Nov 3, 2015

Fragmen Terakhir


"Kamu nunggu apa?" Ibu mulai bertanya gusar. Senyumku mencoba mengembang, lidahku menjawab sekenanya. Kurang dari lima menit lagi seharusnya aku boarding. Setelahnya, pesawat akan membawaku belasan jam dari Jakarta sebelum akhirnya tiba di Amsterdam ---sebuah tempat yang sangat jauh dari Jakarta, apalagi Semarang.

Sungguh aku masih menunggu sesuatu.

Dalam bayanganku, seharusnya ini terjadi seperti di film-film yang pernah kutonton. Ara akan datang ---seperti Cinta yang akhirnya ketemu Rangga sebelum dia ke Amerika. Ara akan datang, lalu kami berpelukan sebelum akhirnya mengucap janji. Kami berpisah baik-baik. Tapi tidak. Tidak mungkin. Kalaupun ia datang, seharusnya kemarin saat aku bilang aku akan ke Jakarta. Tapi bahkan sejak di Semarang, Ara tidak sudi menemuiku. Pun dengan teman-teman, Givan, Rudi, Azhar, nggak ada satupun yang datang. Sebegitunya aku bersalah?

"Ayo cepat, Ndi!" Kali ini Ayah. Aku tidak bisa mengelak. Kuciumi satu persatu Ibu dan adik-adikku. Bersama Ayah aku akan ke Amsterdam. Ayah ada tugas selama sebulan di sana. Tetapi aku harus menempuh perjalanan beberapa menit lagi dengan kereta, ke Utrecht, tempat yang juga sangat jauh dari sini, apalagi dari Semarang.

Sepanjang perjalanan aku masih berusaha menerka-nerka apa yang terjadi pada Ara.

***

Aku ingin kamu menghormati
pilihan yang telah kuambil 
dan juga tak akan kusesali, 
atas nama bara api cinta 
yang telah kita tumbuh-suburkan 
dalam dada kita masing-masing selama ini.
Yang telah kita titipkan 
lewat debur ombak yang mengalun 
seperti ikal rambutku, 
yang berlalu bersama 
desau angin senja.
Tapi kekasihku, 
biarkan aku mencintaimu, 
dalam sunyi.

Kulipat-lipat kertas itu dan kulembar dari atas balkon kamarku di lantai dua. Sejak pagi Pleburan diguyur hujan deras. Jalan depan rumahku mulai digenangi air. Jika hujan turun semalam lagi, airnya pasti akan masuk ke halaman rumah. Hujan turun tak berhenti-berhenti membuatku gusar, juga kesal, namun tidak tahu harus berbuat apa.

Semenjak pagi juga, Rudi menelepon dan mengirimkan pesan ke ponselku.

"Are you okay?"

Entah udah berapa kali BBMku dichat. Bahkan untuk sekadar membacanya aku malas. Aku sedang malas dengan semua hal, terutama yang berhubungan dengan Andi. Biar saja mulai hari ini dia pergi. Kadang-kadang aku berharap sebaiknya Andi menghilang saja dari kehidupanku, dari kehidupan kami semua.


bersambung...
Share: