Wednesday, September 9, 2015

Kepergian Tanpa Pesan dan Sebuah Pelajaran Kehilangan


Kalau cuma ditinggal pergi tanpa pesan, kurasa, aku sudah biasa. Yang tidak biasa adalah ditinggal pergi dengan pesan bahwa ia akan menghilang. Sebab setelahnya, tidak akan ada pertemuan.


Konon, orang-orang itu sebenarnya tidak sedih karena perpisahan. Kehilangan lah yang membuat mereka bersedih. Sebab bertemu dan berpisah adalah satu kesatuan. Namun, perpisahan membawa rasa kehilangan. Sebab itu orang-orang bersedih.


Aku tidak suka perpisahan. Bagaimanapun caranya, perpisahan tetap saja membawa cerita duka. Perpisahan adalah simbol bahwa sesuatu itu menemui titik akhirnya. Ibarat sebuah cerita, perpisahan mengisyaratkan sebuah akhir dari perjalanan tokohnya. Biasanya dalam akhir si tokoh akan merasa bahagia. Namun, tak sedikit juga yang merana. Beberapa ada yang digantungkan nasibnya, lalu membiarkan pembaca bertanya-tanya. Pembaca yang baik akan berimajinasi, tentu saja sesuai keinginannya. Pembaca yang tak terlalu baik cuma akan mengumpat kecewa. Sial, padahal sudah dibuang banyak waktunya untuk mengetahui akhir dari ceritanya, tapi akhirnya digantung saja.


Berakhir tanpa kepastian, sedih, atau bahagia, sebuah akhir pasti membawa kerinduan akan cerita selanjutnya. Pun dengan perpisahan. Hanya rindu, tidak sampai sedih. Sebab setelahnya mungkin akan ada pertemuan, lagi.


***


Terakhir kali menemuimu di Jogjakarta. Saat itu, kita ada di sebuah tempat makan di seputaran Mrican. Hujannya baru saja turun. Mengenakan rok, aku berjinjit, berlari-lari kecil menghindari sisa-sisa hujan yang mulai menipis. Kamu mengatakan aku sok-sokan.


"Penyuka hujan yang tidak suka kehujanan," katamu.


Sepanjang obrolan siang itu, kita hanya membahas hujan. Kita nampaknya sama-sama merindukan hujan, dan kita sama-sama kesepian. Maka kita hadir satu sama lain untuk membunuh sepi, menertawakan hal-hal yang tidak perlu ditertawakan. Kita cuma ingin bersama. Kita hanya takut pada perpisahan, iya kan?


***


Pada pertemuan selanjutnya, kita hanya berpapasan secara kebetulan. Saling menyapa, mengulum senyum, lalu melambaikan tangan. Begitu berulang kali.


***


Tapi pada titik ini, katamu, kamu akan pergi dan menghilang. Kita berpisah tentu saja. Perpisahan yang tidak bisa disebut sebagai akhir sebuah perjalanan, sebab dimulai saja belum.


Kita cuma dua orang yang berjalan sendiri-sendiri. Lalu pada suatu titik, kita pernah dipertemukan. Hanya dipertemukan. Bukan untuk disatukan asal kamu tahu.


Sebabnya kita memang berbeda, dan pada titik ini aku menyadari akan suatu hal yang disebut kehilangan. Ya, perpisahan mungkin tidak menimbulkan kesedihan, seperti akhir dari sebuah cerita. Mungkin akan ada episode selanjutnya. Tapi perpisahan yang sesungguhnya membawa kita pada satu hal bernama kehilangan. Kehilangan lah yang menyebabkan kesedihan.

Wednesday, September 2, 2015

Senja di Bandung dan Jogjakarta


Ketika terbangun, aku merasa ada sesuatu dari dalam kepalaku yang baru saja dibongkar. Pelan-pelan. Sesuatu itu berputar. Memaksaku menyaksikan cuplikan-cuplikan kisah. Mengoyak ingatanku akan suatu hal di masa lalu. Sesuatu yang seharusnya sudah selesai bertahun silam. Sesuatu yang seharusnya tidak menghantuiku, bahkan sampai ke alam pikiran.

Aku menghela napas panjang. Mengapa potongan itu muncul kembali jadi bunga tidurku? Kukira, aku sudah lupa. Tapi ternyata, pikiranku belum mau lupa. Ada sesuatu dari bagian Id-ku yang menyimpan memori-memori itu. Ia seperti kenangan. Tak mampu menembus lapisan Ego, fragmen itu cukup datang lewat mimpi. Tapi sungguh mimpi yang menghantui. Mimpi yang tiba-tiba saja mengingatkanku akan sesuatu.

"Halo?"

***

Sebagai seorang yang sudah berumur 17 tahun, seharusnya aku mulai paham tidak semua orang itu jujur. Pembohong pasti ada dan berkeliaran di sekitarku. Hanya saja, aku tidak menyangka satu dari pembohong itu justru adalah orang yang sangat aku percayai. Yang padanya, aku mempercayakan banyak hal. Yang olehnya, aku diajari, bahwa orang baik tidak mungkin ingkar janji.

Hari sudah malam. Aku duduk di peron stasiun sendirian. Temanku memutuskan pulang, karena menunggu baginya adalah pekerjaan membosankan. Ah, iya, menunggu memang membosankan. Terlebih, menunggu dalam ketidakpastian.

Aku tak tahan melihat senja
Kututup daun pintu supaya tak tembus sinarnya
Saat paling baik adalah berada di kapal terbang 
yang menuju ke timur atau
sedang berada di kereta api sehingga
senja lekas terlewati.

Senja mengingatkan aku kepada perpisahan
yang diulur-ulur
dan kepada keraguan antara
kehadiran dan kemusnahan

Mengapa tidak sekaligus mati sehingga
orang tidak sempat meneteskan air mata
Aku terus menghindari senja
Senja yang membawa sedih selalu


Seharusnya senja tadi dia sudah muncul. Tapi hingga kereta terakhir datang, aku tak juga menjumpai batang hidungnya. Ia yang katanya orang baik dan menepati janji itu, kali ini ingkar. Bukan itu saja, setelah itu ia menghilang. Tanpa jejak. Seperti lenyap tertelan bumi. Sialnya aku masih menyimpan banyak sekali pertanyaan yang seharusnya ia jawab. Maka ia seperti banyak pemicu masalah-masalah pelik di sekelilingku; ketidaktuntasan. Atau bahkan tidak ada yang tidak tuntas? Sebab dimulai saja belum.

***

"Aku sekarang di Bandung loh. Padahal kamu to, yang menunggu kabar dari Bandung? Kenapa akhirnya malah ke Jogja? Jogja kan cerita lama.."

"Emm.. enggak tahu kenapa, aku masih selalu merasa yang aku cari ada di Jogja."

"Tapi nggak ada, kan? Kamu bisa mati penasaran loh."

"Kita lucu ya!"

"Kenapa?"

"Kamu menunggu kabar dari Jogja, tapi malah ke Bandung. Aku yang menunggu kabar dari Bandung, malah ke Jogja. Hahaha! Ayolah ke Jogja aja."

"Ada sesuatu yang dikangenin sih dari Jogja. Tapi ya gitu, keenggananku sama sepertimu yang enggan ke sini."

"Kita bicara kayak gini seolah Jogja-Bandung itu sejauh Jogja-Amsterdam! Hahahaha."

"Padahal kita cukup ke stasiun kereta dan memesan tiket ke sana."

"Atau sebenarnya ini cuma ambisi-ambisi kita yang tidak tuntas. Sementara, pikiran rasional kita menahan untuk melakukannya."

"Tapi kita perlu ketemu untuk sekadar jalan-jalan."

"Ayo, ke mana?"

"Semarang aja. Pulang."