12, 2016

Suatu Sore di Jalan Malioboro


Kereta kami sampai di Stasiun Tugu sekitar pukul empat sore. Begitu menginjakkan kaki di peron, kuhirup udara Jogja dalam-dalam. Selalu menyenangkan. Aku banyak setuju dengan orang-orang yang mengatakan Jogja adalah kota ternyaman untuk orang tinggal. Sayangnya sejak kecil aku belum pernah memiliki kesempatan tinggal di sini.

Temanku Rafa menenteng iPadnya seperti membawa talenan. Nggak ngerti lagi lah, sama dia.

Aku cuek dengan semua tingkah rempong Rafa semenjak keberangkatan kami dari Bandung tadi pagi. Awalnya aku udah bilang untuk nginep di kosku aja yang relatif lebih dekat dengan Stasiun Bandung. Tapi dia milih berangkat pagi buta dari rumahnya di Kabupaten Bandung. Kami nyaris ketinggalan kereta. Untung masih bisa ngejar meski akhirnya kami ngos-ngosan. Segala bentuk umpatan udah kulontarin di depan muka Rafa, tapi sepertinya dia kurang tidur. Dia malah langsung menarik jaketnya dan tidak mengacuhkan semua umpatanku. Brengsek memang.

Perjalanan dari Bandung ke Jogja menggunakan kereta ekonomi tidak pernah menyenangkan. Ini bukan kali pertamaku. Meski sekarang katanya kereta ekonomi jauh lebih baik daripada dulu, tapi tetep aja bikin remuk untuk perjalanan sejauh itu.

"Lu udah ngehubungin dia belum? Ini dia jemput kita nggak?" tanyaku sambil mengambil sebotol air mineral dari ransel. Kami berencana menghabiskan lima hari di Jogja dengan itinerary yang dibuat oleh Rafa ---yang katanya udah didiskusikan dengan temannya anak UGM itu.

"Gue cuma bilang kita sampai di Jogja jam empat sih. Hape gue mati, Fiq, gue nggak bisa ngehubungin dia nih. Kayaknya harus nyari tempat ngecharge dulu deh."

"Hah? Hape mati? Ah, nggak ngerti lah gue sama lu," ujarku menggerutu.

"Udah lah, nggak usah berisik. Kita ke masjid yang deket Malioboro aja, sholat di sana, tiduran ngelurusin punggung, sambil gue ngecharge hape biar bisa ngontak Nadhira." Rafa lalu melangkah meninggalkan stasiun. Aku mengekornya di belakang. Kami berjalan kaki menuju masjid di kantor DPRD DIY.

***

Usai menjalankan ibadah, aku memejamkan mataku sebentar. Hape Rafa udah nyala, tapi sepertinya dia mikir untuk bagaimana mengabarkan yang paling ideal kepada seorang gadis bahwa ia sudah sampai di kotanya dengan selamat, tanpa ada kalimat ingin dijemput, tapi berharap dengan kesadaran gadis itu menyambanginya untuk sekadar mengajak makan, atau apalah itu. Rafa terlalu kikuk menghadapi gadis.

"Eh tapi jujur gue takut awkward nih ketemu dia. Apa kita langsung ke hotel aja ya?"

"Ih, gila!" Aku bangkit dari tidurku. "Gila lu kalau gitu. Gue bela-belain nemenin ke sini, trus lu nggak berani ketemu gitu?" tanyaku. Perkataan Rafa barusan nyaris menyulut emosiku.

"Ya kan gue cuma takut awkward gitu."

"Santai lah!" Aku kembali tiduran. Sembari memejamkan mata, aku kembali membayangkan gimana wujud si Nadhira itu sekarang. Kira-kira udah setahun sejak di Pasar Seni itu aku melihatnya. Cewek, kuning langsat, pakai sepatu boots, pakai rok pendek dan kaos awut-awutan, rambut pirang. Hmm aku nggak terlalu merhatiin wajahnya, jadi aku nggak ingat sama sekali.

"Dia di McD nih, katanya kita disuruh ke depan DPRD aja, ketemu di sana," ujar Rafa. Ekspresi mukanya terlihat aneh.

"Sok, samperin!" Aku bangkit, tapi Rafa malah bergeming. "Ayok!"

"Gue nggak pede sama potongan rambut gue."

***

Begitu kami keluar dari pelataran masjid, Jalan Malioboro yang bising segera menyambut kami. Aku membuntuti Rafa yang melangkah dengan kecepatan yang sangat pelan. Entah karena sebenarnya dia masih nervous atau emang dia lagi capek, karena aku sendiri juga merasakan itu efek perjalanan dengan kereta termurah sejak pagi. Yang jelas permasalahan rambut tadi segera terselesaikan karena aku ingat aku membawa sebuah topi di ranselku. Aku menyuruhnya memakai topi itu agar rambutnya yang baru dipotong sehari sebelum ke Jogja itu nggak mengganggu rasa percaya dirinya. Tapi memang kalau boleh jujur agak aneh melihat Rafa 'sepolos' itu. Aku nggak ngerti apa yang membuat dia memutuskan memotong cepak rambutnya dan membabat habis jambang yang selama ini selalu bikin aku iri karena nggak bisa numbuhinnya.

Jogja terasa lembab. Feelingku, ini efek sejak pagi hujan, lalu menjelang siang matahari meninggi. Rasanya agak gerah, namun angin yang kencang membawa efek dingin. Secara cuaca, kupikir Bandung lebih baik.

Aku menangkap sosok perempuan duduk di bangku depan DPRD. Langkah Rafa makin melambat, sampai akhirnya beberapa meter sebelum kami sampai, ia berhenti. Rafa menarik napas panjang sebelum akhirnya ia melangkah lagi. Perempuan itu duduk di bangku taman di bawah pohon besar depan kantor DPRD DIY. Ia memandang lurus ke depan, ke arah iring-iringan kendaraan yang memadati Jalan Malioboro. Dari kejauhan aku udah senyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana Rafa akan menyapa perempuan itu. Yang aku syukuri adalah.. rambutnya tidak lagi pirang. Jujur warna itu kurang cocok untuk dia.

Kami sampai pada jarak beberapa langkah di samping perempuan itu.

"Assalamualaikum." Kalimat sapaan Rafa membuatku nyaris terjungkal. Aku hampir pingsan menahan tawa.

Perempuan itu menoleh ke arah sumber suara dan secara reflek berdiri menyadari kehadiran seseorang, eh, dua orang. Ekspresinya semacam kaget, atau mungkin dia juga hampir pingsan denger kalimat sapaan Rafa yang terkesan formal banget?

Beberapa detik sejak sapaan pertama Rafa, nggak ada respons. Rafa mendekatkan langkahnya. "Apa kabar?" tanyanya lagi. Kalau sampai sekali ini masih nggak direspons bisa jadi cewek ini bener-bener pengin muntah lihat tampang Rafa.

"Waalaikum salam, baik. Kamu?" Syukurlah dia akhirnya merespons.

Aku mengamati penampilan Nadhira dengan seksama. Kali ini seingatku nggak sekacau waktu pertama kali kulihat dia di Pasar Seni. Nadhira mengenakan dress tanpa lengan berwarna abu, dengan kerah model vintage berwarna putih dikombinasikan dengan potongan rok stripe vertikal berwarna abu-putih. Ada belt kecil berwarna merah yang terpasang pada potongan roknya yang menjuntai hingga lutut. Ia memakai sepatu kulit, model boots juga, tetapi tidak setinggi yang kulihat di Pasar Seni dulu ---hanya menutup sampai mata kaki. Sebuah sling bag kecil berwarna cokelat ---juga dari bahan kulit--- melengkapi penampilannya. Wajah Nadhira sangat Jawa; sorot mata, bentuk alis, hidung, mulut. Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai. Cuma ada satu jepit rambut berwarna putih menghiasi rambutnya yang kini berwarna kecokelatan. Perpaduan itu membawa satu penilaianku; cantik. Pantes ada yang ngejar-ngejar sampai sejauh ini.

Rafa tersenyum. "Alhamdulillah baik juga," jawabnya. Beberapa saat mereka saling diam, keduanya menunduk. Bagi Rafa, mungkin ini lebih dari sekadar nervous atau nggak pede karena mukanya terlalu 'bayi' efek cukur jambang, ini pasti soal hati yang nggak karuan, jantung berdebar, aliran darah yang mendesir lebih kencang, ditambah udara Jogja dan romantisme Malioboro di sore hari seperti ini. Ck! Ini pasti berat.

"Ehm!" Aku sengaja berdeham untuk memecah suasana. Mulutku menyunggingkan senyuman.

"Oh, Nad, ini.. temenku. Kenalin, ini Syafiq. Syafiq, ini Nadhira," Rafa akhirnya memperkenalkanku. Aku maju selangkah.

"Hai, Nadhira," ujarku sambil mengulurkan tangan.

"Halo, Syafiq," jawabnya sambil menyambut uluran tanganku. Rafa melirikku sekilas. Aku yakin dia kesal karena melewatkan kesempatan berjabat tangan dengan gadis idamannya. Aku tertawa puas dalam hati. Rasain! Salah sendiri sok jaim.

Untuk beberapa saat kami hanya berkomunikasi melalui pikiran masing-masing. Jalan Malioboro masih bising dengan suara knalpot, klakson, dan mesin-mesin yang entah lulus uji emisi atau enggak. Tapi bagi Rafa, yang aku tahu gemuruh jalanan ini nggak seramai suara-suara yang memenuhi isi pikirannya. Ia kacau. Pantas dia nggak berani menemui Nadhira sendirian. Dan cewek ini, kenapa juga dia diam? Apa sekarang dia udah berubah ---nggak seatraktif yang diceritakan Rafa selama ini?

Entahlah, yang jelas perutku lapar sekali karena sejak pagi belum menyentuh nasi.

"Nadhira, bisa ngerekomendasiin tempat makan yang enak dan murah nggak?" tanyaku memecah keheningan.

"Hah? Makan?" Meski tergagap, Nadhira akhirnya merespons. "Emm mahal kalau di sini, kalau di daerah kampus UGM aja gimana?"

"Boleh tuh!" jawabku sambil menyenggol Rafa. Dia bergeming. Jatuh cinta itu teman, kau tahu, sungguh rumit.



Photo Source

Rencana ke Jogja


Aku sebenarnya nggak merencanakan ke Jogja di penghujung masa liburan seperti ini. Selain karena sebenarnya aku butuh tenaga ekstra buat menghadapi minggu pertama kuliah, juga karena keuanganku sedang menipis. Oke, ini klasik sekali untuk anak kost.

"Nol budget deh." Dia mencoba meyakinkanku sekali lagi.

"Se-nol-nol-budget-nya tuh yang namanya liburan, kita tetep butuh duit, Fa. Buat transpor ke sana, transpor di sana, biaya hotel, biaya tiket-tiket masuk ke tempat wisata, makan.." Gue mulai mulai mikir keperluan apa lagi yang mengeluarkan biaya. "Oleh-oleh?"

"Anjir lu mikir oleh-oleh segala," ujarnya menggerutu. Aku ketawa tiap liat dia kesel kayak gitu.

"Kecuali gini, bro.. lu bayarin keperluan gue di sana. Yaa.. yang dasar-dasar aja lah, makan, tidur, transpor kita bagi dua. Gimana?"

Temenku akhirnya diem setelah dari tadi ngerecokin aku dengan hal-hal soal liburan, ke Jogja, dan sebagainya. Mungkin dia ngerasa keberatan kalau harus nanggung makanku segala. Ah, tapi dia rich kid. Aku yakin 100% hal-hal semacam nraktir temen makan, apalagi di Jogja, nggak akan bikin kantong dia jebol.

"Tapi.." Dia akhirnya bersuara. "Kita naik kereta yang paling murah."

"Sok atuh kita berangkat!" Aku terkekeh membenarkan letak kacamataku. Temenku itu mendengus kesal. Hari ini usai mengelana nggak jelas, kami menghabiskan senja yang selalu cantik di Bukit Moko, Cimenyan.

***

Kalian pasti heran mengapa ada orang yang sebegitunya mau berkorban untuk sebuah acara liburan yang terkesan maksa ini. Hm biar kujelaskan. Mulanya adalah di Pasar Seni ITB taun lalu. Kami ---aku, temanku tadi, dan tiga teman kami yang lain, seperti halnya mahasiswa ITB pada umumnya, memutuskan datang. Yang utama, karena mungkin kami nggak tahu harus ngapain di akhir pekan kayak gini ketika tugas kuliah terlalu menjenuhkan buat diajak bercumbu. Kedua, mungkin karena teman kami, Reno, punya gebetan anak DKV asli Bali yang kebetulan jadi panitia di acara ini. Praktis kami ke sana sebagai bentuk dukungan moral, sekaligus mencari hiburan.

Dari kami berlima, aku, Rafa, Fadhil, Khaira, dan Reno, tak satupun yang memiliki 'someone' untuk diajak berkencan di akhir pekan. Kecuali Fadhil dan Khaira, itupun keduanya ogah mengakui bahwa ada sesuatu di antara mereka. Reno masih dalam usaha pendekatannya dengan anak DKV itu. Rafa, ah, dia mah dari dulu ambisnya cuman mentok di ngejar indeks, bukan ngejar cewek. Kalau aku, hmm nanti kalau udah saatnya kalian tau sendiri.

Kami mungkin jomblo, tapi percayalah sejak diresmikan pertama kali oleh Walikota Bandung, kami belum pernah ke Taman Pasupati. Rafa bahkan pernah memaki-makiku karena pernah dengan sengaja aku berniat mengajaknya ke sana. Hahahaha!

Pasar Seni mungkin bukan sesuatu yang menarik buat Rafa ---buat kami semua kurasa. Cuma Reno yang tertarik, itupun karena ada faktor lain. Kami berangkat berlima, tapi sampai di sana, tinggal Rafa yang kutemukan berjalan mengekorku. Kami persis pasangan gay yang keberadaannya banyak di Bandung. Aku nggak ngerti gimana kejadiannya dan bagaimana awal mulanya, tapi di sana perhatian Rafa benar-benar teralihkan oleh suara gelak tawa. Iya, dia mulanya mendengar percakapan beberapa orang, lalu mereka tertawa. Tertawa yang berisik ---seperti kondisi di sana. Tapi, yang paling nggak kusangka, Rafa justru mencari sumber suara.

Dan di sana.. di ujung sana, seseorang dengan rok pendek, kaus bertuliskan merk terkenal pabrik kata-kata asal Bali, sepatu boots, dan rambut yang dicat pirang tergelung, lengkap dengan bandana yang berwarna menyala ---mirip dengan tas Jansport kecil yang ada di punggungnya--- mampu mengalihkan perhatian Rafa. Aku tidak kenal siapa perempuan itu. Tapi aku berani bersumpah, malam itu, untuk pertama kalinya aku melihat temanku Rafa memperhatikan perempuan.

Dua puluh tahun dia tinggal di Bandung, yang konon terkenal mojang-nya nggak nguatin, baru pertama kalinya sejak aku mengenalnya, malam ini fokusnya teralihkan oleh perempuan ---yang menurutku biasa aja. Tapi perempuan itu sungguh terlihat bahagia. Dia tertawa, mereka tertawa, lepas sekali, entah menertawakan apa. Dan Rafa sangat tertarik. Beberapa saat ia terpaku pada jarak yang kesekian. Ia bergeming, bahkan setelah kuguncang-guncang bahunya. Jujur aku takut dia kesurupan.

***

Berbulan setelahnya aku mendapati jawaban atas misteri di malam Pasar Seni ITB itu. Perempuan itu bernama Nadhira. Iya, Nadhira, mahasiswa UGM, teman Rafa semasa SMA katanya. Aku berteman dengan Rafa sejak SMP, tapi aku nggak kenal siapa perempuan itu. Mungkin karena sejak SMA keluargaku pindah ke Tangerang, makanya aku nggak begitu paham dengan siapa aja Rafa bergaul selama SMA. Tapi tak hanya aku, ternyata teman-temanku yang lain juga tidak kenal siapa perempuan itu. Kami berlima bersahabat sejak SMP, dan tetap mereka tidak tahu siapa itu Nadhira.

"Bukan orang Bandung, cuma kenalan aja dulunya," aku Rafa setelah terdesak oleh kami.

"Uuu kenalan..." Koor serentak dariku, Fadhil, dan Khaira membuat Rafa gusar.

"Apa sih kalian?"

"Kenalan aja, sih, Ra, masa nggak boleh?" Aku menyenggol bahu Khaira yang sedang menyeruput green tea latte. Dia nyaris tersedak.

"Sial lu! Hahaha!" Khaira kesal, tapi tetap tertawa.

Pasalnya sudah beberapa minggu ini kami memerhatikan gelagat yang berbeda dari Rafa ---dia jadi lebih sering membuka ponselnya. Entah karena level keponya kami berlebihan atau gimana, kami diwakili Khaira akhirnya memutuskan membuka ponsel Rafa ketika si empunya ke toilet, dan.. taraaa! Terungkap semua. Seseorang di aplikasi messenger ponselnya mengalihkan dunia Rafa dari kami. Seseorang yang ternyata juga pernah mengalihkan dunia Rafa ketika di Pasar Seni. Iya, gadis dengan sepatu boots dan rambut yang dicat pirang itu. Dan namanya Nadhira, mahasiswi UGM, teman Rafa dari SMA.

Rafa nggak bisa mengelak dari bullying yang kami lakukan, meskipun ia tetap tutup mulut. Tapi aku ini temannya dari SMP, yang paling dipercaya Rafa dibanding mereka semua. Suatu hari dia pasti cerita semuanya. Aku yakin itu.

***

"Jujur aja gue udah lama banget ngga ketemu dia.. Empat tahun mungkin?" Sebuah kafe di Dago menjadi tempat favorit kami kalau lagi berdua ---lagi-lagi kami seperti pasangan gay. Rafa akhirnya bercerita semuanya, meskipun aku merasa dia memotong beberapa bagian dalam cerita. Tapi aku cukup paham. Aku cukup menangkap maksudnya.

"Kenapa lu harus ninggalin dia? Emm maksud gue, memutus kontak dari dia?"

"Jujur gue kesel sih, Fiq. Gue ngerasa kita tu berangkat dari titik yang sama, tapi dia sampai dengan selamat, sementara di sini gue ngerasa kelempar banget gitu," Rafa bercerita dengan raut muka serius. FTTM bukan mimpi seorang anak yang gagal di matematika ketika tes masuk SMA. Menjadi engineer pasti mengerikan. Aku berusaha paham itu.

Rafa diam, memandang lurus ke depan seperti menerawang, menembus garis waktu yang membawa ingatannya ke masa-masa di mana dia masih menginginkan masuk ke sana; FK UGM.

"Gue mungkin iri sih, sama dia," ujarnya lagi. "Lu inget nggak, gimana dia ketawa waktu itu?"

Aku mengangguk. "Lepas. Kayak nggak ada beban apapun."

"Ya dia selalu gitu, Fiq. Semacam lucky-girl gitu lah. Nggak pernah ada sialnya. Lu bayangin aja dia dengan mudahnya masuk FK, ya meskipun di Undip. Tapi dia lepas dengan seenaknya, cuma dengan alasan yang pengin FK tu ayahnya, bukan dia. Trus katanya dia masuk IKJ, karena suka sama film."

"Kok jadinya UGM?"

"Nggak keterima sih kayaknya."

"Ya udah, berarti kalian tu sama! Nasibnya sama-sama kelempar di tempat yang kalian nggak begitu suka. Trus masalahnya di mana?" tanyaku heran.

"Enggak tau sih waktu itu gimana. Ya maklum lah, TPB nggak pernah mudah dan lumayan bisa bikin kacau pikiran," ujar Rafa berusaha jujur. Aku memaklumi semua penjelasan dia dan menggunakan nalarku yang paling praktis, mungkin dia kesel aja sama cewek itu, akhirnya memutuskan untuk menyudahi pertemanan sesimpel nggak pernah ngontak dan nggak pernah nemuin, bahkan ketika Rafa ke Jogja berkali-kali dan ke kampus tempat si cewek itu kuliah. Kejam yah perasaan memang.

"Tapi, Fa. Kok tiba-tiba lu pengin ngontak dia lagi?"

Rafa melihat lurus ke arahku, lalu menunduk. "Gue nggak menampik kalau selama gue kenal sama dia, dia itu temen yang nyenengin, unik. Bisa dibilang temen spesial lah. Gue semacam ada ikatan tertentu gitu sama dia. Nggak ngerti sih, kenapa. Tapi gue ngerasa dia salah satu temen deket gue aja. Dan gue ngerasa bersalah atas pertengkaran kita yang sebenernya nggak penting itu."

"Kalian berantem?" potongku.

"Gue sih ngeliatnya gitu, awalnya." Rafa menghela napas. "Gue pikir dia marah, atau nyimpen dendam, atau semacam itu ke gue. Makanya gue selalu sungkan buat sekadar nyapa dia. Padahal gue selalu liat post dia di Instagram, check-in di Path, twit dia, banyak sih. Gue bahkan masih nyimpen nomer hape dia di kertas kotretan gue jaman SMA." Rafa diam sebentar.

"Terus?"

"Tapi gue nggak berani nyapa dia duluan, karena gue pikir dia marah atau masih kesel sama gue."

"Hmm lalu?"

"Sampai akhirnya gue ketemu di Pasar Seni itu. Enta momennya yang pas atau gimana, hari-hari itu emang gue kayak lagi kepikiran jaman-jaman SMA gitu. Dia salah satunya," Rafa bercerita serius. "Akhirnya gue ngechat dia buat kali pertama. Dan sumpah, Fiq! Kita tu kayak nggak ada apa-apa gitu. Kayak nggak pernah terjadi apapun. Kayak kita baru dua hari nggak ngobrol. Jadi, selama ini gue tu cuma terkurung sama pikiran-pikiran negatif gue sendiri. Dia tu nggak marah sama gue, tetep kayak Nadhira yang gue kenal dulu!"

Cerita Rafa terdengar antusias. Aku tersenyum tipis melihat ekspresi sahabatku. Berjam-jam kemudian, cerita kami dipenuhi nostalgia Rafa bersama perempuan yang dipanggil 'Nad' itu. Rafa jarang sekali bercerita mengenai apa yang dirasakannya. Terakhir aku mendengarnya bercerita seperti ini, terlebih dalam topik soal perempuan, adalah ketika TPB. Seorang gadis dari Depok berhasil masuk ke lingkaran pertemanannya. Tetapi setelah di tahun kedua gadis itu memutuskan pindah ke UI ---mengejar mimpinya masuk FK seperti Rafa, aku tidak pernah lagi mendengar cerita soal dia. Sampai hari ini ketika Rafa bercerita panjang lebar lagi. Aku yakin terjadi sesuatu yang tidak biasa, terlihat dari sorot mata sahabatku yang menyala. Nadanya antusias mencerita percakapan demi percakapan mereka.

Sampai akhirnya di penghujung liburan, ketika sebagian teman sudah di Bandung, dan duitnya menipis untuk sekadar ongkos jalan-jalan, ia mengajak kami liburan, ke Jogja. Semua menolak dengan alasan serupa; udah capek, nggak ada duit pula.

"Kenapa baru sekarang sih lu bilang?" Fadhil.

"Lu kan tau gue ke Surakarta selama liburan, kenapa nggak dari kemarin-kemarin?" Khaira.

"Sorry banget, Fa, gue udah ada janji jemput Jenny di Jakarta. Dia dari Denpasar ke Jakarta dulu soalnya." Reno.

Tapi mereka tidak tahu ada apa sebenarnya dengan Rafa.



Photo Source

Thursday, March 10, 2016

Pertemuan Selanjutnya


Selama ini aku berpikir manusia diciptakan Tuhan memiliki ingatan lengkap dengan pasangannya; kemampuan untuk melupakan. Dalam hidupnya, manusia ditakdirkan Tuhan untuk mengalami kejadian ---sesuatu yang tak bisa dihindarinya. Dalam setiap hal yang dialami, manusia akan mengingat.

Namun, tak semua hal menyenangkan untuk diingat. Sebab itu Tuhan menciptakan kemampuan untuk melupakan. Agar kehidupan manusia seimbang. Agar manusia bisa memilih mana hal-hal dalam dirinya yang bisa dilupakan, mana yang akan dikenang selamanya dalam ingatan. Tapi pada satu kejadian bernama jatuh cinta, kurasa Tuhan tidak memberikan pilihan.

"Jare wes lupa.." Rendy mengaduk es tehnya. Mie ayam kantin Fisipol yang legendaris itu ludes dilahapnya sambil mendengar ceritaku yang panjang tentang Rafa.

"Nggak ngerti, Ren.. Aku tu udah give up banget habis kita ribut itu. Kita juga udah nggak kontakan sejak aku semester dua kuliah. Sekarang aku udah mau semester enam, bayangin!" ujarku lagi. "Tapi dia ngehubungin aku lagi.. setelah selama ini aku pikir kita tu udah saling lupa kita pernah kenal satu sama lain.."

"Hm trus?"

Aku diam. Memandang lurus ke arah temanku yang ekspresinya selalu polos dan datar itu.

"Trus aku nggak menampik kalau ternyata aku kangen banget sama dia.. huhu.."

"Jangan nangis," katanya. "Nanti disangkanya aku kurang ajar ke kamu lho."

Kantin Fisipol mulai sepi menjelang libur panjang semester. Hanya satu-dua orang yang masih di kampus. Sebagian besar mahasiswa sudah pulang kampung. Kalaupun belum, mereka nggak ke kampus. Aku pun menjadwalkan ke kampus hari ini cuma untuk ketemu Rendy ---yang katanya ada interview dengan orang CDC Fisipol, untuk cerita. Meskipun aku tahu cerita dengan Rendy nggak membuahkan solusi apapun, setidaknya aku bisa cerita tanpa diinterupsi.

"Trus, kemarin kalian ketemu ngapain aja?" tanya Rendy. Aku menyeruput es tehku yang tinggal setengah.

"Makan."

"Terus?"

"Ke Kopma."

"Lalu?"

"Ke hotel."

"Ngapain?" Ekspresi Rendy berubah.

"Nganterin aja."

"Trus?"

"Udah. Mereka mau ngecamp di pantai-pantai gitu, Ren. Ya, aku cewek sih, masa ikut?"

"Jadi mung gara-gara makan kamu jadi galau begini?"

"Ya enggak.. Enggak karena makannya."

"Lha terus karena apa?"

"Ya karena kita ketemu! Kita saling kontak lagi!"

"Tapi ya habis ini dia pulang ke rumahnya. Paling nanti nggak kontak lagi."

Aku diam mencerna kalimat Rendy. Bener juga. Paling nanti nggak kontak lagi. Duh, lalu buat apa empat bulan terakhir ini kami berkomunikasi, chatting panjang-panjang, teleponan, ketemu, kalau ujung-ujungnya ngilang lagi?

"Tapi besok lusa aku ketemu dia lagi," ujarku sambil mengaduk-aduk minumanku yang tinggal menyisakan es batu.

"Jadi, kamu nggak pulang mung nggo nunggu dia say goodbye besok lusa?" ujar Rendy. Kali ini ia menatap wajahku lurus.

"Enggak juga," kataku jujur. "Pertama, rumahku tu ya di Condongcatur. Kalaupun Ibu sama Ayah tinggal di Banjarmasin, itu karena kerjaan. Yang ngekost tuh ya, mereka. Jadi, terminologi 'pulang', nggak cocok buat aku. Kedua, adik-adik aku ada di sini, dan mereka udah mulai sekolah lagi. Pun kalau akhirnya aku ke Banjarmasin, paling-paling nunggu mereka ada tanggal merah biar ke sana bisa bareng. Ketiga, kamu tau kan, filmku dapat penghargaan? Hehehe." Aku terkekeh. "Aku harus datang ke awardingnya lah!"

"Oh iya ya, kan weekend ini awardingnya. Masnya diajak dong?"

"Astaghfirullah! Ren!" Aku menepuk keningku. "Besok lusa kan Rafa sama Syafiq udah di Jogja lagi?!" ujarku panik.

***

Usai bertemu Rendy di kantin Fisipol, kurasa masalahku bertambah satu lagi: aku galau. Aku bingung menentukan pilihan apakah akan datang ke awarding night tanpa Rafa (berarti aku melewatkan saat-saat berharga bisa main bareng dia) atau mengajaknya ---dengan risiko dia salah kostum, atau dia tidak mau ikut karena merasa akan salah kostum.

Aku mondar-mandir mencari jalan keluar yang paling pas. Seingatku kemarin ketika bertemu di Malioboro, baik Rafa maupun Syafiq memakai kaos dan jeans dengan masing-masing menenteng Jansport yang isinya pasti baju ganti, mungkin juga kaos. Yah, mereka ke Jogja untuk tujuan wisata alam, bukan datang ke pameran atau bahkan menghadiri malam penghargaan. Aku yakin 100% mereka nggak menyediakan baju formal ---dresscode di malam penghargaan nanti.

Kemungkinan terburuknya mungkin aku memang terpaksa 'minta maaf' pada mereka karena malam ini membatalkan rencana jadi tour guide menikmati wisata kuliner Jogja seperti yang kujanjikan. Lalu menggantinya dengan sarapan keesokan harinya. Huh, itupun kalau aku bangun.

Seingatku mereka bilang akan kembali ke Bandung hari Minggu pagi. Itu artinya, aku bahkan mungkin melewatkan sama sekali kesempatan untuk sekadar say goodbye dengan Rafa. Lalu kalau yang dibilang Rendy benar bahwa setelah ini kami akan saling menghilang seperti sebelumnya, yah, berarti cerita ini tamat sampai sini.

Tok tok tok

Pintu kamarku diketuk.

"Masuk," ujarku. Wajah Angga muncul. "Kenapa, Ngga?"

"Aku rak tego ndelok raimu." Angga meletakkan tas besar di tempat tidurku. "Tawarin mereka ikut. Kalau mau, ini bajunya. Kalau enggak, rejekimu," ujar Angga tanpa ekspresi.

Aku buru-buru membuka isi tas besar tersebut. "Angga!" Aku nyaris berteriak saking senengnya lihat isi tas yang dibawa Angga. "Ya ampuuuun, Ngga, sumpah! Kowe koncoku, Ngga! Aaaaak, makasihhh!" Aku menghambur ke pelukan sepupuku.

"Wes ojo lebay. Njelehi."

"Kok aku nggak kepikiran ya huhu, ya ampun, makasih banget, Ngga!"

***

Pertemuan keduaku.

Kali ini pertemuan kami nggak sedramatis pertemuan kemarin. Mungkin karena aku sudah mulai belajar mengendalikan emosiku mengingat berbagai kemungkinan seperti yang dikatakan Rendy. Mungkin juga karena setelah ngobrol berjam-jam, aku seperti menemukan 'ruang' yang pas untuk menyatukan kami bertiga, terutama dengan Syafiq.

Kalau kupikir-pikir, Syafiq tipe yang jauh lebih menyenangkan untuk diajak berteman dibanding Rafa. Syafiq relatif lebih ramah, easy going, dan pintar membuka ruang pembicaraan. Kami baru bertemu di Jalan Malioboro beberapa hari lalu, tetapi sepertinya orang akan mengira Syafiq-lah teman dari Bandung yang kukenal bertahun-tahun lalu dalam konferensi pemuda di Jakarta, bukan Rafa.

Sosok itu masih nggak berubah; pendiam, kaku. Satu-satunya hal yang berubah dari Rafa adalah sekarang ia terlihat lebih kurus daripada kali terakhir aku menemuinya. Oh, bahkan frame kacamatanya pun nggak berubah. Kalau boleh aku bilang, Rafa itu payah.

"Festival film?" ujar Syafiq sambil menyetir mobilku membelah Jalan Kaliurang yang padat. Selama 3 hari kemarin, Syafiq dan Rafa berpetualang dengan motor yang dipinjam dari sebuah rental di daerah Karangwuni. Mereka baru saja mengembalikan motor itu dan janjian denganku bertemu di depan Circle-K Jalan Kaliurang. Syafiq menawarkan diri menjadi sopir. Kami berencana makan siang di Warung Lotek Bu Bagyo yang legendaris di daerah Sagan.

"Hm hm, sebenarnya udah seminggu ini sih festivalnya. Nah, nanti malam itu malam penghargaannya gitu, Fiq, Ra," jawabku.

"Kalau malam penghargaan gitu bukannya biasanya dresscodenya resmi ya?" Rafa buka suara.

"Emm, iya sih. Sebenernya kalau misal kalian mau ikut, sepupuku bisa minjemin blazer dan pantofel sih.. Kan, kalian udah pakai celana panjang. Jeans nggak masalah aku rasa, nanti dikasih outer, pakai kaos pun bisa keliatan semi-formal," ujarku hati-hati.

"Wah asyik tuh! Boleh deh!" jawab Syafiq antusias.

"Kok ngerepotin banget sih, Nad.. Padahal sebenernya kita ditinggal di hotel juga nggak papa kok.." Jawaban Rafa nggak seperti yang kuharapkan.

"Eee kalau nggak mau juga nggak papa kok. Hehe," ujarku berusaha menyembunyikan rasa kecewa.

"Ya ampun, Fa, lo gimana sih, kemarin katanya ke Jogja sekalian dateng ke festival ini? Kok sekarang nggak mau?" ujar Syafiq bersungut-sungut.

"Kalian tahu ada festival ini?" ujarku heran. Aku nggak pernah tahu Rafa suka hal-hal semacam ini. Atau mungkin Syafiq yang suka?

"Tau lah!" Lagi-lagi Syafiq menyahut antusias. "Kita sebenernya emang merencanakan mau dateng, Nad.. Cuma ya itu, lupa bawa bajunya kemarin ketinggalan gitu, kita buru-buru. Untungnya ada yang minjemin. Hahaha. Lucky banget ya, kita, Fa! Hahaha!" Syafiq tertawa keras menyaingi musik Metronomy yang diputar di mobil.

"Emang kalian suka film?" ujarku. Kali ini bener-bener heran.

"Aku sih nggak begitu, Nad. Rafa tuh yang penggemar film. Ya nggak, Fa? Hehehe." Syafiq tertawa renyah.

"Hah? Film? Iy.. iya. Yaa, lumayan lah," jawab Rafa yang duduk di sebelah Syafiq.

"Rafa suka film? Kok aku nggak pernah tahu ya, kamu suka film.." ujarku jujur.

"Ah, kamu, Nad! Katanya kenal dari SMA masa bisa nggak tau dia suka film juga.. sama kan, kayak kamu? Hehehe."

"Emang suka genre apa biasanya kalau nonton film?" tanyaku serius.

"Science-fiction! Suka banget dia!" Syafiq lagi-lagi menyahut sambil tersenyum lebar.

"Hah? Science-fiction?" Rafa terdengar sedikit kaget dengan jawaban Syafiq.

"Tapi kadang-kadang dia suka romance juga, apalagi film-film Thailand! Hahaha!"

"Apa sih lo, Fiq. Enggak, ngarang dia mah," ujar Rafa menghardik. Tawa Syafiq makin keras. Sementara itu, di belakang aku masih serius bertanya-tanya apa bener Rafa suka film. Anak teknik yang kayaknya hidupnya nggak kenal seni dan keindahan kayak gitu?



Photo Source

Wednesday, March 9, 2016

Pertemuan Pertama


Ini akan menjadi pertemuan pertamaku dengan Rafa.. hmm dalam empat tahun ini. Ya. Empat tahun. Aku kira itu waktu yang lama untuk sebuah jeda pertemuan dua orang.. teman. Ya, dia temanku. Tidak pernah lebih dari itu semenjak kali pertama aku mengenalnya di Jakarta ketika kami masih SMA.

"Ngajak balen paling," Angga menyahut asal usai mendengar ceritaku. Viana tertawa mendengarnya.

"Jadian aja nggak pernah kok balen hahaha!" sahutnya. Aku tersenyum kecut. Tapi percayalah berhari-hari aku tidak bisa tidur dibuatnya.

***

Aku sebenarnya menahan Viana agar tidak buru-buru pulang ke Semarang. "Paling nggak sampai aku ketemu dengan Rafa, Vi.. Please lah," ujarku merajuk.

"Aku harus KRSan, Ra. Maksudku, ketemu dosen pembimbing untuk konsultasi KRS. Yah, you know lah.. aku mau mulai serius di semester enam nanti," jawab Viana sambil mengemasi bajunya ke dalam tas. Aku nggak bisa maksain lagi kalau urusannya udah soal kuliah. Yang aku tahu, kesadaran untuk 'serius' kuliah itu pasti didapatkan Via dengan penuh perjuangan. Jadi, aku nggak akan mengusik keyakinan dan niat baiknya itu. "Lagian kenapa harus nervous sih? Biasa aja kali! Situ kan sering ketemu banyak orang. Kenapa dengan dia grogi gitu?" Skakmat.

Aku tersenyum kecut.

"Emm.. dia tu.. dia tu ke sini sama temennya, Vi. Ya aku takut awkward aja kan aku nggak kenal sama temennya dia."

"Cewek atau cowok?"

"Nggak tahu pasti sih.. Tapi kayaknya kok cowok ya.."

"Ya udah, santai aja!"

Lalu sore itu juga Viana pulang ke Semarang.

***

Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul empat sore. Malioboro padat merayap membuat kendaraanku melaju dengan kecepatan di bawah 30 km/jam. Setelah memutuskan parkir di basement Malioboro Mall, aku masuk ke McD, memesan satu buah Sundae, lalu duduk di kursi dekat jendela. Aku masih sempat memandang ke luar ---Jalan Malioboro yang padat. Sesekali aku mengecek ponsel.

"Nad, udah di Jogja nih. Haha." Sebuah pesan masuk ke ponsel pintarku.

***

Ini menjadi pertemuan pertamaku dengan Rafa dalam empat tahun terakhir. Ya, empat tahun tentu bukan waktu yang sebentar untuk sebuah jeda dua orang teman tidak bertatap muka. Terakhir yang kuingat darinya adalah orang yang pendiam, kaku, tetapi begitu presentasi di depan audience.. yawlaah, nggak nahan untuk nggak mantengin sosoknya.

Rafa terlalu biasa untuk sosok anak SMA waktu itu. Terlalu biasa, kecuali ketika dia bicara. Dan pada pertemuan kami yang pertama, kurasa aku jatuh cinta. Emm maksudku, aku tertarik. Ada sesuatu dalam sosok Rafa yang nggak pernah kutemukan di antara teman-teman lelakiku selama ini. Sesuatu semacam kharisma ---atau apapun itu orang menyebutnya. Kami lantas menjalin komunikasi sebagai sesama delegasi dalam konferensi itu. Percakapan demi percakapan kami lalui pada tahun-tahun terakhir kami sebagai anak SMA. Lalu karena satu dan lain hal, kami menyudahinya.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan akhir dari percakapan-percakapan kami sewaktu itu. Yang jelas, kami memang 'menghilang', tidak saling berkabar, tidak tahu nasib dan cerita satu sama lain. Terakhir yang kutahu dia di Bandung, di ITB.

"Assalamualaikum," ujarnya.

Ah, kau pernah menonton film di mana seketika gambar menjadi melambat, suara mendadak lenyap, dan sekitarmu tiba-tiba hening? Ya, aku begitu saat ini. Tiba-tiba saja suara bising kendaraan di Jalan Malioboro terdengar syahdu melebur dengan instrumen lagu-lagu yang mendadak muncul di kepalaku. Mulanya The Moment-nya Kenny G., lalu Where Do I Begin-nya Andy William, bahkan Imagine-nya John Lennon mendadak mengalun di kepalaku. Langit berwarna jingga, lampu-lampu dinyalakan menyambut senja di Malioboro yang hari itu entah kenapa terasa indah, lengang, teduh.

"Apa kabar?" ujarnya lagi. Aku segera menguasai diriku.

"Waalaikum salam, baik. Kamu?"

"Alhamdulillah baik juga," jawabnya. Tersenyum.

"Ehm!" Seseorang berdehem.

"Oh, Nad, ini.. temenku. Kenalin, ini Syafiq. Syafiq, ini Nadhira," ujar Rafa yang tiba-tiba salah tingkah.

"Hai, Nadhira." Syafiq mengulurkan tangannya.

"Halo, Syafiq," ujarku menyambut uluran tangannya.

Kami bertiga lalu diam. Hening. Aku menunduk. Angin terasa sepoi meniup ujung-ujung rambutku yang kubiarkan tergerai. Jalan Malioboro masih lengang dalam bayanganku. Kami berdiri saja untuk beberapa saat di bawah pohon besar di depan kantor DPRD DIY.

Like a river flows
Surely to the sea
Darling so it goes
Some things are meant to be

Yah, Elvis Presley tiba-tiba memenuhi isi kepalaku. Aku merasa gila.



Photo Source

Thursday, February 25, 2016

Kepulangan Mendadak


"Nad," ujarku dari ambang pintu. Aku melangkahkan kaki ke dalam kamar. Yang kupanggil masih meringkuk di bawah selimut. Aku tahu dia tidak sedang tidur. Entah dia hanya sedang malas berbicara denganku karena beberapa hari belakangan semenjak kedatanganku ke sini kami hanya bertengkar. Atau bahkan dia tidak ingin melihat mukaku. Yang jelas, panggilanku sama sekali tak mengusiknya. Dan aku tahu itu.
Aku duduk di bibir ranjang, membelakanginya. "Aku balik ya. Kamu baik-baik di sini. Jaga diri. Semoga skripsinya cepat selesai dan bisa melanjutkan mimpi-mimpi yang sering kamu ceritakan."

Dia bergeming. Aku menghela napas dan menghembuskannya berat. "Maaf kalau akhirnya begini. Aku selalu berpikir ini bukan akhirnya. It's just until we meet again," ujarku lagi. Tidak ada jawaban. Aku bangkit, melangkah keluar, lalu menutup pintu kamar.

Angga dan Ferdy masih berdiri kikuk tak jauh di depanku. Aku tersenyum dan memeluk mereka satu persatu, kemudian berpamitan. Taksi yang kupesan sudah datang. Mereka mengantarku sampai pagar. Terakhir, aku menoleh ke sebuah jendela kamar yang tirainya perlahan tersibak. Aku melihat wajah gadisku untuk kali terakhir.

***

Aku langsung ke Jakarta. Sama sekali tidak memiliki keinginan untuk pulang ke Bandung. Sebenarnya, cutiku berakhir hingga tahun baru sebelum aku kembali lagi ke Boston untuk urusan pekerjaan. Tapi kalau balik, kemungkinan besar orang-orang rumah akan bertanya-tanya mengapa tiba-tiba aku pulang ---dan tidak berkabar sebelumnya. Aku bahkan langsung ke Yogyakarta begitu menginjakkan kaki di Indonesia. Tidak. Aku tidak ingin mendapat banyak pertanyaan ketika pikiranku sedang begini. Jadi, aku memutuskan ke Jakarta.

Siang tadi sebelum boarding, aku mengontak Syafiq lewat WhatsApp dan mengabarkan aku di Yogyakarta. Syafiq juga sedang liburan akhir tahun. Setelah berbicara beberapa saat, aku memutuskan untuk tinggal di apartemen miliknya hingga waktu cutiku selesai.

Seperti biasa, Syafiq menjemputku di bandara. Ini pertemuan pertamaku dengan Syafiq semenjak kami sama-sama lulus dari ITB. Aku sempat beberapa bulan menjalani internship program di BSG Jakarta dan ia langsung melanjutkan studi masternya ke Munich. Syafiq sudah menjalani beberapa bulan masa kuliahnya dan sekarang ia sedang libur akhir tahun. Itulah kenapa ia memutuskan untuk pulang. Sama denganku, ia juga sedang suntuk, katanya.

"Nggak sekompleks lo sih," akunya. Kami menikmati makan siang di salah satu mall di daerah Bintaro.

Aku sedikit tertegun mendengar cerita sahabatku itu. Semenjak mengenalnya di bangku SMP, aku jarang ---hampir tidak pernah--- melihatnya galau. Syafiq selalu ceria dalam kondisi dan suasana macam apapun. Ketika teman-teman galau dengan ujian, Syafiq masih menyempatkan main basket atau ngajak jogging mencoba aplikasi running di ponselnya. Ketika kami stres dengan ujian masuk SMA, Syafiq dengan santai malah masuk ke kelas khusus yang menyiapkan anak-anaknya untuk OSN. Ia juga santai saja menghadapi momen 'pindahan' dari Bandung ke Jakarta yang membuatnya terpisah dari kami semua. Puncaknya, ketika kami akhirnya sama-sama kuliah di ITB, cuma dia yang paling santai menjalani masa TPB.

Seumur hidup aku mengenal Syafiq, hampir masalahnya tidak jauh-jauh dari dompetnya yang ketinggalan, kunci mobil yang ilang, atau gadget yang rusak. Soal cinta, studi, aku nggak pernah mendapatinya mengeluh. Karena itulah siang ini ketika dia menceritakan semuanya aku jadi sedikit tertegun.

Perempuan itu dikenalnya ketika SMA. Satu sekolah, satu kelas. Sungguh kisah cinta yang payah karena katanya, selama 3 tahun dia di SMA, tak sekalipun ia berani menyapanya, atau bahkan mengajak kencan. Syafiq justru memulai masa pendekatannya ketika mereka sudah lulus, dan sedang galau mencari kampus. Hingga akhirnya Syafiq ke Bandung, dan perempuan itu.. ke UGM.

Ah. Seluruh teka-teki tentang Syafiq dan Yogyakarta seolah-olah kini terang-benderang. Syafiq mencintai Yogyakarta, seperti ia mencintai perempuan itu. Perempuan yang ternyata juga membawanya hingga ke Jerman.

"Lo tau kan, Va, kalau kita di luar negeri tu, temen se-Indonesia berasa saudara sendiri, apalagi temen satu Jakarta, satu SMA, satu kelas!" katanya. Aku mengangguk sambil terus menyuapkan makanan ke mulutku.

Sejujurnya, pada pertemuanku dengan dia kali ini, aku ingin cerita banyak hal. Aku ingin bercerita tentang Fidkya yang menyambangiku ke Boston, gadisku yang merasa telah kubohongi, kedatanganku ke Yogyakarta yang dadakan, Nadhira yang meminta putus setelah aku benar-benar sangat mencintainya. Tapi melihat Syafiq yang seperti ini, aku jadi tidak tega. Aku mengurungkan semua niatanku dan mengunci mulutku rapat-rapat.

Syafiq terlalu baik. Selama ini dialah pendengar setia dari kami semua ---aku, Fadhil, Khaira, bahkan Rahman. Kini kami semua tinggal di tempat terpencar dan hanya aku yang satu-satunya duduk di depannya. Syafiq kali ini butuh didengarkan. Mungkin selama ini kami sudah bersikap tidak adil padanya. Dan aku sendiri cukup terpukul, karena selama ini kami saling kenal, sebegitunya aku tidak 'mengenal' dia.

Ah, iya. Nadhira juga mengatakan sesuatu tentang itu padaku kemarin dalam pertengkaran kami. Mungkin aku memang terlalu egois dengan mengukur segala sesuatunya dari sudut pandangku. Dia benar. Jangankan padanya yang kukenal sebentar-sebentar dalam pertemuan kami yang singkat dan sepotong-sepotong, dengan Syafiq saja, yang hampir tiap hari kuajak nongkrong dan belajar, aku tidak sungguh-sungguh kenal.

Jadi aku ini teman macam apa?



credit photo: deviantart.net