Oct 19, 2015

Merawat Ingatan


Yogyakarta, akhir Oktober 2015..

Berkali-kali kubuka-tutup pintu rumah. Angin bertiup semilir. Condongcatur tiba-tiba dingin mengikis kulit. Aku belum siap harus mengingat ini lagi.

Ada yang diam-diam muncul kembali dari tumpukan memori-memori lawas. Sesuatu yang tak disengaja hadir; sekeping fragmen dari masa lalu. Ia mengingatkanku akan sebuah rahasia yang telah kututup rapat-rapat selama ini, sesuatu yang terjadi di Tanah Putih. Saat itu, kami masih berseragam putih abu-abu.

***


Semarang-Utrecht, antara 2010-2012..


Sesuatu telah terjadi ketika di Tanah Putih. Sesuatu telah hilang; dicuri! Dan sepanjang perjalanan ke Mugas ---hingga akhirnya menjejakkan kaki di Utrecht pun, sesuatu itu belum juga kembali.


Kucari-cari di mana ia berada. Sudah kususuri jalan paving block sepanjang lapangan rumput hingga Pohon Sipeas. Kucari di sepanjang koridor, lorong, tapi tak ada. Lalu di mana? Di kelas-kelas kah, di lab. Kimia, atau di stand depan Duta Pertiwi Mall?


Hm saat itu lidahku kelu sepanjang hari. Aku salah tingkah berjam-jam. Padahal kurasa orang-orang berharap aku berbicara dengan baik saat presentasi. Kau juga melihatku aneh, mungkin, sebab biasanya aku banyak omong.


Aku sendiri tak paham mengapa begini. Terlalu wagu untuk sebuah kebetulan. Tapi aku sangat yakin sesuatu itu ada di sana. Atau jangan-jangan, kau benar-benar pencurinya?


***


Semarang, pertengahan 2012..


Aku mencium aroma ketidakberdayaan setiap kali kau mendekat. Semenjak di Tanah Putih. Ya benar, semenjak kita pernah duduk dalam mobil tua menyusuri jalanan menurun dari sebuah rumah di atas bukit di Tanah Putih. Kamu pikir kamu ini siapa? Sosokmu terlalu biasa untuk sekadar kusegani. Harus kukatakan, kau ini bukan siapa-siapa.


Tapi sungguh. Sesuatu telah terjadi di Tanah Putih. Bukan hanya ada sesuatu yang hilang, namun juga ada sesuatu yang tidak beres, tidak benar, tidak seharusnya terjadi.


***


Semarang, pertengahan 2015..


Bertahun-tahun kemudian kita dipertemukan dalam ruang dan waktu yang berbeda. Kita datang sebagai lakon dari cerita masing-masing. Tentu saja sudah banyak fragmen yang kita lewati. Dan tak sekalipun kulihat wajahmu sampai hari ini.


Tapi tiba-tiba lidahku kelu. Aku salah tingkah. Satu kejadian terlintas di pikiranku. Sesuatu terjadi di Tanah Putih pertengahan 2010 lalu, sesuatu telah hilang, dicuri; sebuah belahan hati. Dan ia belum ditemukan hingga kini.


Tapi rasanya sebagian belahan hati yang tersisa, kini meronta. Pasangannya sudah dekat.


Share: