Jan 19, 2019

Jakarta Dini Hari Tadi

Langitnya masih gelap. Jakarta yang pekat tidak pernah ramah pada tubuh dan mental yang kelelahan. Rasa-rasanya, setiap orang memiliki kesempatan untuk mengutuki Jakartanya yang bising setiap hari, setiap saat, setiap kali rindunya dipancang jarak dengan segala ketidakmungkinan yang timbul-tenggelam pada hati masing-masing; pada yang sedang jatuh cinta, paling sering yang patah hati.

Jakarta mestinya mengajarinya tentang bagaimana bersikap tak acuh pada apapun, termasuk pada perasaan yang coba dibunuhnya pelan-pelan.

Pukul empat pagi.

Tidak ada yang bisa diajak berbincang.



Jakarta lelap di antara tukang-tukang sayur yang berangkat ke pasar atau kuli-kuli di pelabuhan. Di apartemennya yang sunyi, seseorang terpekur. Diam dan dihantui oleh pikiran-pikirannya sendiri.

Dari jendela kau lihat bintang-bintang sudah lama tanggal.
Lampu-lampu kota bagai kalimat selamat tinggal.
Kau rasakan seseorang di kejauhan menggeliat dalam dirimu.
Kau berdoa: semoga kesedihan memperlakukan matanya dengan baik.

Sebab padanya, kesedihan sangat kejam bersekongkol dengan tumpukan pekerjaan yang tidak mau menunggu esok hari. Kantong matanya semakin menghitam. Tubuh depresi cuma butuh tidur dan lalu lupa pada kesepiannya sendiri.

Kadang-kadang kau pikir akan lebih mudah mencintai semua orang,
daripada melupakan satu orang.

Dalam hidupnya, mungkin cinta cuma bisa disematkan pada sebuah perasaan agung yang dimiliki pada seorang yang mengubah seluruh jalan hidupnya. Perasaan yang disimpannya bertahun-tahun, perasaan yang dengan sabar ia pelihara; hanya karena ia terlalu agung untuk diobral pada sembarang orang.

Ia jauh namun dekat. Ada, namun terus dicari dalam ketidakyakinannya pada apapun.

Jika ada seseorang yang terlanjur menyentuh isi jantungmu,
mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan.
Dirimu tidak pernah utuh.
Sementara kesunyian adalah buah yang menolak dikupas.
Jika kaucoba melepas kulitnya,
hanya akan kau temukan kesunyian yang lebih besar.

Jakarta yang pengap mengubur ingatannya. Ia pernah tahu bagaimana rasanya; sekali saja. Setelah itu sudah.

*fiksi ini terinspirasi dari puisi M. Aan Mansyur berjudul Pukul 4 Pagi


Jan 5, 2019

365 Halaman Tentang Sabar

Ibarat sebuah buku, 2019 adalah sekuel dari sebuah roman panjang yang belum tuntas di 2018. Dalam sekuel itu, ada banyak cerita baru yang mungkin tidak ditemukan di 2018. Namun, bisa jadi hal tersebut juga sebagai implikasi dari hal-hal yang telah terjadi sebelumnya.

Ah ya. Aku tidak tahu mengapa, tapi kupikir 2018 menyisakan banyak sekali borok dan luka-luka yang menunggu untuk sembuh.


Masih dengan orang-orang yang sama, kupikir 2019 adalah waktu di mana masa krisis usia 20anku harusnya mulai selesai. Aku akan 24 tahun di tahun ini, which means aku beberapa tingkat lebih dewasa dari yang selama ini kupikir --hmm, aku selalu mikir aku masih 17 tahun.

Di 2019, aku tidak berharap banyak selain perasaan sabar untuk tetap berjuang pada apapun yang masih bisa diperjuangkan.

Tapi sabar itu tidaklah pasif.
Sabar bukan berarti membiarkan apapun menyapu bersih wajahmu sebagai bagian dari "takdir" yang digariskan akan kita semua terima sebagai manusia. Tapi sabar semestinya lebih dari itu.

Sabar adalah berhenti mengeluh. Sabar adalah usaha untuk tetap mampu mengontrol tindakan dan ucapan atas semua hal yang membuatmu babak belur.

Ada 365 halaman buku tentang sabar dan ini baru terbaca secuil tentang pembukaan. Hari masih panjang. Perjalanannya masih sangat jauh.


Dec 31, 2018

Proposal di Tahun 2018

Ini menjadi tahun baru kedua di Jakarta. Yang pertama dua tahun lalu, di Tebet, diiringi ceramah dari masjid di sekitar rumah tentang bahaya meniru orang kafir dengan ikut-ikutan meniup terompet dan sebuah tekad kuat untuk lulus kuliah.

Setahun setelahnya aku sungguhan lulus. Masih mengerjakan revisi, tapi setidaknya aku beneran lulus. Aku di Jogja. Lupa apa yang kukerjakan, tapi seingatku aku memang tidak begitu menikmati tahun baru semenjak perayaan menyambut kedatangan Bakuh ke Jogja berbuntut petasan yang mengenai pelipisku. Sejak saat itu aku tidak pernah merayakan tahun baru dengan semarak. Seperlunya aja.


Tahun ini aku tidak menyangka aku memutuskan tinggal di tempat yang kukutuk selama bertahun-tahun hidupku. Mungkin untuk beberapa tahun ke depan hidupku akan di sini; pekerjaanku, masa depan karierku, tinggal itu yang berharga. Di rumah ada keluarga yang paling tidak setahun sekali kukunjungi ketika lebaran dan sebulan sekali mulai 2019, besar kemungkinan aku akan bolak-balik Jakarta-Jogja.

Aku mungkin akan rindu Jogja seperti tahun-tahun di Semarang. Lalu sekelebat pernyataan Mbak Nina tentang Jogja terngiang di kepalaku. Katanya, "Jogja itu cocoknya buat liburan aja. Buat dikangen-kangenin kayak gini. Kalau udah tinggal di sini ya biasa aja."

Aku hampir membenarkan kata-kata Nina, tapi kemudian aku ingat bahwa empat tahunku yang berharga di Jogja ternyata lebih dari sekadar rutinitas kuliah dan menghabiskan hidup sehari-hari. Jogja ternyata seberharga itu, baik ketika ditinggal maupun ditinggali. Karenanya meski akhirnya aku memutuskan tinggal di Jakarta setelah lulus, aku masih punya keinginan suatu hari nanti kembali saja ke Jogja. Pas udah lelah dan mau hidup lebih selo.

***

Tahun 2018 tidak menyisakan banyak kenangan yang membekas selain karena akhirnya aku wisuda. Aku hampir tidak punya cerita pertemanan yang mengesankan karena seingatku ini adalah waktu di mana aku sungguh merasa tidak punya teman di sekitarku.

Maka hari-hari di 2018 lebih banyak tentang beban pekerjaan yang segimanapun aku mencoba santai dan menikmati, ternyata mengurangi berat badanku cukup drastis. I got my 40's weight after years. Tidak pernah sadar sampai satu per satu orang mulai mengomentari aku terlalu kurus dan melihat potret diriku sendiri satu atau dua tahun lalu.

But I am okay as long as aku nggak jatuh sakit. Bagian paling tidak menyenangkan dari hidup seorang diri adalah ketika sedang sakit. Dan karenanya aku tidak suka sakit. Saking aku parno dengan semua bentuk sakit, aku sering mengalami kejadian berlebihan seperti misalnya periksa ke dokter penyakit dalam karena keracunan makanan.

I spent a lot of money for this, tapi paling tidak, perkara sakit-sakit ini harus kuatasi untuk meyakinkan diri sendiri that I don't need someone else to live in Jakarta. Life is tough. Dan beginilah kupikir sikapku. Paling tidak sampai aku menuliskan catatan ini.

***

Selama 23 tahun hidup, aku merasa aku tidak pernah memikirkan orang lain. Aku tidak peduli apa kata mereka, aku tidak pernah punya rasa kasihan atau empati --ini menghancurkan masa depanku sebagai psikolog pada awalnya, dan aku mungkin terlalu egois karena selalu memusatkan dunia ini cuma atas perspektifku.

Pada mulanya adalah keinginan untuk belajar berkompromi dengan orang lain. Berbulan-bulan. Mungkin bertahun-tahun. Namun, paling tidak sampai aku menulis catatan ini, aku merasa kami masih jauh api dari panggang. Jauh dari kata saling berkompromi.

Some people told me, that's because of too much differences between us. Hal-hal yang bertolak-belakang, saling tidak diterima, dan beberapa hal yang tidak dapat ditoleransi. Tapi, bukankah begitu halnya orang berkompromi? Sebab jika semuanya sudah sama, tidak ada gunanya berkompromi?

Hal lain yang mengganggu adalah karena rasa percaya itu ibarat sebuah cermin kaca. Sekali ia dihancurkan, maka sekuat apapun diperbaiki, tetap akan cacat. Dan aku kehilangan banyak kepercayaanku pada orang yang berkali-kali merusak keyakinanku akan sesuatu. Mungkin pada sebuah prinsip, mungkin pada janji yang dibuatnya sendiri, mungkin juga pada rasa welas asih dan kebaikhatian, pada sabar yang makin lama makin tidak ada artinya.

Lalu pada sebuah titik, aku mempertanyakan, "Apakah alasan terbesar orang pergi karena ia punya alasan untuk pergi, atau cukup karena ia tidak punya alasan untuk tetap di sini?"

Ternyata aku tidak ke mana-mana. Tidak beranjak pergi tapi juga tidak memutuskan untuk pulang.

***

Di antara banyak hal yang kukutuk sepanjang tahun aku hidup di Jakarta, nyatanya aku masih bersyukur memiliki beberapa hal lain yang luar biasa. Ingat tentang daftar cita-cita untuk menjadi manager sebelum usia 25 tahun, menjadi PR di perusahaan, menjadi penulis, dsb?

I got all of those above. Literally. And I should be very very grateful for them.

Aku bahkan tidak tahu apa lagi yang mesti aku sedihkan dalam 23 tahun hidupku yang ternyata luar biasa ini selain pada sebuah kompensasi bahwa ini menjauhkanku dari seseorang yang ideal untuk memiliki relasi personal yang manis.

Tuhan adil meski adil tidak selalu artinya sama. "Kamu cuma kurang bersyukur," kata beberapa orang yang akhirnya selalu kubalas dengan senyum getir kayak karet yang direnggangin susah payah.

***

"Lulus udah. Kerja okelah."
"Karier tertata rapi. Aman."
"Masak bisa, tinggal dijalanin. Kurang apa nih?"
"Nikah!"
"Hahahaha!"

Di tengah gempuran gerakan Indonesia Tanpa Pacaran, semua orang seusiaku berseloroh ihwal pernikahan yang sebenarnya kami semua takuti.

Orang tidak akan pernah bisa yakin untuk menikah selama ia masih berpikir dunia harus memahaminya sebab ia begini, begitu, dan seterusnya. Orang tidak akan pernah bisa yakin untuk menikah selama satu-satunya alasan untuk menikah hanya karena menginginkan "pasangan" untuk dirinya sendiri, sementara ia tidak berpikir bahwa orang yang menjadi pasangannya juga menginginkan "pasangan" untuk dirinya sendiri juga.

Dua orang egois tidak akan menikah. Dan tidak seharusnya pula menikah.

Sebab ketika dua orang menikah, akan ada orang ketiga, keempat, dan seterusnya, yang tidak pernah meminta untuk lahir di dunia yang bodoh ini. Apalagi dilahirkan dari dua orang bodoh yang masih berpikir urusan perutnya masing-masing, yang masih tidak rela berbagi makanannya, uangnya, tempat tidurnya. Apalagi berbagi hidup? Membagi hal yang masih bisa dicari saja susah dan harus melalui perdebatan yang panjang untuk mengukur untung ruginya.

It will not work. Hence, I still have no idea of marriage. We don't have any idea of marriage.

***

Ketika aku berumur 18 tahun, yang kupikirkan tentang hari ini adalah studi master di bidang humaniora atau psikologi gender.. dengan suami yang mas-mas enjiner.

Damn.

Aku nggak ngerti kenapa waktu itu pikiranku sesederhana itu. It was like, hidupku semuanya baik-baik saja sampai aku masuk usia 20an dan banyak hal mau tidak mau berubah dari rencana. Aku tidak jadi studi, aku tidak jadi menikah muda, dan orang yang selalu kupikirkan sebagai jodohku, ternyata bukan.

Aku seperti orang yang memegang peta tapi tersesat di hutan belantara penuh rawa-rawa. But yeah, I still survive. Dan kemudian, sampai usiaku segini, aku baru nyadar ini bagian dari semesta yang berkonspirasi. Tidak ada suatu kejadian yang tidak direncanakan. Kalo tidak olehku, paling tidak oleh-Nya.

Ibaratnya, semua hal yang kupikirkan, kuhitung masak-masak, dan kulakukan dengan hati-hati dan penuh pertimbangan adalah segepok proposal untuk hidup yang aku juga tidak tahu kapan akhirnya. Dan seperti halnya proposal; beberapa ditolak, beberapa diterima tanpa revisi, beberapa diterima setelah direvisi berkali-kali.

Akhirnya aku harus bilang terima kasih atas semua perjalanan panjang dan menyenangkan. Jakarta akan menyenangkan, tergantung dari perspektif mana kita melihatnya. Bagiku akhirnya di Jakarta tidak ada lagi hal yang patut kupertanyakan sebab semuanya sudah cukup. Keluarga yang baik, teman-teman yang menyenangkan, pekerjaan yang menjanjikan dengan keyakinan di atas rata-rata, dan semuanya.

It was great of 2018 and I am so thankful.

Terima kasih. Terima kasih.



Nov 8, 2018

Melengkapi Fragmen Jakarta

Aku merangkum kembali seluruh ingatanku tentang mengapa aku mau ke tempat ini.

Dalam benakku Jakarta adalah segala hal yang kita butuhkan untuk lupa. Pernah suatu hari aku sakit hati sebegitunya dan Jakarta adalah tempat sempurna untuk pergi, menenggelamkan diri dalam rutinitas padat dan menuntut berpikir ekstra. Aku lalu lupa.

Di satu sisi Jakarta menawarkan hiburan yang meriah; konser murah, jam session gratisan, sampai pameran-pameran seni — dan semuanya bisa kamu nikmati seorang diri. Kamu mungkin tidak butuh orang lain untuk sekadar menikmati kelas-kelas di Bentara Budaya atau menonton konser di TIM.


Ini tahun pertamaku kembali lagi ke tempat ini. Dua tahun lalu ketika aku di sini emosiku melekat pada orang-orang yang kutemui; beberapa dari mereka mempengaruhi perspektifku hingga kini. Aku belajar banyak hal yang kini satu per satu ingin kuulangi.

Seingatku pertama kali aku bekerja secara profesional tahun 2014 dan waktu itu aku masih kuliah. Jadi aku ingat setiap pulang kampus aku ke kantor, menenteng laptop yang segede melon, begitu setiap hari bahkan di akhir pekan.

Karena aku tinggal di Concat, maka sudah pasti aku melewati derita dunia lampu merah Gejayan yang aduhay. Beberapa waktu kemudian aku menemukan sebuah kedai kopi di dekat kantor tempatku akhirnya banyak membaca buku-buku Ayu Utami dan beberapa penulis kenamaan lainnya. Maka aku memutuskan menghabiskan waktu senja di sana, menunggu Maghrib terlewat, bahkan sampai malam, hanya untuk bisa motoran dengan tenang.

Yes. Motoran sendiri. Sebelumnya ketika aktif di persma aku bahkan pulang melewati ringroad utara yang konon banyak klitih-nya seorang diri pukul satu dini hari. Saking seringnya aku pulang pukul satu ini, aku sampai punya sebuah prosa tentang sepasang roh yang berjalan-jalan pukul satu dini hari.

Setelahnya aku tidur dan besoknya kuliah setengah delapan pagi. Begitu setidaknya aku menghabiskan sepanjang tahun perkuliahan hingga awal 2016 aku memutuskan untuk resign untuk fokus KKN, skripsi — dan membuat startup wkwk.

“Aku mau seproduktif dulu sih, tapi dengan vibes Jakarta. Kayaknya asik deh. Soalnya di sini orang gerak serba cepat,” ujarku pada seorang kolega di kantor.
Maka dimulailah rutinitas ke kantor sebelum pukul sembilan.

Aku tetap pulang malam seperti biasa. Tapi paling tidak sekarang tidak pernah dugem atau pulang pagi — sudah setahun ini sepertinya, aku menghindari tempat-tempat beralkohol, dan juga teman-teman perokok.

Satu langkah progresif karena beberapa hari ini aku konsisten dengan tidak tidur pagi.

***

Apa yang membuat seseorang berubah?

Aku tidak tahu. Di pikiranku aku pernah melihat versi lebih baik dari diriku sendiri. Kini aku 20an tahun dan aku mungkin hampir punya segala hal yang menjadi standar apa saja yang harus dimiliki orang seumuranku; aku lulus dari kampus ternama, punya pekerjaan bagus, mandiri secara finansial, karierku progresif dan prospektif dalam beberapa tahun ke depan, teman-temanku baik, keluargaku menyenangkan, dan aku masih bisa ngereceh di Twitter — ini anugerah terbesar dalam hidup.

Satu-satunya yang kupikirkan memburuk adalah belakangan aku merasa aku terlepas dari otoritas akan diriku sendiri. Mungkin akhirnya aku menyadari aku terlalu bergantung pada orang lain.

“Nggak seindependen dulu,” komentar teman yang kukenal sejak SMA.

Akupun mulai berpikir hari-hari di mana aku hanya fokus pada belajar dan bekerja tanpa banyak drama yang bikin ambyarr semuanya.

“I have seen you better. Kamu orang yang di kafe sendirian, berjam-jam dengan laptop sama buku, ke mall sendirian, belanja sendirian, kamu blogger receh yang produktif, dan kamu sangat easy going,” katanya.

Ia meneruskan, “Kamu bahkan dicari temenmu pukul satu pagi untuk diajak ke burjo karena dia galau, dan kamu mau! You’re such a good friend! Di tengah vibes Jogja yang serba selo kamu bisa gerak cepet, temenmu cuma kuliah kamu udah milih kerja, temenmu di level LM kamu udah melenggang ke FORMAD. What does happen with you?”

“Hmm nggak tahu.”

***

Di benakku soal Jakarta kemarin-kemarin adalah sebuah upaya untuk lupa, sebuah tempat sempurna untuk hilang ingatan. Namun belakangan aku mulai membuka-buka kembali ingatan tentang mengapa sejak dulu kupikir tempat ini ideal untuk mendidikku ketika aku sudah cukup dewasa — membentukku dalam sebuah pribadi yang utuh.

Jakarta bergerak serba cebat dengan logikanya sendiri. Ia hampir tidak menyisakan ruang untuk semua rasa baper dan hal-hal yang tidak logis atasnya. Aku ingat tentang lelucon lebih baik tinggal di bekas kuburan tapi murah karena di Jakarta lebih serem nggak punya uang daripada ketemu setan.

“Di sini tuh kalau kamu cuma mau cari uang, asalkan kamu mau kerja, kamu akan punya uang — sesederhana itu. Dan kamu, kamu punya privilege untuk lebih dari sekadar punya uang dan kerja, kamu bisa mikir, otakmu encer. Yang penting jangan males!” — Kak Bachtiar dalam sesi habis Maghrib di kantor.
Terlepas dari banyaknya pandangan negatif yang kudengar soal mantan bossku itu — eh, ada banyak sekali hal yang ia katakan sangat relevan untukku pada akhirnya. Jangan males. Jakarta tidak punya ruang untuk orang males. Itu salah satu yang ternyata menarikku ke sini lagi.

Kedua — masih yang ia katakan dalam sesi habis Maghrib — adalah selalu berpikir logis pada apapun yang kita lakukan. Jakartan menerapkan itu dan sesederhana itu sebenarnya untuk menjalani segala hal lebih mudah di sini.

“Kamu di rapat dimaki-maki karena kerjaanmu buruk tapi habis itu makan siang bareng, dan ya udah, profesional kok.”

***

Gerak serba cepat, logis, dan selalu mengedepankan profesionalitas tanpa baper yang berlebih mungkin pada akhirnya menjadi alasan terbesar mengapa dulu aku mau ke sini. Pikirku akhirnya hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang untuk bertahan dari segala apapun yang tidak menyenangkan.

Aku hampir punya semua hal yang menyenangkan — bagaimanapun harus disyukuri. Dan menurutku bentuk rasa syukur paling nyata adalah berupaya sebisa-bisanya, sebaik-baiknya untuk tetap menjadi versi terbaik dari diri-sendiri.

Bagiku akhirnya cara melengkapi fragmen Jakarta ini bukan dengan mengutuk kotanya yang kejam atau lalu-lintasnya yang buruk. Tempat ini mendidik orang untuk jadi setangguh mungkin mencapai versi terbaiknya tanpa harus bergantung pada orang lainnya. Kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri, atas kebahagiaan, atas semua masalah — yang harus diperjuangkan. Segala hal diperhitungan logis dan tidak banyak baper yang menguras emosi.

I do my thing and you do your thing. I am not in this world to live up to your expectations, and you are not in this world to live up to mine. You are you, and I am I, and if by chance we find each other, it’s beautiful. If not, it can’t be helped. — Gestalt prayer.

Oct 14, 2018

Bermuara

Di benakku, pertanyaan masih selalu sama tentang bagaimana air menemukan muaranya atau bagaimana seorang pengelana memutuskan untuk berhenti dari perjalanan panjangnya.

Di benakku, pertanyaan masih selalu sama tentang bagaimana sebuah akhir akan dipilih atau tentang bagaimana kita memilih untuk mengakhiri sebuah cerita. Entah untuk selesai, atau berlanjut ke babak selanjutnya. Seperti air sungai yang menjadi asin di lautan atau tentang babak kedua dari cerita dengan alur yang bukan kita pemiliknya.



Ketika Khalifa bertemu dengan Laila, ia menjadi heran.

Katanya, "Qays menjadi Majnun karena kamu. Sungguh tidak masuk akal. Apa yang dia lihat darimu hingga dia tergila-gila. Kamu bukanlah wanita yang sangat cantik. Banyak wanita yang sama cantik bahkan lebih cantik darimu."

Layla menjawab, "Apa yang dilihat Majnun tidak bisa dilihat olehmu, karena kamu bukan Majnun."

Rasa.

Tentu saja Khalifah tidak akan paham sebab rasa itu hanya diciptakan bagi yang mencinta dan yang dicintai. Selebihnya tidak akan sama sepanjanglebar apapun orang mencoba memberikan pemahamannya.


Tapi, sayangku.. cerita ini milik kita kan?

Kau dan aku duduk berdua. Kita diam saja dan tidak tahu mau apa. Tapi kita duduk saja, berdua. Meresapi setiap sajak yang pernah ditulis Sapardi dalam puisi-puisinya.


Kita berdua saja, duduk.Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput. Kau entah memesan apa. Tapi kita berdua saja, duduk.
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga. Sampai suatu hari kita lupa untuk apa. "Tapi yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu. Kita abadi.