Wednesday, November 18, 2015

Hari-hari Terakhir


Semenjak perpisahan yang digelar PPI Belanda kemarin, aku sudah menceritakan ihwal keinginanku mengajaknya pergi kepada beberapa orang. Emm. Mungkin jalan-jalan. Berdua saja. Lengkap sudah rasanya enam bulanku di Belanda jika itu terwujud. Aku menceritakan kepada beberapa teman di sini, dan mereka semua mengejekku. Yo bahkan bilang jika aku ini representasi laki-laki Indonesia, maka kemungkinan besar Indonesia segera hancur, karena perkara mengajak perempuan jalan-jalan saja aku tidak berani.

Bukan. Bukan. Aku bukan tidak berani. Aku cuma baru sekitar enam bulan mengenalnya. Itupun tidak utuh. Kami memang sama-sama mengikuti kuliah di Vrije Universiteit, tapi dia memutuskan mengambil kelas seni, sementara aku, mengikuti keinginan lamaku belajar kedokteran, maka aku masuk ke kelas medicine. Kukira ini pilihan yang tepat, namun, ternyata tidak juga.

Ya Tuhan. Aku jatuh hati di Belanda setelah bertahun-tahun rasanya tidak pernah begini. Aku jatuh hati dengan perempuan yang baru kukenal enam bulan belakangan ini.

Yo mengatakan padaku kalau aku tidak memutuskan mengajaknya pergi sekarang, ketika kami sama-sama pulang ke Indonesia, kesempatan itu menjadi kecil peluangnya. Sekalipun aku selalu menceritakan bahwa jarak Bandung dan Yogyakarta hanya sekitar 6 jam perjalanan dengan kereta. Tapi kata Yo aku harus buru-buru mengatakannya, paling tidak, berusaha.

Maka di hari-hari terakhir sebelum kepulangan kami ke Indonesia, aku menemuinya di homestay tempatnya tinggal. Rana gadis yang ramah, seharusnya aku tahu itu. Tanpa curiga sedikitpun kepadaku, ia mengiyakan.

"Ke mana?" tanyanya. Giliranku yang gugup.

"Emm jalan-jalan, terserah," kataku asal.

"Saya suka orang kayak kamu," katanya tiba-tiba membuatku bengong beberapa saat. "Yang nggak punya pilihan atas keinginannya sendiri! Hahahaha!" lanjutnya sambil tertawa. Aku tersipu antara merasa tersanjung atau justru malu disindir seperti itu.

"Sebenarnya aku ingin ke Haarlem sore ini, mau ikut?" Rana memberikan penawaran yang langsung kusetujui.

***

Perjalanan dari Amsterdam ke Haarlem hanya sekitar 15 menit dari Amsterdam Centraal. Sepanjang perjalanan itu, aku mencoba mengakrabkan diri dengan Rana lewat cerita-cerita yang kami lontarkan dari mulut kami masing-masing. Bermula dari bagaimana kuliahku di ITB, jurusan apa yang sebenarnya sedang kuambil, dan lain sebagainya. Dari obrolan itu, aku baru tahu Rana ternyata sangat parah dalam hal kuliah. Maksudku, karena hobinya jalan-jalan dan mengikuti kegiatan di luar kampus, sudah tak terhitung berapa waktu yang harus terbuang.

"Mungkin kalau nggak banyak cuti, sekarang saya udah lulus kali ya? Hehehe."

Aku tersenyum menanggapinya. "Yaaa, tapi terbayar lah dengan banyaknya acara jalan-jalan."

"Lebih tepatnya terbayar dengan banyaknya ketemu orang baru, dan inspirasi baru."

"Apa saya juga menginspirasi?" tanyaku tiba-tiba. Rana diam beberapa detik.

"Ya... bisa sih.. hehehe."

"Kenapa kamu pengin ke Haarlem hari ini?"

"Hmm entah. Haarlem selalu mengingatkan saya pada Jogja," ujar Rana.

Ia lalu cerita tentang kota yang juga Ibu Kota Provinsi Noord Holland, provinsi di mana Amsterdam, Ibu Kota Belanda, ada di dalamnya. Kota ini memang tergolong unik karena kelestarian budayanya. Mulai dari Oude Stad, kota tua, hingga museum-museum ada di sana. Hmm mungkin memang nggak berlebihan kalau Rana menyebutnya mirip dengan Jogja. Aku lupa dia hampir enam bulan meninggalkan kotanya itu, Rana pasti menyimpan kangen sebagaimana aku kangen dengan jalan-jalan di Bandung dan sekitarnya.

Menurut cerita Rana, dari segi bahasa, Haarlem konon memiliki dialek yang paling baik di antara dialek lain dalam Bahasa Belanda. Di masa lalu juga dikenal kota ini menjadi sasaran distribusi trading lintas samudera Belanda usai merapat di Amsterdam dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

"Hanya itu alasannya?"

"No.. Saya ingin bertemu seorang teman.. di Schalkwijk, Tidak keberatan kan menemani saya? Udah enam bulan di Amsterdam, tapi nggak pernah berkunjung ke sini.. kan, sedih."

Oh pantesan. Kali ini aku mengalah. Cuma 'menemani' dia pun tak masalah, karena, paling tidak, dengan begitu aku bisa punya alasan untuk banyak ngobrol dan berdua dengan Rana. Setidaknya sebelum kami sama-sama pulang ke Indonesia.


bersambung...
Share: