Wednesday, November 18, 2015

Pada Suatu Sore di Dam Square


Begitu tahu aku hanya ke Schalkwijk untuk menemani Rana bertemu teman-temannya, Yo mengejekku habis-habisan. Tapi sedikit berbeda, Ineke justru membelaku. Katanya, sebagai perempuan, ia lebih paham bagaimana sesungguhnya perasaan Rana. Ineke bilang padaku, membaca kultur orang Indonesia yang sangat pemalu dan sopan, dikenalkan kepada teman mereka artinya aku berusaha dimasukkan ke dalam 'lingkaran' milik Rana dan teman-teman.

"Dalam arti lain, kamu diterima oleh mereka!" Ineke bercerita menggebu-gebu. Aku tidak tega mematahkan analisisnya dengan bercerita kalau bahkan baru kemarin Rana mengetahui aku ini mahasiswa semester akhir di Pertambangan ITB.

Di Haarlem kemarin, bersama Rana dan teman-temannya yang asli Belanda, aku diajak menikmati kopi di La Place Cafe Mall V&D. Aku dikenalkan dengan beberapa orang yang ternyata dikenal Rana ketika dia exchange ke Amerika sekitar beberapa tahun lalu.

"Waktu itu saya masih kelas 2 SMA," kenangnya. Rana sepertinya tipikal perempuan yang memang gemar menjalin pertemanan dengan orang asing. Aku jadi sedikit menyesal karena setelah enam bulan baru berani menyapa duluan.

***

"Sebelum pulang ke Indonesia, ada rencana ke mana lagi?" tanyaku akhirnya. Aku merapatkan jaketku. Amsterdam di akhir tahun memang kurang ramah untuk orang yang terbiasa tinggal di Indonesia.

"Ke Utrecht!"

"Ketemu temen lagi?" tanyaku.

"Rahasia! Hahaha! Kalau mau ikut bilang aja.."

Aku tak kuasa untuk menahan senyum, sekalipun jujur aku malu sekali.

***

Pertemuan pertama kami di Jakarta. Saat itu acara pembekalan dilakukan di salah satu hotel di bilangan Kemang. Kami menjadi peserta exchange yang diselenggarakan atas kerjasama Kemenlu RI dengan negara-negara tujuan. Dari Indonesia ada sekitar 50 orang yang diberangkatkan ke seluruh negara Uni-Eropa, dan aku serta Rana menjadi dua orang yang memilih Belanda sebagai negara tujuannya.

Dari obrolan kami di kereta menuju Utrecht Centraal, aku baru tahu kalau Rana ternyata sangat teobsesi untuk bisa tinggal di Belanda. Sebab itu ia memilih Belanda sebagai negara tujuannya pada program ini. Kalau aku.. hm entahlah. Aku hanya merasa sedikit lelah dengan kehidupanku di kampus. Aku pengin liburan di suatu negara yang sepertinya menyenangkan. Karena itu aku memilih Belanda, sekaligus untuk belajar kedokteran di VU.

Itulah kenapa pengetahuanku akan seluk-beluk negara ini sangat terbatas. Aku sedikit beruntung bertemu teman-teman di sana seperti Yohanes atau Ineke, Lebih jauh, aku beruntung karena bertemu dengan Rana. Ya, untuk yang satu ini aku norak sekali. Aku tahu.

***

Tidak seperti di Haarlem kemarin, setibanya di Utrecht, Rana tidak begitu antusias. Aku juga tidak tahu apa sebenarnya tujuannya ke sini. Padahal, jika dilihat dari jaraknya, Utrecht lebih jauh ketimbang Haarlem. Tapi Rana bener-bener nggak punya tujuan.

Rana hanya mengeluarkan kameranya, mengambil berbagai gambar, lalu mengajakku mencari keberadaan Utrecht University. Kami akhirnya memutuskan berjalan kaki sekitar 15 menit melalui Mariaplaats sebelum akhirnya sampai di Domplein. Yang aku heran, di sepanjang jalan, Rana tiba-tiba murung. Dia sering melamun seperti mengingat sesuatu. Sesuatu yang jauh, tetapi berusaha muncul dalam kepingan-kepingan memori di kepalanya.

***

"Boleh saya tanya kenapa?" tanyaku.

"Kenapa?"

"Kamu."

"Kenapa?"

"Murung sejak dari Utrecht. Ada apa?"

"Nggak apa-apa hehehe."

Dam Square selalu menawarkan pemandangan yang unik setiap sore dengan burung-burung Merpati yang berkeliaran bebas di sana. Dam Square berada di pusat Kota Amsterdam, sejenis alun-alunnya, tak jauh dari Amsterdam Centraal, sekitar 750 meter. Lokasi ini berbentuk persergi panjang, membentang dari utara ke selatan, barat ke timur, menghubungkan jalan-jalan Damrak dan Rokin.

Kami sudah menghabiskan seharian dengan acara jalan-jalan yang sangat melelahkan. Seusai dari Utrecht yang hanya sekitar beberapa jam, kami kembali lagi Amsterdam, mengunjungi Museumplein, melewati Leidseplein, Prinsengracht, dan juga Herengracht sembari bercerita banyak mengenai sejarah masing-masing. Emm lebih tepatnya, Rana bercerita dan aku lebih banyak bertanya-tanya. Dam Square menjadi tempat terakhir yang kami kunjungi hari ini, sepertinya, mengingat aku sudah sangat lelah.

Aku baru sadar selama enam bulan di sini aku memang benar-benar kurang piknik.

"Oh ya, mau Leiden nggak?" tanyaku berusaha memecah suasana.

"BoerhaveMuseum?"

"Hahaha! Kok ketebak sih?"

"Dasar anak kedokteran gagal! Hahaha!"

"Hmm kamu harus tahu bagaimana rasanya harus merampungkan kuliah di tengah keinginan-keinginan kuliah di tempat lain yang masih tumbuh subur," ujarku.

"Tapi saya salut sama kamu, Nggi. Kamu kecewa tapi kamu berhasil dalam jalanmu sebagai pecundang yang nggak berani ngejar cita-citanya di FK UI. Kamu keren," katanya. Aku tersipu.

"Oya, Ra. Kamu pergi dari Jogja berbulan-bulan, pacarnya apa nggak kangen?"

"Pacar? Hahahaha!" Rana tertawa terpingkal-pingkal.

"Kenapa?"

"Enggak.. enggak.. lucu aja setelah sekian lama dan akhirnya ada yang nanyain perihal pacar ke saya."

"Jadi...?" Suaraku menggantung.

"Saya... nggak ada pacar. Sedih, ya?"

"Kenapa?"

"Nggak tahu. Kamu?"

"Sama," kataku jujur. "Tapi sebenarnya saya pengin ada pacar di sini," lanjutku. Beberapa saat kmi diam. "Kalau kamu saja gimana?"

"Ha?"

"Saya serius."


bersambung...
Share: