Thursday, December 24, 2015

Perempuan yang Menyukai Hujan


Teleponmu baru saja kututup. "Sudah pagi," katamu. Sementara, di sini aku baru saja memulai istirahat makan siangku, sembari mengecek puluhan notifikasi yang mampir ke ponsel pintar. Tidak ada yang aneh dengan percakapan kita. Terlalu biasa, seperti rutinitas.

Dulu sekali ketika aku memutuskan menyetujui ini, aku tidak berpikir perasaan akan sebegininya dalam jarak yang memiliki perbedaan waktu. Kukira, usai mendaratkan ciuman menjelang keberangkatan di bandara, rasa tenang dan hangatnya akan selalu ada sampai nantinya kita bertemu kembali. Tetapi jatuh cinta memang soal rasa hati, dan ia adalah sesuatu yang paling tidak bisa ditangkap oleh panca indera manusia, juga oleh nalar.

Rasa hati seolah-olah adalah diri sendiri. Yang seharusnya dilihat, dianggap sebagai yang melihat. Yang seharusnya dikuasai, justru dianggap berkuasa. Sehingga seperti inilah laku orang jatuh cinta; lemah, terperdaya, tidak bisa apa-apa.

***

Kamu menjulukiku perempuan yang menyukai hujan. Kamu sendiri adalah hujan; datangnya selalu kunanti-nanti dan membuatku berharap-harap cemas setiap kali akan tiba. Meski tak jarang juga membuatku kecewa. Sebab, meskipun ada waktu yang memastikan hujan datang, kadang-kadang ia ingkar janji.

Hujan mengajariku tentangmu bahwa tak setiap waktu kamu bisa dipercaya. Lebih dari itu, ia juga memberitahuku bahwa sebaiknya kita tak setiap saat harus bertemu. Kita butuh sesuatu bernama rindu. Yang karenanya, bisa ada pertanyaan-pertanyaan tak praktis berloncatan dalam isi kepalaku, berkumpul, membludak, lalu tumpah bersama derasnya hujan yang turun lewat ujung goresan pena yang penuh dengan tinta.

Pada hujan, aku sering berpuisi. Sebab, hanya dengan puisi di saat hujan aku bisa merasakan irama di setiap detak jantungmu, cemasmu, juga bahagiamu. Kau adalah hujan itu sendiri. Itu sebabnya aku menyukaimu, menyukai hujan.

Semesta bicara tanpa bersuara
Semesta ia kadang buta aksara
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugerah 
Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari 
Semesta bergulir tak kenal aral
Seperti langkah-langkah menuju kaki langit
Seperti genangan akankah bertahan
Atau perlahan menjadi lautan 
---Hujan di Mimpi by Banda Neira

Wednesday, December 16, 2015

Di Stasiun Kereta


Sejak dulu aku selalu berkhayal tentang sebuah pertemuan di stasiun kereta. Entah di Tawang, entah di Tugu. Aku juga memimpikan akan ada perbincangan manis sembari menikmati makan malam di lesehan, ditemani musisi-musisi jalanan. Entah di Taman KB, entah Malioboro. Otakku nampaknya tercemari lakon-lakon dalam FTV. Entah selera tontonanku yang receh, atau memang satu dari sekian banyak orang di dunia ini memiliki cerita yang... tidak masuk akal?

***

Bertahun lalu di stasiun, aku menunggu sebuah kereta yang tak kunjung datang. Sampaikan padanya aku mengucap terima kasih sebelumnya. Manusia memang harus melakukan kesalahan. Setidaknya itu membuatnya sadar, bahwa kekecewaan adalah batas antara ekspektasi dengan kenyataan.

***

Kau selalu bilang bahwa dalam setiap perpisahan pasti ada waktu untuk sesuatu yang bernama pertemuan. Ya, kau selalu bilang akan pertemuan dalam setiap perpisahan ---bukan sebaliknya seperti yang dibilang orang-orang. Kau berbeda, sebab itu aku suka.

Namun padamu, aku meyakini sesuatu; kekecewaan adalah batas antara ekspektasi dengan kenyataan.

Friday, November 20, 2015

Sebelum Kepulangan dari Belanda

Ketika mengetahui aku akan ke Belanda bersama seorang anak dari ITB, sejujurnya aku sudah mencari tahu banyak soal dia. Pertama-tama, aku harus tahu apa jurusannya, dia bagaimana, siapa teman-temannya, dan sebagainya. Aku beruntung hidup di era medsos di mana seluruh aktivitas perkepoan dibuat menjadi lebih mudah. 
Aku sering mendengar tipikal karakteristik anak-anak ITB dari orang-orang di sekitarku. Dimulai dari dosen, teman, saudara, atau bahkan hasil surfing di internet. Katanya, mereka itu songong. Terlebih yang asli Bandung, sejak orok sampai SMA dididik di sekolah yang "konon" favorit, maka level kesongongannya menggunung. 
"Nggak bisa begitu, Ra!" protes Devira. Katanya yang malesin kalau diajak debat di kalangan mahasiswa UGM itu anak Fisipol. Tapi, bila kamu sudah ketemu dengan Devira yang anak Psikologi, anggapanmu akan sedikit berubah. 
Aku cuma mengangkat keduapundakku dengan gestur yang kurang lebih artinya, "Rak peduli, ndes!" 
"Kamu nggak bisa memberikan penilaian pada orang hanya dengan embel-embel almamaternya. Kamu tahu setiap orang tu memiliki karakteristik personal yang berbeda sekalipun mereka dididik dalam iklim pendidikan yang sama. Di psikologi itu namanya individual differences," sambungnya. 
"Iya, Dev, iya. Aku kan ya cuma bilang katanya, to?" 
"Paling tidak dia ganteng," katanya lagi. Devira tersenyum genit. "Aku mau lho dikenalin." 
"Sakarepmu lah!" 
Obrolan dengan Devira masih melayang-layang di ingatanku sampai hari ini. Selama aku di Amsterdam pun, Devira masih sering menanyakan perihal teman-exchange-ku itu. 
Ya ya. Pada akhirnya selama kami di Belanda, seluruh gambaranku tentang dia tidak sepenuhnya benar. Pertama, Rahadian Anggi ternyata lebih suka dipanggil Anggi dan bukan Raha seperti dugaanku. Kedua, Anggi tidak mengambil kelas engineering seperti dugaanku ---karena dia anak ITB. Dan yang terakhir, dia sangat payah. Aku tidak bisa mengatakannya sombong, tetapi payah. 
Bayangkan selama enam bulan kami di Belanda, kami tidak pernah mengenal secara lebih dekat satu sama lain. Maksudku.. kupikir nanti aku bisa sekadar jalan-jalan atau hunting foto dengan dia. Tapi bahkan mengajakku ngobrol sekalipun dia tidak pernah. Paling banter dia tersenyum saat berpapasan, atau basa-basi menanyakan kabar saat bertemu. Anggi ke mana-mana selalu dengan dua temannya, mahasiswa lokal, kalau tidak salah bernama Yohanes dan Ineke. 
Begitulah. Anggi cukup payah dalam relasi pertemanan, setidaknya denganku. Jadi aku memupus jauh-jauh harapanku untuk bisa "punya sahabat anak ITB". Fix. Mereka songong. 
*** 
Setelah acara perpisahan di PPI Belanda, tiba-tiba Anggi menghampiriku ke rumah. 
"Emm jalan-jalan, terserah," katanya. Dia tersenyum sambil membenarkan letak kacamatanya. Aku nggak kuasa menahan ketawa.
Hari itu aku mengajaknya ke Haarlem untuk bertemu teman-temanku. Kami bersepeda berkeliling Haarlem bersama Salma dan Ivan. Dari sana, sekalipun aku masih merasa Anggi terlalu kaku menjadi orang, setidaknya dia tidak songong. Tiba-tiba aku ingat Devira. 
*** 
Kata orang hidup itu pilihan. Aku setuju. Hidup memang pilihan, dan dari pilihan-pilihan itu, sesungguhnya sebagai manusia kita hanya dipilihkan. Pun soal rasa. 
Kebersamaanku dengan Anggi berlanjut ketika keesokan harinya lagi-lagi kami jalan berdua. Aku mengajaknya ke Utrecht, ke kampus Utrecht University. Kau tahu ada siapa di sana? Andi. 
Hal paling mengejutkan yang kupikir pada awalnya adalah aku bisa bertemu Andi setelah bertahun-tahun semenjak ia lulus SMA kami tidak pernah bertemu. Namun, ternyata bukan. 
"Saya serius." 
"Tapi.. kita baru kenal?" 
"Saya memperhatikan kamu dari pertana kita bertemu di Jakarta. Saya sudah berusaha meyakinkan hati saya, dan ini jawabannya. Maaf ya, kalau saya mendadak bilangnya." 
Oh my God! 
Anggi suka sama saya! Saya! Orang yang selalu pakai kata ganti "saya" dan akhirnya memaksaku memakai "saya" juga itu bilang suka! Sekali lagi, suka! 
Tapi suka seperti apa yang dimaksud? Apakah suka aja atau suka banget atau gimana? Suka itu yang gimana? Kenapa sih harus suka? 
Semua pertanyaan tentang definisi suka mendadak memenuhi isi kepalaku. Aku akhirnya pamit pulang duluan, bahkan tidak mau diantar sampai rumah dengan berbagai alasan, dan Anggi menerima. 
*** 
Sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Kenapa suka? Kenapa mau jadi pacar? Ini nembak? God, please, aku sudah lama nggak ditembak cowok. Ini nembak, serius? 
Tapi kenapa Anggi? 
Sekali lagi pertanyaan tentang mengapa Anggi berkecamuk di pikiranku. Kurasa, di titik ini keyakinanku tentang hidup ini pilihan adalah benar. Ya, hidup ini pilihan. Tapi bagiku, di antara pilihan-pilihan itu, kita hanya dipilihkan. Pun soal hati, soal perasaan. 
Jika hidup ini bukan dipilihkan, barangkali sudah dari bertahun lalu aku merasakan bagaimana rasanya jadi kekasih Andi. Aku tergila-gila dengan seniorku yang pendiam itu semenjak MOS di SMA. Tapi tak sekalipun Andi menggubrisku. Dalam hal ini, perasaan Andi belum dipilihkan untuk jatuh padaku. Maka, Andi lempeng aja ketika akhirnya dia lulus dan melanjutkan kuliah di Utrecht. Sementara aku, yang memilih menjatuhkan perasaan padanya, hanya mampu meringis menahan ngilu. Bertahun-tahun memimpikan tinggal di Belanda dan memiliki kesempatan sekali saja bertemu Andi. 
Tapi tidak. Aku ternyata tidak dipilihkan untuk itu. Hal lain yang sangat mengejutkan justru ketika akhirnya aku sudah menjejakkan kaki di Utrecht, seseorang mengatakan suka padaku, dan ia bukan Andi.

bersambung...

Wednesday, November 18, 2015

Pada Suatu Sore di Dam Square


Begitu tahu aku hanya ke Schalkwijk untuk menemani Rana bertemu teman-temannya, Yo mengejekku habis-habisan. Tapi sedikit berbeda, Ineke justru membelaku. Katanya, sebagai perempuan, ia lebih paham bagaimana sesungguhnya perasaan Rana. Ineke bilang padaku, membaca kultur orang Indonesia yang sangat pemalu dan sopan, dikenalkan kepada teman mereka artinya aku berusaha dimasukkan ke dalam 'lingkaran' milik Rana dan teman-teman.

"Dalam arti lain, kamu diterima oleh mereka!" Ineke bercerita menggebu-gebu. Aku tidak tega mematahkan analisisnya dengan bercerita kalau bahkan baru kemarin Rana mengetahui aku ini mahasiswa semester akhir di Pertambangan ITB.

Di Haarlem kemarin, bersama Rana dan teman-temannya yang asli Belanda, aku diajak menikmati kopi di La Place Cafe Mall V&D. Aku dikenalkan dengan beberapa orang yang ternyata dikenal Rana ketika dia exchange ke Amerika sekitar beberapa tahun lalu.

"Waktu itu saya masih kelas 2 SMA," kenangnya. Rana sepertinya tipikal perempuan yang memang gemar menjalin pertemanan dengan orang asing. Aku jadi sedikit menyesal karena setelah enam bulan baru berani menyapa duluan.

***

"Sebelum pulang ke Indonesia, ada rencana ke mana lagi?" tanyaku akhirnya. Aku merapatkan jaketku. Amsterdam di akhir tahun memang kurang ramah untuk orang yang terbiasa tinggal di Indonesia.

"Ke Utrecht!"

"Ketemu temen lagi?" tanyaku.

"Rahasia! Hahaha! Kalau mau ikut bilang aja.."

Aku tak kuasa untuk menahan senyum, sekalipun jujur aku malu sekali.

***

Pertemuan pertama kami di Jakarta. Saat itu acara pembekalan dilakukan di salah satu hotel di bilangan Kemang. Kami menjadi peserta exchange yang diselenggarakan atas kerjasama Kemenlu RI dengan negara-negara tujuan. Dari Indonesia ada sekitar 50 orang yang diberangkatkan ke seluruh negara Uni-Eropa, dan aku serta Rana menjadi dua orang yang memilih Belanda sebagai negara tujuannya.

Dari obrolan kami di kereta menuju Utrecht Centraal, aku baru tahu kalau Rana ternyata sangat teobsesi untuk bisa tinggal di Belanda. Sebab itu ia memilih Belanda sebagai negara tujuannya pada program ini. Kalau aku.. hm entahlah. Aku hanya merasa sedikit lelah dengan kehidupanku di kampus. Aku pengin liburan di suatu negara yang sepertinya menyenangkan. Karena itu aku memilih Belanda, sekaligus untuk belajar kedokteran di VU.

Itulah kenapa pengetahuanku akan seluk-beluk negara ini sangat terbatas. Aku sedikit beruntung bertemu teman-teman di sana seperti Yohanes atau Ineke, Lebih jauh, aku beruntung karena bertemu dengan Rana. Ya, untuk yang satu ini aku norak sekali. Aku tahu.

***

Tidak seperti di Haarlem kemarin, setibanya di Utrecht, Rana tidak begitu antusias. Aku juga tidak tahu apa sebenarnya tujuannya ke sini. Padahal, jika dilihat dari jaraknya, Utrecht lebih jauh ketimbang Haarlem. Tapi Rana bener-bener nggak punya tujuan.

Rana hanya mengeluarkan kameranya, mengambil berbagai gambar, lalu mengajakku mencari keberadaan Utrecht University. Kami akhirnya memutuskan berjalan kaki sekitar 15 menit melalui Mariaplaats sebelum akhirnya sampai di Domplein. Yang aku heran, di sepanjang jalan, Rana tiba-tiba murung. Dia sering melamun seperti mengingat sesuatu. Sesuatu yang jauh, tetapi berusaha muncul dalam kepingan-kepingan memori di kepalanya.

***

"Boleh saya tanya kenapa?" tanyaku.

"Kenapa?"

"Kamu."

"Kenapa?"

"Murung sejak dari Utrecht. Ada apa?"

"Nggak apa-apa hehehe."

Dam Square selalu menawarkan pemandangan yang unik setiap sore dengan burung-burung Merpati yang berkeliaran bebas di sana. Dam Square berada di pusat Kota Amsterdam, sejenis alun-alunnya, tak jauh dari Amsterdam Centraal, sekitar 750 meter. Lokasi ini berbentuk persergi panjang, membentang dari utara ke selatan, barat ke timur, menghubungkan jalan-jalan Damrak dan Rokin.

Kami sudah menghabiskan seharian dengan acara jalan-jalan yang sangat melelahkan. Seusai dari Utrecht yang hanya sekitar beberapa jam, kami kembali lagi Amsterdam, mengunjungi Museumplein, melewati Leidseplein, Prinsengracht, dan juga Herengracht sembari bercerita banyak mengenai sejarah masing-masing. Emm lebih tepatnya, Rana bercerita dan aku lebih banyak bertanya-tanya. Dam Square menjadi tempat terakhir yang kami kunjungi hari ini, sepertinya, mengingat aku sudah sangat lelah.

Aku baru sadar selama enam bulan di sini aku memang benar-benar kurang piknik.

"Oh ya, mau Leiden nggak?" tanyaku berusaha memecah suasana.

"BoerhaveMuseum?"

"Hahaha! Kok ketebak sih?"

"Dasar anak kedokteran gagal! Hahaha!"

"Hmm kamu harus tahu bagaimana rasanya harus merampungkan kuliah di tengah keinginan-keinginan kuliah di tempat lain yang masih tumbuh subur," ujarku.

"Tapi saya salut sama kamu, Nggi. Kamu kecewa tapi kamu berhasil dalam jalanmu sebagai pecundang yang nggak berani ngejar cita-citanya di FK UI. Kamu keren," katanya. Aku tersipu.

"Oya, Ra. Kamu pergi dari Jogja berbulan-bulan, pacarnya apa nggak kangen?"

"Pacar? Hahahaha!" Rana tertawa terpingkal-pingkal.

"Kenapa?"

"Enggak.. enggak.. lucu aja setelah sekian lama dan akhirnya ada yang nanyain perihal pacar ke saya."

"Jadi...?" Suaraku menggantung.

"Saya... nggak ada pacar. Sedih, ya?"

"Kenapa?"

"Nggak tahu. Kamu?"

"Sama," kataku jujur. "Tapi sebenarnya saya pengin ada pacar di sini," lanjutku. Beberapa saat kmi diam. "Kalau kamu saja gimana?"

"Ha?"

"Saya serius."


bersambung...

Hari-hari Terakhir


Semenjak perpisahan yang digelar PPI Belanda kemarin, aku sudah menceritakan ihwal keinginanku mengajaknya pergi kepada beberapa orang. Emm. Mungkin jalan-jalan. Berdua saja. Lengkap sudah rasanya enam bulanku di Belanda jika itu terwujud. Aku menceritakan kepada beberapa teman di sini, dan mereka semua mengejekku. Yo bahkan bilang jika aku ini representasi laki-laki Indonesia, maka kemungkinan besar Indonesia segera hancur, karena perkara mengajak perempuan jalan-jalan saja aku tidak berani.

Bukan. Bukan. Aku bukan tidak berani. Aku cuma baru sekitar enam bulan mengenalnya. Itupun tidak utuh. Kami memang sama-sama mengikuti kuliah di Vrije Universiteit, tapi dia memutuskan mengambil kelas seni, sementara aku, mengikuti keinginan lamaku belajar kedokteran, maka aku masuk ke kelas medicine. Kukira ini pilihan yang tepat, namun, ternyata tidak juga.

Ya Tuhan. Aku jatuh hati di Belanda setelah bertahun-tahun rasanya tidak pernah begini. Aku jatuh hati dengan perempuan yang baru kukenal enam bulan belakangan ini.

Yo mengatakan padaku kalau aku tidak memutuskan mengajaknya pergi sekarang, ketika kami sama-sama pulang ke Indonesia, kesempatan itu menjadi kecil peluangnya. Sekalipun aku selalu menceritakan bahwa jarak Bandung dan Yogyakarta hanya sekitar 6 jam perjalanan dengan kereta. Tapi kata Yo aku harus buru-buru mengatakannya, paling tidak, berusaha.

Maka di hari-hari terakhir sebelum kepulangan kami ke Indonesia, aku menemuinya di homestay tempatnya tinggal. Rana gadis yang ramah, seharusnya aku tahu itu. Tanpa curiga sedikitpun kepadaku, ia mengiyakan.

"Ke mana?" tanyanya. Giliranku yang gugup.

"Emm jalan-jalan, terserah," kataku asal.

"Saya suka orang kayak kamu," katanya tiba-tiba membuatku bengong beberapa saat. "Yang nggak punya pilihan atas keinginannya sendiri! Hahahaha!" lanjutnya sambil tertawa. Aku tersipu antara merasa tersanjung atau justru malu disindir seperti itu.

"Sebenarnya aku ingin ke Haarlem sore ini, mau ikut?" Rana memberikan penawaran yang langsung kusetujui.

***

Perjalanan dari Amsterdam ke Haarlem hanya sekitar 15 menit dari Amsterdam Centraal. Sepanjang perjalanan itu, aku mencoba mengakrabkan diri dengan Rana lewat cerita-cerita yang kami lontarkan dari mulut kami masing-masing. Bermula dari bagaimana kuliahku di ITB, jurusan apa yang sebenarnya sedang kuambil, dan lain sebagainya. Dari obrolan itu, aku baru tahu Rana ternyata sangat parah dalam hal kuliah. Maksudku, karena hobinya jalan-jalan dan mengikuti kegiatan di luar kampus, sudah tak terhitung berapa waktu yang harus terbuang.

"Mungkin kalau nggak banyak cuti, sekarang saya udah lulus kali ya? Hehehe."

Aku tersenyum menanggapinya. "Yaaa, tapi terbayar lah dengan banyaknya acara jalan-jalan."

"Lebih tepatnya terbayar dengan banyaknya ketemu orang baru, dan inspirasi baru."

"Apa saya juga menginspirasi?" tanyaku tiba-tiba. Rana diam beberapa detik.

"Ya... bisa sih.. hehehe."

"Kenapa kamu pengin ke Haarlem hari ini?"

"Hmm entah. Haarlem selalu mengingatkan saya pada Jogja," ujar Rana.

Ia lalu cerita tentang kota yang juga Ibu Kota Provinsi Noord Holland, provinsi di mana Amsterdam, Ibu Kota Belanda, ada di dalamnya. Kota ini memang tergolong unik karena kelestarian budayanya. Mulai dari Oude Stad, kota tua, hingga museum-museum ada di sana. Hmm mungkin memang nggak berlebihan kalau Rana menyebutnya mirip dengan Jogja. Aku lupa dia hampir enam bulan meninggalkan kotanya itu, Rana pasti menyimpan kangen sebagaimana aku kangen dengan jalan-jalan di Bandung dan sekitarnya.

Menurut cerita Rana, dari segi bahasa, Haarlem konon memiliki dialek yang paling baik di antara dialek lain dalam Bahasa Belanda. Di masa lalu juga dikenal kota ini menjadi sasaran distribusi trading lintas samudera Belanda usai merapat di Amsterdam dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

"Hanya itu alasannya?"

"No.. Saya ingin bertemu seorang teman.. di Schalkwijk, Tidak keberatan kan menemani saya? Udah enam bulan di Amsterdam, tapi nggak pernah berkunjung ke sini.. kan, sedih."

Oh pantesan. Kali ini aku mengalah. Cuma 'menemani' dia pun tak masalah, karena, paling tidak, dengan begitu aku bisa punya alasan untuk banyak ngobrol dan berdua dengan Rana. Setidaknya sebelum kami sama-sama pulang ke Indonesia.


bersambung...

Tuesday, November 3, 2015

Fragmen Terakhir


"Kamu nunggu apa?" Ibu mulai bertanya gusar. Senyumku mencoba mengembang, lidahku menjawab sekenanya. Kurang dari lima menit lagi seharusnya aku boarding. Setelahnya, pesawat akan membawaku belasan jam dari Jakarta sebelum akhirnya tiba di Amsterdam ---sebuah tempat yang sangat jauh dari Jakarta, apalagi Semarang.

Sungguh aku masih menunggu sesuatu.

Dalam bayanganku, seharusnya ini terjadi seperti di film-film yang pernah kutonton. Ara akan datang ---seperti Cinta yang akhirnya ketemu Rangga sebelum dia ke Amerika. Ara akan datang, lalu kami berpelukan sebelum akhirnya mengucap janji. Kami berpisah baik-baik. Tapi tidak. Tidak mungkin. Kalaupun ia datang, seharusnya kemarin saat aku bilang aku akan ke Jakarta. Tapi bahkan sejak di Semarang, Ara tidak sudi menemuiku. Pun dengan teman-teman, Givan, Rudi, Azhar, nggak ada satupun yang datang. Sebegitunya aku bersalah?

"Ayo cepat, Ndi!" Kali ini Ayah. Aku tidak bisa mengelak. Kuciumi satu persatu Ibu dan adik-adikku. Bersama Ayah aku akan ke Amsterdam. Ayah ada tugas selama sebulan di sana. Tetapi aku harus menempuh perjalanan beberapa menit lagi dengan kereta, ke Utrecht, tempat yang juga sangat jauh dari sini, apalagi dari Semarang.

Sepanjang perjalanan aku masih berusaha menerka-nerka apa yang terjadi pada Ara.

***

Aku ingin kamu menghormati
pilihan yang telah kuambil 
dan juga tak akan kusesali, 
atas nama bara api cinta 
yang telah kita tumbuh-suburkan 
dalam dada kita masing-masing selama ini.
Yang telah kita titipkan 
lewat debur ombak yang mengalun 
seperti ikal rambutku, 
yang berlalu bersama 
desau angin senja.
Tapi kekasihku, 
biarkan aku mencintaimu, 
dalam sunyi.

Kulipat-lipat kertas itu dan kulembar dari atas balkon kamarku di lantai dua. Sejak pagi Pleburan diguyur hujan deras. Jalan depan rumahku mulai digenangi air. Jika hujan turun semalam lagi, airnya pasti akan masuk ke halaman rumah. Hujan turun tak berhenti-berhenti membuatku gusar, juga kesal, namun tidak tahu harus berbuat apa.

Semenjak pagi juga, Rudi menelepon dan mengirimkan pesan ke ponselku.

"Are you okay?"

Entah udah berapa kali BBMku dichat. Bahkan untuk sekadar membacanya aku malas. Aku sedang malas dengan semua hal, terutama yang berhubungan dengan Andi. Biar saja mulai hari ini dia pergi. Kadang-kadang aku berharap sebaiknya Andi menghilang saja dari kehidupanku, dari kehidupan kami semua.


bersambung...

Monday, October 19, 2015

Merawat Ingatan


Yogyakarta, akhir Oktober 2015..

Berkali-kali kubuka-tutup pintu rumah. Angin bertiup semilir. Condongcatur tiba-tiba dingin mengikis kulit. Aku belum siap harus mengingat ini lagi.

Ada yang diam-diam muncul kembali dari tumpukan memori-memori lawas. Sesuatu yang tak disengaja hadir; sekeping fragmen dari masa lalu. Ia mengingatkanku akan sebuah rahasia yang telah kututup rapat-rapat selama ini, sesuatu yang terjadi di Tanah Putih. Saat itu, kami masih berseragam putih abu-abu.

***


Semarang-Utrecht, antara 2010-2012..


Sesuatu telah terjadi ketika di Tanah Putih. Sesuatu telah hilang; dicuri! Dan sepanjang perjalanan ke Mugas ---hingga akhirnya menjejakkan kaki di Utrecht pun, sesuatu itu belum juga kembali.


Kucari-cari di mana ia berada. Sudah kususuri jalan paving block sepanjang lapangan rumput hingga Pohon Sipeas. Kucari di sepanjang koridor, lorong, tapi tak ada. Lalu di mana? Di kelas-kelas kah, di lab. Kimia, atau di stand depan Duta Pertiwi Mall?


Hm saat itu lidahku kelu sepanjang hari. Aku salah tingkah berjam-jam. Padahal kurasa orang-orang berharap aku berbicara dengan baik saat presentasi. Kau juga melihatku aneh, mungkin, sebab biasanya aku banyak omong.


Aku sendiri tak paham mengapa begini. Terlalu wagu untuk sebuah kebetulan. Tapi aku sangat yakin sesuatu itu ada di sana. Atau jangan-jangan, kau benar-benar pencurinya?


***


Semarang, pertengahan 2012..


Aku mencium aroma ketidakberdayaan setiap kali kau mendekat. Semenjak di Tanah Putih. Ya benar, semenjak kita pernah duduk dalam mobil tua menyusuri jalanan menurun dari sebuah rumah di atas bukit di Tanah Putih. Kamu pikir kamu ini siapa? Sosokmu terlalu biasa untuk sekadar kusegani. Harus kukatakan, kau ini bukan siapa-siapa.


Tapi sungguh. Sesuatu telah terjadi di Tanah Putih. Bukan hanya ada sesuatu yang hilang, namun juga ada sesuatu yang tidak beres, tidak benar, tidak seharusnya terjadi.


***


Semarang, pertengahan 2015..


Bertahun-tahun kemudian kita dipertemukan dalam ruang dan waktu yang berbeda. Kita datang sebagai lakon dari cerita masing-masing. Tentu saja sudah banyak fragmen yang kita lewati. Dan tak sekalipun kulihat wajahmu sampai hari ini.


Tapi tiba-tiba lidahku kelu. Aku salah tingkah. Satu kejadian terlintas di pikiranku. Sesuatu terjadi di Tanah Putih pertengahan 2010 lalu, sesuatu telah hilang, dicuri; sebuah belahan hati. Dan ia belum ditemukan hingga kini.


Tapi rasanya sebagian belahan hati yang tersisa, kini meronta. Pasangannya sudah dekat.


Sunday, October 11, 2015

Setelah 13 Musim


Ini lewat 13 musim semenjak di kedai teh itu kamu mengatakan padaku bahwa semuanya sudah berubah dan pada perubahan-perubahan itu, ada sesuatu yang tidak kita pahami. Perubahan-perubahan itu membuat jalan kita pincang, terseok-seok, dan kesakitan. Entah siapa yang kesakitan bagiku itu masih menjadi tanda tanya. Tapi kamu menyudahinya, maka kuhargai keputusanmu. Kita mengakhiri sebuah fragmen malam itu, dan setelahnya, kupikir tidak ada kelanjutan.

Lewat 13 musim semenjak punggung seorang temanku basah oleh bulir-bulir air yang jatuh dari kedua bola mataku. Ah iya, aku menangis. Mungkin saja aku yang kesakitan. Tapi temanku bilang itu hal yang wajar. Maka diajaklah aku berkeliling jalanan malam kota dengan sepedanya. Ia membiarkanku menangis sepuasnya. Sampai akhirnya aku lelah dan aku merasa bodoh. Maka setelah lewat 13 musim ini kukira aku sudah lupa semuanya.

***

Dermaga mulai sepi. Semilir sejuk angin berbaur aroma air laut menusuk tajam hidungku. Ini lewat 13 musim semenjak perpisahan di malam itu. Lalu, siapa yang menyangka pada suatu tempat di ujung Pulau Jawa tiba-tiba aku menemukanmu.

Dari dulu aku tidak terlalu menyukai perjalanan. Bukan saja ia membuatku kelelahan, tetapi perjalanan, juga sering memberiku kejutan-kejutan. Perjalanan membuatku bertemu orang-orang ---yang tak semua kukehendaki, kamu salah satunya. Perjalanan membuatku hilang ingatan akan jalan-jalan yang sebelumnya pernah kulalui. Lebih parahnya, perjalanan mungkin akan membuatku tersesat, lalu lupa arah jalan pulang.

***

"Setidaknya kalau kita tidak bisa memulainya sejak awal, aku ingin bisa berbicara baik-baik padamu."

"Mengapa menurutmu kita tidak bisa berbicara baik-baik?"

"Kita dua bulan ada di sini, kita bahkan tinggal di pondokan yang sama, tapi tak sekalipun kamu menyapaku."

"Mengapa aku harus menyapamu? Aku tidak ada keperluan apapun."

"Kamu harus tau saat itu semuanya tidak memungkinkan. Aku toh sudah menjelaskan panjang lebar padamu, bukan?"

"Aku tahu."

"Mengapa tidak dimaafkan?"

Aku memandangnya sejenak. Ini malam terakhir sebelum kami semua meninggalkan tempat ini. Sejujurnya aku ingin tidur saja yang lama. Tidur, lalu terbangun tanpa mengingat satu peristiwa pun.

"Dimaafkan," kataku lantas beranjak meninggalkannya.

"Dimaafkan tidak seperti ini."

"Lalu? Harus seperti apa?" Aku menghentikan langkahku. "Apa harus bersikap manis-manja padamu? Melupakan semuanya yang sudah-sudah dan memulai lembaran baru, lagi?" tanyaku. Ia tidak bergeming. Ditatapnya lekat-lekat wajahku seolah dengan begitu aku meleleh seperti lilin dipanaskan.

"Kamu yang mengatakan bahwa semuanya sudah berubah dan pada perubahan-perubahan itu, ada sesuatu yang tidak kita pahami. Perubahan-perubahan itu membuat jalan kita pincang, terseok-seok, dan kesakitan. Maka sebaiknya kita berjalan sendiri-sendiri. Kamu sudah lupa, iya?"

"Tidak adakah kesempatan lagi, setidaknya agar kita baik-baik saja setelah ini?"

"Kesempatan itu selalu ada, tapi kesempatan ketiga itu tidak ada, sampai kapanpun."

Aku pergi. Mengakhiri perjalanan ini karena sudah terlalu lelah. Kurasa di depan sana jalan-jalan masih terlalu panjang untuk dilalui. Aku tidak ingin berputar-putar pada satu titik yang sama. Aku sangat kelelahan. Sungguh. Dan tiba-tiba saja aku merindukan punggung orang untuk menumpahkan tangisanku malam ini.

Di mana dia sekarang?

Wednesday, September 9, 2015

Kepergian Tanpa Pesan dan Sebuah Pelajaran Kehilangan


Kalau cuma ditinggal pergi tanpa pesan, kurasa, aku sudah biasa. Yang tidak biasa adalah ditinggal pergi dengan pesan bahwa ia akan menghilang. Sebab setelahnya, tidak akan ada pertemuan.


Konon, orang-orang itu sebenarnya tidak sedih karena perpisahan. Kehilangan lah yang membuat mereka bersedih. Sebab bertemu dan berpisah adalah satu kesatuan. Namun, perpisahan membawa rasa kehilangan. Sebab itu orang-orang bersedih.


Aku tidak suka perpisahan. Bagaimanapun caranya, perpisahan tetap saja membawa cerita duka. Perpisahan adalah simbol bahwa sesuatu itu menemui titik akhirnya. Ibarat sebuah cerita, perpisahan mengisyaratkan sebuah akhir dari perjalanan tokohnya. Biasanya dalam akhir si tokoh akan merasa bahagia. Namun, tak sedikit juga yang merana. Beberapa ada yang digantungkan nasibnya, lalu membiarkan pembaca bertanya-tanya. Pembaca yang baik akan berimajinasi, tentu saja sesuai keinginannya. Pembaca yang tak terlalu baik cuma akan mengumpat kecewa. Sial, padahal sudah dibuang banyak waktunya untuk mengetahui akhir dari ceritanya, tapi akhirnya digantung saja.


Berakhir tanpa kepastian, sedih, atau bahagia, sebuah akhir pasti membawa kerinduan akan cerita selanjutnya. Pun dengan perpisahan. Hanya rindu, tidak sampai sedih. Sebab setelahnya mungkin akan ada pertemuan, lagi.


***


Terakhir kali menemuimu di Jogjakarta. Saat itu, kita ada di sebuah tempat makan di seputaran Mrican. Hujannya baru saja turun. Mengenakan rok, aku berjinjit, berlari-lari kecil menghindari sisa-sisa hujan yang mulai menipis. Kamu mengatakan aku sok-sokan.


"Penyuka hujan yang tidak suka kehujanan," katamu.


Sepanjang obrolan siang itu, kita hanya membahas hujan. Kita nampaknya sama-sama merindukan hujan, dan kita sama-sama kesepian. Maka kita hadir satu sama lain untuk membunuh sepi, menertawakan hal-hal yang tidak perlu ditertawakan. Kita cuma ingin bersama. Kita hanya takut pada perpisahan, iya kan?


***


Pada pertemuan selanjutnya, kita hanya berpapasan secara kebetulan. Saling menyapa, mengulum senyum, lalu melambaikan tangan. Begitu berulang kali.


***


Tapi pada titik ini, katamu, kamu akan pergi dan menghilang. Kita berpisah tentu saja. Perpisahan yang tidak bisa disebut sebagai akhir sebuah perjalanan, sebab dimulai saja belum.


Kita cuma dua orang yang berjalan sendiri-sendiri. Lalu pada suatu titik, kita pernah dipertemukan. Hanya dipertemukan. Bukan untuk disatukan asal kamu tahu.


Sebabnya kita memang berbeda, dan pada titik ini aku menyadari akan suatu hal yang disebut kehilangan. Ya, perpisahan mungkin tidak menimbulkan kesedihan, seperti akhir dari sebuah cerita. Mungkin akan ada episode selanjutnya. Tapi perpisahan yang sesungguhnya membawa kita pada satu hal bernama kehilangan. Kehilangan lah yang menyebabkan kesedihan.

Wednesday, September 2, 2015

Senja di Bandung dan Jogjakarta


Ketika terbangun, aku merasa ada sesuatu dari dalam kepalaku yang baru saja dibongkar. Pelan-pelan. Sesuatu itu berputar. Memaksaku menyaksikan cuplikan-cuplikan kisah. Mengoyak ingatanku akan suatu hal di masa lalu. Sesuatu yang seharusnya sudah selesai bertahun silam. Sesuatu yang seharusnya tidak menghantuiku, bahkan sampai ke alam pikiran.

Aku menghela napas panjang. Mengapa potongan itu muncul kembali jadi bunga tidurku? Kukira, aku sudah lupa. Tapi ternyata, pikiranku belum mau lupa. Ada sesuatu dari bagian Id-ku yang menyimpan memori-memori itu. Ia seperti kenangan. Tak mampu menembus lapisan Ego, fragmen itu cukup datang lewat mimpi. Tapi sungguh mimpi yang menghantui. Mimpi yang tiba-tiba saja mengingatkanku akan sesuatu.

"Halo?"

***

Sebagai seorang yang sudah berumur 17 tahun, seharusnya aku mulai paham tidak semua orang itu jujur. Pembohong pasti ada dan berkeliaran di sekitarku. Hanya saja, aku tidak menyangka satu dari pembohong itu justru adalah orang yang sangat aku percayai. Yang padanya, aku mempercayakan banyak hal. Yang olehnya, aku diajari, bahwa orang baik tidak mungkin ingkar janji.

Hari sudah malam. Aku duduk di peron stasiun sendirian. Temanku memutuskan pulang, karena menunggu baginya adalah pekerjaan membosankan. Ah, iya, menunggu memang membosankan. Terlebih, menunggu dalam ketidakpastian.

Aku tak tahan melihat senja
Kututup daun pintu supaya tak tembus sinarnya
Saat paling baik adalah berada di kapal terbang 
yang menuju ke timur atau
sedang berada di kereta api sehingga
senja lekas terlewati.

Senja mengingatkan aku kepada perpisahan
yang diulur-ulur
dan kepada keraguan antara
kehadiran dan kemusnahan

Mengapa tidak sekaligus mati sehingga
orang tidak sempat meneteskan air mata
Aku terus menghindari senja
Senja yang membawa sedih selalu


Seharusnya senja tadi dia sudah muncul. Tapi hingga kereta terakhir datang, aku tak juga menjumpai batang hidungnya. Ia yang katanya orang baik dan menepati janji itu, kali ini ingkar. Bukan itu saja, setelah itu ia menghilang. Tanpa jejak. Seperti lenyap tertelan bumi. Sialnya aku masih menyimpan banyak sekali pertanyaan yang seharusnya ia jawab. Maka ia seperti banyak pemicu masalah-masalah pelik di sekelilingku; ketidaktuntasan. Atau bahkan tidak ada yang tidak tuntas? Sebab dimulai saja belum.

***

"Aku sekarang di Bandung loh. Padahal kamu to, yang menunggu kabar dari Bandung? Kenapa akhirnya malah ke Jogja? Jogja kan cerita lama.."

"Emm.. enggak tahu kenapa, aku masih selalu merasa yang aku cari ada di Jogja."

"Tapi nggak ada, kan? Kamu bisa mati penasaran loh."

"Kita lucu ya!"

"Kenapa?"

"Kamu menunggu kabar dari Jogja, tapi malah ke Bandung. Aku yang menunggu kabar dari Bandung, malah ke Jogja. Hahaha! Ayolah ke Jogja aja."

"Ada sesuatu yang dikangenin sih dari Jogja. Tapi ya gitu, keenggananku sama sepertimu yang enggan ke sini."

"Kita bicara kayak gini seolah Jogja-Bandung itu sejauh Jogja-Amsterdam! Hahahaha."

"Padahal kita cukup ke stasiun kereta dan memesan tiket ke sana."

"Atau sebenarnya ini cuma ambisi-ambisi kita yang tidak tuntas. Sementara, pikiran rasional kita menahan untuk melakukannya."

"Tapi kita perlu ketemu untuk sekadar jalan-jalan."

"Ayo, ke mana?"

"Semarang aja. Pulang."

Sunday, March 22, 2015

Sepotong Hati dalam Secangkir Dark Chocolate #3

Dari Bagas,

Akhirnya kami bertemu di McDonald's Malioboro. Tak pernah ada yang berubah darinya. Pakaian yang terlalu formal untuk acara jalan-jalan, sebuah Jansport berwarna pink terang, dan Waiki bergambar cherry kesayangannya. Ia duduk di hadapanku menikmati es krimnya seperti anak berusia lima tahun.

Sedang aku? Sejak pertama menatapnya aku cuma diam. Aku terlalu kaget dengan bunyi SMS, "Aku di Jogja. Temui aku di Malioboro sebelum pukul 7."

Aku membuka pesannya pukul 17.45 sepulangku dari kantor. Tanpa berpikir panjang aku langsung menuju Malioboro. Feelingku kuat mengatakan ia di McDonald's. Benar. Ia di pojokan. Sedang asyik dengan kentang goreng, McFlurry, dan segelas McFloat. Aku cuma menyapanya "Hai" lalu setelahnya lebih banyak diam --membiarkan ia mengoceh apapun.

Pukul 7 tepat. Ia berdiri dan merapikan tasnya.

"Kamu mau ke mana?" sergahku.

"Balik."

"Ke?"

"Jakarta.." jawabnya singkat. "Thanks ya sudah ditemani makan es krim. Bye!" Ia bangkit meninggalkanku yang masih tak habis pikir dengan tingkahnya.

Aku masih tak beranjak dari tempat dudukku. Kepalaku mulai pening dan aku cuma bisa menertawakan diriku sendiri.

Aku sudah melihatnya keluar dari McDonald's.

***

"Kalau untuk pergi lagi buat apa datang?" Aku bicara setengah berteriak. Wajahku kuyu. Kemejaku berantakan. Dan aku berjalan gontai mengekornya yang terlihat begitu tak acuh terhadapku.

Ia tak merespons. Diteruskannya langkahnya sampai ke Stasiun Tugu. Dan.. ya, aku masih mengekornya, hingga ke peron.

"Adnin.." ujarku lirih. Ia menghentikan langkahnya, duduk di bangku peron.

"Kamu kenapa?" tanyanya.

"Kamu nanya kenapa, Nin?" Aku menggeleng tak percaya. "Setahun kamu ilang nggak ada kabar sama sekali, nggak pernah merespons pesan-pesanku. Lalu hari ini kamu datang, ingin ditemui.. tapi... tapi bahkan kita nggak ada satu jam duduk bersama!" kataku setengah berteriak.

"Aku mengirim pesan itu pukul 3 sore. Siapa suruh kamu datang pukul 6. Hmm lain kali kamu harus lebih menghargai waktu.." ujarnya. Datar dan tanpa rasa bersalah.

Email dari Bagas kuterima. Aku membacanya berkali-kali. Sudah sejak semester 3 kuliah ia bilang akan menulis novel. Dan ia selalu bilang aku adalah temannya yang istimewa karena diperbolehkan untuk membacanya setiap kali ia selesai menulis.

Awalnya aku bersemangat. Pikirku, bangga juga jika kawan karibku adalah seorang penulis. Syukur jika populer. Tapi mengingat sampai hari ini ia belum juga menyelesaikan tulisannya, aku jadi putus asa.

"Bro, sepertinya kau harus mulai bertingkah lebih rasional," ujarku di telepon.

"Maksudmu?" Dari suatu tempat Bagas menjawab.

"Kalau memang tujuan kau ini menulis hanya untuk curhat, janganlah kau banyak mimpi. Pusing kepala aku ini baca potongan-potongan ceritamu yang tak kunjung selesai."

"Ah, Bang, kau pahami kondisiku lah.."

"Kau yang harus pahan kondisi kau sendiri terlebih dahulu. Ah, sudah sudah! Aku masih banyak kerjaan ini.."

"Oke." Ia menutup telpon.

***
(mungkin bersambung)