Sunday, March 22, 2015

Sepotong Hati dalam Secangkir Dark Chocolate #3

Dari Bagas,

Akhirnya kami bertemu di McDonald's Malioboro. Tak pernah ada yang berubah darinya. Pakaian yang terlalu formal untuk acara jalan-jalan, sebuah Jansport berwarna pink terang, dan Waiki bergambar cherry kesayangannya. Ia duduk di hadapanku menikmati es krimnya seperti anak berusia lima tahun.

Sedang aku? Sejak pertama menatapnya aku cuma diam. Aku terlalu kaget dengan bunyi SMS, "Aku di Jogja. Temui aku di Malioboro sebelum pukul 7."

Aku membuka pesannya pukul 17.45 sepulangku dari kantor. Tanpa berpikir panjang aku langsung menuju Malioboro. Feelingku kuat mengatakan ia di McDonald's. Benar. Ia di pojokan. Sedang asyik dengan kentang goreng, McFlurry, dan segelas McFloat. Aku cuma menyapanya "Hai" lalu setelahnya lebih banyak diam --membiarkan ia mengoceh apapun.

Pukul 7 tepat. Ia berdiri dan merapikan tasnya.

"Kamu mau ke mana?" sergahku.

"Balik."

"Ke?"

"Jakarta.." jawabnya singkat. "Thanks ya sudah ditemani makan es krim. Bye!" Ia bangkit meninggalkanku yang masih tak habis pikir dengan tingkahnya.

Aku masih tak beranjak dari tempat dudukku. Kepalaku mulai pening dan aku cuma bisa menertawakan diriku sendiri.

Aku sudah melihatnya keluar dari McDonald's.

***

"Kalau untuk pergi lagi buat apa datang?" Aku bicara setengah berteriak. Wajahku kuyu. Kemejaku berantakan. Dan aku berjalan gontai mengekornya yang terlihat begitu tak acuh terhadapku.

Ia tak merespons. Diteruskannya langkahnya sampai ke Stasiun Tugu. Dan.. ya, aku masih mengekornya, hingga ke peron.

"Adnin.." ujarku lirih. Ia menghentikan langkahnya, duduk di bangku peron.

"Kamu kenapa?" tanyanya.

"Kamu nanya kenapa, Nin?" Aku menggeleng tak percaya. "Setahun kamu ilang nggak ada kabar sama sekali, nggak pernah merespons pesan-pesanku. Lalu hari ini kamu datang, ingin ditemui.. tapi... tapi bahkan kita nggak ada satu jam duduk bersama!" kataku setengah berteriak.

"Aku mengirim pesan itu pukul 3 sore. Siapa suruh kamu datang pukul 6. Hmm lain kali kamu harus lebih menghargai waktu.." ujarnya. Datar dan tanpa rasa bersalah.

Email dari Bagas kuterima. Aku membacanya berkali-kali. Sudah sejak semester 3 kuliah ia bilang akan menulis novel. Dan ia selalu bilang aku adalah temannya yang istimewa karena diperbolehkan untuk membacanya setiap kali ia selesai menulis.

Awalnya aku bersemangat. Pikirku, bangga juga jika kawan karibku adalah seorang penulis. Syukur jika populer. Tapi mengingat sampai hari ini ia belum juga menyelesaikan tulisannya, aku jadi putus asa.

"Bro, sepertinya kau harus mulai bertingkah lebih rasional," ujarku di telepon.

"Maksudmu?" Dari suatu tempat Bagas menjawab.

"Kalau memang tujuan kau ini menulis hanya untuk curhat, janganlah kau banyak mimpi. Pusing kepala aku ini baca potongan-potongan ceritamu yang tak kunjung selesai."

"Ah, Bang, kau pahami kondisiku lah.."

"Kau yang harus pahan kondisi kau sendiri terlebih dahulu. Ah, sudah sudah! Aku masih banyak kerjaan ini.."

"Oke." Ia menutup telpon.

***
(mungkin bersambung)