Oct 11, 2015

Setelah 13 Musim


Ini lewat 13 musim semenjak di kedai teh itu kamu mengatakan padaku bahwa semuanya sudah berubah dan pada perubahan-perubahan itu, ada sesuatu yang tidak kita pahami. Perubahan-perubahan itu membuat jalan kita pincang, terseok-seok, dan kesakitan. Entah siapa yang kesakitan bagiku itu masih menjadi tanda tanya. Tapi kamu menyudahinya, maka kuhargai keputusanmu. Kita mengakhiri sebuah fragmen malam itu, dan setelahnya, kupikir tidak ada kelanjutan.

Lewat 13 musim semenjak punggung seorang temanku basah oleh bulir-bulir air yang jatuh dari kedua bola mataku. Ah iya, aku menangis. Mungkin saja aku yang kesakitan. Tapi temanku bilang itu hal yang wajar. Maka diajaklah aku berkeliling jalanan malam kota dengan sepedanya. Ia membiarkanku menangis sepuasnya. Sampai akhirnya aku lelah dan aku merasa bodoh. Maka setelah lewat 13 musim ini kukira aku sudah lupa semuanya.

***

Dermaga mulai sepi. Semilir sejuk angin berbaur aroma air laut menusuk tajam hidungku. Ini lewat 13 musim semenjak perpisahan di malam itu. Lalu, siapa yang menyangka pada suatu tempat di ujung Pulau Jawa tiba-tiba aku menemukanmu.

Dari dulu aku tidak terlalu menyukai perjalanan. Bukan saja ia membuatku kelelahan, tetapi perjalanan, juga sering memberiku kejutan-kejutan. Perjalanan membuatku bertemu orang-orang ---yang tak semua kukehendaki, kamu salah satunya. Perjalanan membuatku hilang ingatan akan jalan-jalan yang sebelumnya pernah kulalui. Lebih parahnya, perjalanan mungkin akan membuatku tersesat, lalu lupa arah jalan pulang.

***

"Setidaknya kalau kita tidak bisa memulainya sejak awal, aku ingin bisa berbicara baik-baik padamu."

"Mengapa menurutmu kita tidak bisa berbicara baik-baik?"

"Kita dua bulan ada di sini, kita bahkan tinggal di pondokan yang sama, tapi tak sekalipun kamu menyapaku."

"Mengapa aku harus menyapamu? Aku tidak ada keperluan apapun."

"Kamu harus tau saat itu semuanya tidak memungkinkan. Aku toh sudah menjelaskan panjang lebar padamu, bukan?"

"Aku tahu."

"Mengapa tidak dimaafkan?"

Aku memandangnya sejenak. Ini malam terakhir sebelum kami semua meninggalkan tempat ini. Sejujurnya aku ingin tidur saja yang lama. Tidur, lalu terbangun tanpa mengingat satu peristiwa pun.

"Dimaafkan," kataku lantas beranjak meninggalkannya.

"Dimaafkan tidak seperti ini."

"Lalu? Harus seperti apa?" Aku menghentikan langkahku. "Apa harus bersikap manis-manja padamu? Melupakan semuanya yang sudah-sudah dan memulai lembaran baru, lagi?" tanyaku. Ia tidak bergeming. Ditatapnya lekat-lekat wajahku seolah dengan begitu aku meleleh seperti lilin dipanaskan.

"Kamu yang mengatakan bahwa semuanya sudah berubah dan pada perubahan-perubahan itu, ada sesuatu yang tidak kita pahami. Perubahan-perubahan itu membuat jalan kita pincang, terseok-seok, dan kesakitan. Maka sebaiknya kita berjalan sendiri-sendiri. Kamu sudah lupa, iya?"

"Tidak adakah kesempatan lagi, setidaknya agar kita baik-baik saja setelah ini?"

"Kesempatan itu selalu ada, tapi kesempatan ketiga itu tidak ada, sampai kapanpun."

Aku pergi. Mengakhiri perjalanan ini karena sudah terlalu lelah. Kurasa di depan sana jalan-jalan masih terlalu panjang untuk dilalui. Aku tidak ingin berputar-putar pada satu titik yang sama. Aku sangat kelelahan. Sungguh. Dan tiba-tiba saja aku merindukan punggung orang untuk menumpahkan tangisanku malam ini.

Di mana dia sekarang?
Share: