Friday, November 20, 2015

Sebelum Kepulangan dari Belanda

Ketika mengetahui aku akan ke Belanda bersama seorang anak dari ITB, sejujurnya aku sudah mencari tahu banyak soal dia. Pertama-tama, aku harus tahu apa jurusannya, dia bagaimana, siapa teman-temannya, dan sebagainya. Aku beruntung hidup di era medsos di mana seluruh aktivitas perkepoan dibuat menjadi lebih mudah. 
Aku sering mendengar tipikal karakteristik anak-anak ITB dari orang-orang di sekitarku. Dimulai dari dosen, teman, saudara, atau bahkan hasil surfing di internet. Katanya, mereka itu songong. Terlebih yang asli Bandung, sejak orok sampai SMA dididik di sekolah yang "konon" favorit, maka level kesongongannya menggunung. 
"Nggak bisa begitu, Ra!" protes Devira. Katanya yang malesin kalau diajak debat di kalangan mahasiswa UGM itu anak Fisipol. Tapi, bila kamu sudah ketemu dengan Devira yang anak Psikologi, anggapanmu akan sedikit berubah. 
Aku cuma mengangkat keduapundakku dengan gestur yang kurang lebih artinya, "Rak peduli, ndes!" 
"Kamu nggak bisa memberikan penilaian pada orang hanya dengan embel-embel almamaternya. Kamu tahu setiap orang tu memiliki karakteristik personal yang berbeda sekalipun mereka dididik dalam iklim pendidikan yang sama. Di psikologi itu namanya individual differences," sambungnya. 
"Iya, Dev, iya. Aku kan ya cuma bilang katanya, to?" 
"Paling tidak dia ganteng," katanya lagi. Devira tersenyum genit. "Aku mau lho dikenalin." 
"Sakarepmu lah!" 
Obrolan dengan Devira masih melayang-layang di ingatanku sampai hari ini. Selama aku di Amsterdam pun, Devira masih sering menanyakan perihal teman-exchange-ku itu. 
Ya ya. Pada akhirnya selama kami di Belanda, seluruh gambaranku tentang dia tidak sepenuhnya benar. Pertama, Rahadian Anggi ternyata lebih suka dipanggil Anggi dan bukan Raha seperti dugaanku. Kedua, Anggi tidak mengambil kelas engineering seperti dugaanku ---karena dia anak ITB. Dan yang terakhir, dia sangat payah. Aku tidak bisa mengatakannya sombong, tetapi payah. 
Bayangkan selama enam bulan kami di Belanda, kami tidak pernah mengenal secara lebih dekat satu sama lain. Maksudku.. kupikir nanti aku bisa sekadar jalan-jalan atau hunting foto dengan dia. Tapi bahkan mengajakku ngobrol sekalipun dia tidak pernah. Paling banter dia tersenyum saat berpapasan, atau basa-basi menanyakan kabar saat bertemu. Anggi ke mana-mana selalu dengan dua temannya, mahasiswa lokal, kalau tidak salah bernama Yohanes dan Ineke. 
Begitulah. Anggi cukup payah dalam relasi pertemanan, setidaknya denganku. Jadi aku memupus jauh-jauh harapanku untuk bisa "punya sahabat anak ITB". Fix. Mereka songong. 
*** 
Setelah acara perpisahan di PPI Belanda, tiba-tiba Anggi menghampiriku ke rumah. 
"Emm jalan-jalan, terserah," katanya. Dia tersenyum sambil membenarkan letak kacamatanya. Aku nggak kuasa menahan ketawa.
Hari itu aku mengajaknya ke Haarlem untuk bertemu teman-temanku. Kami bersepeda berkeliling Haarlem bersama Salma dan Ivan. Dari sana, sekalipun aku masih merasa Anggi terlalu kaku menjadi orang, setidaknya dia tidak songong. Tiba-tiba aku ingat Devira. 
*** 
Kata orang hidup itu pilihan. Aku setuju. Hidup memang pilihan, dan dari pilihan-pilihan itu, sesungguhnya sebagai manusia kita hanya dipilihkan. Pun soal rasa. 
Kebersamaanku dengan Anggi berlanjut ketika keesokan harinya lagi-lagi kami jalan berdua. Aku mengajaknya ke Utrecht, ke kampus Utrecht University. Kau tahu ada siapa di sana? Andi. 
Hal paling mengejutkan yang kupikir pada awalnya adalah aku bisa bertemu Andi setelah bertahun-tahun semenjak ia lulus SMA kami tidak pernah bertemu. Namun, ternyata bukan. 
"Saya serius." 
"Tapi.. kita baru kenal?" 
"Saya memperhatikan kamu dari pertana kita bertemu di Jakarta. Saya sudah berusaha meyakinkan hati saya, dan ini jawabannya. Maaf ya, kalau saya mendadak bilangnya." 
Oh my God! 
Anggi suka sama saya! Saya! Orang yang selalu pakai kata ganti "saya" dan akhirnya memaksaku memakai "saya" juga itu bilang suka! Sekali lagi, suka! 
Tapi suka seperti apa yang dimaksud? Apakah suka aja atau suka banget atau gimana? Suka itu yang gimana? Kenapa sih harus suka? 
Semua pertanyaan tentang definisi suka mendadak memenuhi isi kepalaku. Aku akhirnya pamit pulang duluan, bahkan tidak mau diantar sampai rumah dengan berbagai alasan, dan Anggi menerima. 
*** 
Sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Kenapa suka? Kenapa mau jadi pacar? Ini nembak? God, please, aku sudah lama nggak ditembak cowok. Ini nembak, serius? 
Tapi kenapa Anggi? 
Sekali lagi pertanyaan tentang mengapa Anggi berkecamuk di pikiranku. Kurasa, di titik ini keyakinanku tentang hidup ini pilihan adalah benar. Ya, hidup ini pilihan. Tapi bagiku, di antara pilihan-pilihan itu, kita hanya dipilihkan. Pun soal hati, soal perasaan. 
Jika hidup ini bukan dipilihkan, barangkali sudah dari bertahun lalu aku merasakan bagaimana rasanya jadi kekasih Andi. Aku tergila-gila dengan seniorku yang pendiam itu semenjak MOS di SMA. Tapi tak sekalipun Andi menggubrisku. Dalam hal ini, perasaan Andi belum dipilihkan untuk jatuh padaku. Maka, Andi lempeng aja ketika akhirnya dia lulus dan melanjutkan kuliah di Utrecht. Sementara aku, yang memilih menjatuhkan perasaan padanya, hanya mampu meringis menahan ngilu. Bertahun-tahun memimpikan tinggal di Belanda dan memiliki kesempatan sekali saja bertemu Andi. 
Tapi tidak. Aku ternyata tidak dipilihkan untuk itu. Hal lain yang sangat mengejutkan justru ketika akhirnya aku sudah menjejakkan kaki di Utrecht, seseorang mengatakan suka padaku, dan ia bukan Andi.

bersambung...

Wednesday, November 18, 2015

Pada Suatu Sore di Dam Square


Begitu tahu aku hanya ke Schalkwijk untuk menemani Rana bertemu teman-temannya, Yo mengejekku habis-habisan. Tapi sedikit berbeda, Ineke justru membelaku. Katanya, sebagai perempuan, ia lebih paham bagaimana sesungguhnya perasaan Rana. Ineke bilang padaku, membaca kultur orang Indonesia yang sangat pemalu dan sopan, dikenalkan kepada teman mereka artinya aku berusaha dimasukkan ke dalam 'lingkaran' milik Rana dan teman-teman.

"Dalam arti lain, kamu diterima oleh mereka!" Ineke bercerita menggebu-gebu. Aku tidak tega mematahkan analisisnya dengan bercerita kalau bahkan baru kemarin Rana mengetahui aku ini mahasiswa semester akhir di Pertambangan ITB.

Di Haarlem kemarin, bersama Rana dan teman-temannya yang asli Belanda, aku diajak menikmati kopi di La Place Cafe Mall V&D. Aku dikenalkan dengan beberapa orang yang ternyata dikenal Rana ketika dia exchange ke Amerika sekitar beberapa tahun lalu.

"Waktu itu saya masih kelas 2 SMA," kenangnya. Rana sepertinya tipikal perempuan yang memang gemar menjalin pertemanan dengan orang asing. Aku jadi sedikit menyesal karena setelah enam bulan baru berani menyapa duluan.

***

"Sebelum pulang ke Indonesia, ada rencana ke mana lagi?" tanyaku akhirnya. Aku merapatkan jaketku. Amsterdam di akhir tahun memang kurang ramah untuk orang yang terbiasa tinggal di Indonesia.

"Ke Utrecht!"

"Ketemu temen lagi?" tanyaku.

"Rahasia! Hahaha! Kalau mau ikut bilang aja.."

Aku tak kuasa untuk menahan senyum, sekalipun jujur aku malu sekali.

***

Pertemuan pertama kami di Jakarta. Saat itu acara pembekalan dilakukan di salah satu hotel di bilangan Kemang. Kami menjadi peserta exchange yang diselenggarakan atas kerjasama Kemenlu RI dengan negara-negara tujuan. Dari Indonesia ada sekitar 50 orang yang diberangkatkan ke seluruh negara Uni-Eropa, dan aku serta Rana menjadi dua orang yang memilih Belanda sebagai negara tujuannya.

Dari obrolan kami di kereta menuju Utrecht Centraal, aku baru tahu kalau Rana ternyata sangat teobsesi untuk bisa tinggal di Belanda. Sebab itu ia memilih Belanda sebagai negara tujuannya pada program ini. Kalau aku.. hm entahlah. Aku hanya merasa sedikit lelah dengan kehidupanku di kampus. Aku pengin liburan di suatu negara yang sepertinya menyenangkan. Karena itu aku memilih Belanda, sekaligus untuk belajar kedokteran di VU.

Itulah kenapa pengetahuanku akan seluk-beluk negara ini sangat terbatas. Aku sedikit beruntung bertemu teman-teman di sana seperti Yohanes atau Ineke, Lebih jauh, aku beruntung karena bertemu dengan Rana. Ya, untuk yang satu ini aku norak sekali. Aku tahu.

***

Tidak seperti di Haarlem kemarin, setibanya di Utrecht, Rana tidak begitu antusias. Aku juga tidak tahu apa sebenarnya tujuannya ke sini. Padahal, jika dilihat dari jaraknya, Utrecht lebih jauh ketimbang Haarlem. Tapi Rana bener-bener nggak punya tujuan.

Rana hanya mengeluarkan kameranya, mengambil berbagai gambar, lalu mengajakku mencari keberadaan Utrecht University. Kami akhirnya memutuskan berjalan kaki sekitar 15 menit melalui Mariaplaats sebelum akhirnya sampai di Domplein. Yang aku heran, di sepanjang jalan, Rana tiba-tiba murung. Dia sering melamun seperti mengingat sesuatu. Sesuatu yang jauh, tetapi berusaha muncul dalam kepingan-kepingan memori di kepalanya.

***

"Boleh saya tanya kenapa?" tanyaku.

"Kenapa?"

"Kamu."

"Kenapa?"

"Murung sejak dari Utrecht. Ada apa?"

"Nggak apa-apa hehehe."

Dam Square selalu menawarkan pemandangan yang unik setiap sore dengan burung-burung Merpati yang berkeliaran bebas di sana. Dam Square berada di pusat Kota Amsterdam, sejenis alun-alunnya, tak jauh dari Amsterdam Centraal, sekitar 750 meter. Lokasi ini berbentuk persergi panjang, membentang dari utara ke selatan, barat ke timur, menghubungkan jalan-jalan Damrak dan Rokin.

Kami sudah menghabiskan seharian dengan acara jalan-jalan yang sangat melelahkan. Seusai dari Utrecht yang hanya sekitar beberapa jam, kami kembali lagi Amsterdam, mengunjungi Museumplein, melewati Leidseplein, Prinsengracht, dan juga Herengracht sembari bercerita banyak mengenai sejarah masing-masing. Emm lebih tepatnya, Rana bercerita dan aku lebih banyak bertanya-tanya. Dam Square menjadi tempat terakhir yang kami kunjungi hari ini, sepertinya, mengingat aku sudah sangat lelah.

Aku baru sadar selama enam bulan di sini aku memang benar-benar kurang piknik.

"Oh ya, mau Leiden nggak?" tanyaku berusaha memecah suasana.

"BoerhaveMuseum?"

"Hahaha! Kok ketebak sih?"

"Dasar anak kedokteran gagal! Hahaha!"

"Hmm kamu harus tahu bagaimana rasanya harus merampungkan kuliah di tengah keinginan-keinginan kuliah di tempat lain yang masih tumbuh subur," ujarku.

"Tapi saya salut sama kamu, Nggi. Kamu kecewa tapi kamu berhasil dalam jalanmu sebagai pecundang yang nggak berani ngejar cita-citanya di FK UI. Kamu keren," katanya. Aku tersipu.

"Oya, Ra. Kamu pergi dari Jogja berbulan-bulan, pacarnya apa nggak kangen?"

"Pacar? Hahahaha!" Rana tertawa terpingkal-pingkal.

"Kenapa?"

"Enggak.. enggak.. lucu aja setelah sekian lama dan akhirnya ada yang nanyain perihal pacar ke saya."

"Jadi...?" Suaraku menggantung.

"Saya... nggak ada pacar. Sedih, ya?"

"Kenapa?"

"Nggak tahu. Kamu?"

"Sama," kataku jujur. "Tapi sebenarnya saya pengin ada pacar di sini," lanjutku. Beberapa saat kmi diam. "Kalau kamu saja gimana?"

"Ha?"

"Saya serius."


bersambung...

Hari-hari Terakhir


Semenjak perpisahan yang digelar PPI Belanda kemarin, aku sudah menceritakan ihwal keinginanku mengajaknya pergi kepada beberapa orang. Emm. Mungkin jalan-jalan. Berdua saja. Lengkap sudah rasanya enam bulanku di Belanda jika itu terwujud. Aku menceritakan kepada beberapa teman di sini, dan mereka semua mengejekku. Yo bahkan bilang jika aku ini representasi laki-laki Indonesia, maka kemungkinan besar Indonesia segera hancur, karena perkara mengajak perempuan jalan-jalan saja aku tidak berani.

Bukan. Bukan. Aku bukan tidak berani. Aku cuma baru sekitar enam bulan mengenalnya. Itupun tidak utuh. Kami memang sama-sama mengikuti kuliah di Vrije Universiteit, tapi dia memutuskan mengambil kelas seni, sementara aku, mengikuti keinginan lamaku belajar kedokteran, maka aku masuk ke kelas medicine. Kukira ini pilihan yang tepat, namun, ternyata tidak juga.

Ya Tuhan. Aku jatuh hati di Belanda setelah bertahun-tahun rasanya tidak pernah begini. Aku jatuh hati dengan perempuan yang baru kukenal enam bulan belakangan ini.

Yo mengatakan padaku kalau aku tidak memutuskan mengajaknya pergi sekarang, ketika kami sama-sama pulang ke Indonesia, kesempatan itu menjadi kecil peluangnya. Sekalipun aku selalu menceritakan bahwa jarak Bandung dan Yogyakarta hanya sekitar 6 jam perjalanan dengan kereta. Tapi kata Yo aku harus buru-buru mengatakannya, paling tidak, berusaha.

Maka di hari-hari terakhir sebelum kepulangan kami ke Indonesia, aku menemuinya di homestay tempatnya tinggal. Rana gadis yang ramah, seharusnya aku tahu itu. Tanpa curiga sedikitpun kepadaku, ia mengiyakan.

"Ke mana?" tanyanya. Giliranku yang gugup.

"Emm jalan-jalan, terserah," kataku asal.

"Saya suka orang kayak kamu," katanya tiba-tiba membuatku bengong beberapa saat. "Yang nggak punya pilihan atas keinginannya sendiri! Hahahaha!" lanjutnya sambil tertawa. Aku tersipu antara merasa tersanjung atau justru malu disindir seperti itu.

"Sebenarnya aku ingin ke Haarlem sore ini, mau ikut?" Rana memberikan penawaran yang langsung kusetujui.

***

Perjalanan dari Amsterdam ke Haarlem hanya sekitar 15 menit dari Amsterdam Centraal. Sepanjang perjalanan itu, aku mencoba mengakrabkan diri dengan Rana lewat cerita-cerita yang kami lontarkan dari mulut kami masing-masing. Bermula dari bagaimana kuliahku di ITB, jurusan apa yang sebenarnya sedang kuambil, dan lain sebagainya. Dari obrolan itu, aku baru tahu Rana ternyata sangat parah dalam hal kuliah. Maksudku, karena hobinya jalan-jalan dan mengikuti kegiatan di luar kampus, sudah tak terhitung berapa waktu yang harus terbuang.

"Mungkin kalau nggak banyak cuti, sekarang saya udah lulus kali ya? Hehehe."

Aku tersenyum menanggapinya. "Yaaa, tapi terbayar lah dengan banyaknya acara jalan-jalan."

"Lebih tepatnya terbayar dengan banyaknya ketemu orang baru, dan inspirasi baru."

"Apa saya juga menginspirasi?" tanyaku tiba-tiba. Rana diam beberapa detik.

"Ya... bisa sih.. hehehe."

"Kenapa kamu pengin ke Haarlem hari ini?"

"Hmm entah. Haarlem selalu mengingatkan saya pada Jogja," ujar Rana.

Ia lalu cerita tentang kota yang juga Ibu Kota Provinsi Noord Holland, provinsi di mana Amsterdam, Ibu Kota Belanda, ada di dalamnya. Kota ini memang tergolong unik karena kelestarian budayanya. Mulai dari Oude Stad, kota tua, hingga museum-museum ada di sana. Hmm mungkin memang nggak berlebihan kalau Rana menyebutnya mirip dengan Jogja. Aku lupa dia hampir enam bulan meninggalkan kotanya itu, Rana pasti menyimpan kangen sebagaimana aku kangen dengan jalan-jalan di Bandung dan sekitarnya.

Menurut cerita Rana, dari segi bahasa, Haarlem konon memiliki dialek yang paling baik di antara dialek lain dalam Bahasa Belanda. Di masa lalu juga dikenal kota ini menjadi sasaran distribusi trading lintas samudera Belanda usai merapat di Amsterdam dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

"Hanya itu alasannya?"

"No.. Saya ingin bertemu seorang teman.. di Schalkwijk, Tidak keberatan kan menemani saya? Udah enam bulan di Amsterdam, tapi nggak pernah berkunjung ke sini.. kan, sedih."

Oh pantesan. Kali ini aku mengalah. Cuma 'menemani' dia pun tak masalah, karena, paling tidak, dengan begitu aku bisa punya alasan untuk banyak ngobrol dan berdua dengan Rana. Setidaknya sebelum kami sama-sama pulang ke Indonesia.


bersambung...

Tuesday, November 3, 2015

Fragmen Terakhir


"Kamu nunggu apa?" Ibu mulai bertanya gusar. Senyumku mencoba mengembang, lidahku menjawab sekenanya. Kurang dari lima menit lagi seharusnya aku boarding. Setelahnya, pesawat akan membawaku belasan jam dari Jakarta sebelum akhirnya tiba di Amsterdam ---sebuah tempat yang sangat jauh dari Jakarta, apalagi Semarang.

Sungguh aku masih menunggu sesuatu.

Dalam bayanganku, seharusnya ini terjadi seperti di film-film yang pernah kutonton. Ara akan datang ---seperti Cinta yang akhirnya ketemu Rangga sebelum dia ke Amerika. Ara akan datang, lalu kami berpelukan sebelum akhirnya mengucap janji. Kami berpisah baik-baik. Tapi tidak. Tidak mungkin. Kalaupun ia datang, seharusnya kemarin saat aku bilang aku akan ke Jakarta. Tapi bahkan sejak di Semarang, Ara tidak sudi menemuiku. Pun dengan teman-teman, Givan, Rudi, Azhar, nggak ada satupun yang datang. Sebegitunya aku bersalah?

"Ayo cepat, Ndi!" Kali ini Ayah. Aku tidak bisa mengelak. Kuciumi satu persatu Ibu dan adik-adikku. Bersama Ayah aku akan ke Amsterdam. Ayah ada tugas selama sebulan di sana. Tetapi aku harus menempuh perjalanan beberapa menit lagi dengan kereta, ke Utrecht, tempat yang juga sangat jauh dari sini, apalagi dari Semarang.

Sepanjang perjalanan aku masih berusaha menerka-nerka apa yang terjadi pada Ara.

***

Aku ingin kamu menghormati
pilihan yang telah kuambil 
dan juga tak akan kusesali, 
atas nama bara api cinta 
yang telah kita tumbuh-suburkan 
dalam dada kita masing-masing selama ini.
Yang telah kita titipkan 
lewat debur ombak yang mengalun 
seperti ikal rambutku, 
yang berlalu bersama 
desau angin senja.
Tapi kekasihku, 
biarkan aku mencintaimu, 
dalam sunyi.

Kulipat-lipat kertas itu dan kulembar dari atas balkon kamarku di lantai dua. Sejak pagi Pleburan diguyur hujan deras. Jalan depan rumahku mulai digenangi air. Jika hujan turun semalam lagi, airnya pasti akan masuk ke halaman rumah. Hujan turun tak berhenti-berhenti membuatku gusar, juga kesal, namun tidak tahu harus berbuat apa.

Semenjak pagi juga, Rudi menelepon dan mengirimkan pesan ke ponselku.

"Are you okay?"

Entah udah berapa kali BBMku dichat. Bahkan untuk sekadar membacanya aku malas. Aku sedang malas dengan semua hal, terutama yang berhubungan dengan Andi. Biar saja mulai hari ini dia pergi. Kadang-kadang aku berharap sebaiknya Andi menghilang saja dari kehidupanku, dari kehidupan kami semua.


bersambung...