Nov 8, 2018

Melengkapi Fragmen Jakarta

Aku merangkum kembali seluruh ingatanku tentang mengapa aku mau ke tempat ini.

Dalam benakku Jakarta adalah segala hal yang kita butuhkan untuk lupa. Pernah suatu hari aku sakit hati sebegitunya dan Jakarta adalah tempat sempurna untuk pergi, menenggelamkan diri dalam rutinitas padat dan menuntut berpikir ekstra. Aku lalu lupa.

Di satu sisi Jakarta menawarkan hiburan yang meriah; konser murah, jam session gratisan, sampai pameran-pameran seni — dan semuanya bisa kamu nikmati seorang diri. Kamu mungkin tidak butuh orang lain untuk sekadar menikmati kelas-kelas di Bentara Budaya atau menonton konser di TIM.


Ini tahun pertamaku kembali lagi ke tempat ini. Dua tahun lalu ketika aku di sini emosiku melekat pada orang-orang yang kutemui; beberapa dari mereka mempengaruhi perspektifku hingga kini. Aku belajar banyak hal yang kini satu per satu ingin kuulangi.

Seingatku pertama kali aku bekerja secara profesional tahun 2014 dan waktu itu aku masih kuliah. Jadi aku ingat setiap pulang kampus aku ke kantor, menenteng laptop yang segede melon, begitu setiap hari bahkan di akhir pekan.

Karena aku tinggal di Concat, maka sudah pasti aku melewati derita dunia lampu merah Gejayan yang aduhay. Beberapa waktu kemudian aku menemukan sebuah kedai kopi di dekat kantor tempatku akhirnya banyak membaca buku-buku Ayu Utami dan beberapa penulis kenamaan lainnya. Maka aku memutuskan menghabiskan waktu senja di sana, menunggu Maghrib terlewat, bahkan sampai malam, hanya untuk bisa motoran dengan tenang.

Yes. Motoran sendiri. Sebelumnya ketika aktif di persma aku bahkan pulang melewati ringroad utara yang konon banyak klitih-nya seorang diri pukul satu dini hari. Saking seringnya aku pulang pukul satu ini, aku sampai punya sebuah prosa tentang sepasang roh yang berjalan-jalan pukul satu dini hari.

Setelahnya aku tidur dan besoknya kuliah setengah delapan pagi. Begitu setidaknya aku menghabiskan sepanjang tahun perkuliahan hingga awal 2016 aku memutuskan untuk resign untuk fokus KKN, skripsi — dan membuat startup wkwk.

“Aku mau seproduktif dulu sih, tapi dengan vibes Jakarta. Kayaknya asik deh. Soalnya di sini orang gerak serba cepat,” ujarku pada seorang kolega di kantor.
Maka dimulailah rutinitas ke kantor sebelum pukul sembilan.

Aku tetap pulang malam seperti biasa. Tapi paling tidak sekarang tidak pernah dugem atau pulang pagi — sudah setahun ini sepertinya, aku menghindari tempat-tempat beralkohol, dan juga teman-teman perokok.

Satu langkah progresif karena beberapa hari ini aku konsisten dengan tidak tidur pagi.

***

Apa yang membuat seseorang berubah?

Aku tidak tahu. Di pikiranku aku pernah melihat versi lebih baik dari diriku sendiri. Kini aku 20an tahun dan aku mungkin hampir punya segala hal yang menjadi standar apa saja yang harus dimiliki orang seumuranku; aku lulus dari kampus ternama, punya pekerjaan bagus, mandiri secara finansial, karierku progresif dan prospektif dalam beberapa tahun ke depan, teman-temanku baik, keluargaku menyenangkan, dan aku masih bisa ngereceh di Twitter — ini anugerah terbesar dalam hidup.

Satu-satunya yang kupikirkan memburuk adalah belakangan aku merasa aku terlepas dari otoritas akan diriku sendiri. Mungkin akhirnya aku menyadari aku terlalu bergantung pada orang lain.

“Nggak seindependen dulu,” komentar teman yang kukenal sejak SMA.

Akupun mulai berpikir hari-hari di mana aku hanya fokus pada belajar dan bekerja tanpa banyak drama yang bikin ambyarr semuanya.

“I have seen you better. Kamu orang yang di kafe sendirian, berjam-jam dengan laptop sama buku, ke mall sendirian, belanja sendirian, kamu blogger receh yang produktif, dan kamu sangat easy going,” katanya.

Ia meneruskan, “Kamu bahkan dicari temenmu pukul satu pagi untuk diajak ke burjo karena dia galau, dan kamu mau! You’re such a good friend! Di tengah vibes Jogja yang serba selo kamu bisa gerak cepet, temenmu cuma kuliah kamu udah milih kerja, temenmu di level LM kamu udah melenggang ke FORMAD. What does happen with you?”

“Hmm nggak tahu.”

***

Di benakku soal Jakarta kemarin-kemarin adalah sebuah upaya untuk lupa, sebuah tempat sempurna untuk hilang ingatan. Namun belakangan aku mulai membuka-buka kembali ingatan tentang mengapa sejak dulu kupikir tempat ini ideal untuk mendidikku ketika aku sudah cukup dewasa — membentukku dalam sebuah pribadi yang utuh.

Jakarta bergerak serba cebat dengan logikanya sendiri. Ia hampir tidak menyisakan ruang untuk semua rasa baper dan hal-hal yang tidak logis atasnya. Aku ingat tentang lelucon lebih baik tinggal di bekas kuburan tapi murah karena di Jakarta lebih serem nggak punya uang daripada ketemu setan.

“Di sini tuh kalau kamu cuma mau cari uang, asalkan kamu mau kerja, kamu akan punya uang — sesederhana itu. Dan kamu, kamu punya privilege untuk lebih dari sekadar punya uang dan kerja, kamu bisa mikir, otakmu encer. Yang penting jangan males!” — Kak Bachtiar dalam sesi habis Maghrib di kantor.
Terlepas dari banyaknya pandangan negatif yang kudengar soal mantan bossku itu — eh, ada banyak sekali hal yang ia katakan sangat relevan untukku pada akhirnya. Jangan males. Jakarta tidak punya ruang untuk orang males. Itu salah satu yang ternyata menarikku ke sini lagi.

Kedua — masih yang ia katakan dalam sesi habis Maghrib — adalah selalu berpikir logis pada apapun yang kita lakukan. Jakartan menerapkan itu dan sesederhana itu sebenarnya untuk menjalani segala hal lebih mudah di sini.

“Kamu di rapat dimaki-maki karena kerjaanmu buruk tapi habis itu makan siang bareng, dan ya udah, profesional kok.”

***

Gerak serba cepat, logis, dan selalu mengedepankan profesionalitas tanpa baper yang berlebih mungkin pada akhirnya menjadi alasan terbesar mengapa dulu aku mau ke sini. Pikirku akhirnya hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang untuk bertahan dari segala apapun yang tidak menyenangkan.

Aku hampir punya semua hal yang menyenangkan — bagaimanapun harus disyukuri. Dan menurutku bentuk rasa syukur paling nyata adalah berupaya sebisa-bisanya, sebaik-baiknya untuk tetap menjadi versi terbaik dari diri-sendiri.

Bagiku akhirnya cara melengkapi fragmen Jakarta ini bukan dengan mengutuk kotanya yang kejam atau lalu-lintasnya yang buruk. Tempat ini mendidik orang untuk jadi setangguh mungkin mencapai versi terbaiknya tanpa harus bergantung pada orang lainnya. Kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri, atas kebahagiaan, atas semua masalah — yang harus diperjuangkan. Segala hal diperhitungan logis dan tidak banyak baper yang menguras emosi.

I do my thing and you do your thing. I am not in this world to live up to your expectations, and you are not in this world to live up to mine. You are you, and I am I, and if by chance we find each other, it’s beautiful. If not, it can’t be helped. — Gestalt prayer.

Oct 14, 2018

Bermuara

Di benakku, pertanyaan masih selalu sama tentang bagaimana air menemukan muaranya atau bagaimana seorang pengelana memutuskan untuk berhenti dari perjalanan panjangnya.

Di benakku, pertanyaan masih selalu sama tentang bagaimana sebuah akhir akan dipilih atau tentang bagaimana kita memilih untuk mengakhiri sebuah cerita. Entah untuk selesai, atau berlanjut ke babak selanjutnya. Seperti air sungai yang menjadi asin di lautan atau tentang babak kedua dari cerita dengan alur yang bukan kita pemiliknya.



Ketika Khalifa bertemu dengan Laila, ia menjadi heran.

Katanya, "Qays menjadi Majnun karena kamu. Sungguh tidak masuk akal. Apa yang dia lihat darimu hingga dia tergila-gila. Kamu bukanlah wanita yang sangat cantik. Banyak wanita yang sama cantik bahkan lebih cantik darimu."

Layla menjawab, "Apa yang dilihat Majnun tidak bisa dilihat olehmu, karena kamu bukan Majnun."

Rasa.

Tentu saja Khalifah tidak akan paham sebab rasa itu hanya diciptakan bagi yang mencinta dan yang dicintai. Selebihnya tidak akan sama sepanjanglebar apapun orang mencoba memberikan pemahamannya.


Tapi, sayangku.. cerita ini milik kita kan?

Kau dan aku duduk berdua. Kita diam saja dan tidak tahu mau apa. Tapi kita duduk saja, berdua. Meresapi setiap sajak yang pernah ditulis Sapardi dalam puisi-puisinya.


Kita berdua saja, duduk.Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput. Kau entah memesan apa. Tapi kita berdua saja, duduk.
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga. Sampai suatu hari kita lupa untuk apa. "Tapi yang fana adalah waktu, bukan?" tanyamu. Kita abadi.


Oct 11, 2018

Rehat

Ada sebuah fakta penuh paradoks di kalangan mahasiswa psikologi, yakni sebenarnya para mahasiswa psikologi sesungguhnya adalah orang yang sedang struggling dengan berbagai permasalahan dalam dirinya sendiri. Mungkin kalau mau dibuat riset beneran, para mahasiswa psikologilah yang mengalami paling banyak permasalahan yang pelik, sampai-sampai mereka merasa memerlukan 'ilmu' untuk memahami dirinya sendiri dan berjuang untuk menyelesaikannya. Yaaa paling tidak untuk mengatasi permasalahannya sendiri, dia sanggup gitu lah.

Aku mungkin juga demikian.

jangan takut, kamu tidak sendiri

Dalam semua hal yang selalu diupayakan menyenangkan, atau dilihat orang lain sebagai sesuatu yang menyenangkan, aku selalu percaya bahwa setiap orang memiliki permasalahan dengan kesehatan mentalnya masing-masing.

Ketika mempelajari psychological well-being, aku akhirnya paham bahwa krisis adalah sesuatu yang sifatnya lifetime. Artinya, sepanjang hidup manusia, sesungguhnya kita hanya sedang berupaya untuk bertahan hidup, melewati satu demi satu fase dalam perjalanan hidup berikut semua permasalahannya.

Ketika masih janin, seseorang berjuang untuk mengeluarkan diri di muka bumi. Ia merasakan sakit ketika katup paru-parunya yang selama ini nyaman tertutup dan hidup dalam cairan ketuban tiba-tiba tersentak udara bumi yang jahat. Berbulan kemudian seorang bayi berjuang melawan segala panas-demam-pusing tumbuh gigi. Ia lalu berusaha berjalan, berlari, mengeja, berhitung, menulis, dan hal-hal lain untuk memenuhi ekspektasi sebuah perkembangan dan pertumbuhan yang semestinya sebagai manusia.

Ketika ia beranjak dewasa, ia akan berhadapan dengan sesamanya yang ternyata tidak semuanya baik. Ia akan bertemu banyak orang jahat, orang culas, orang tidak punya hati, orang tidak berotak, dan masih banyak lainnya --yang secara paradoks sebenarnya juga sedang berjuang untuk dirinya masing-masing.

Setiap orang memiliki porsinya sendiri-sendiri untuk setiap perjuangan yang harus dilalui. Seorang anak buruh tani berjuang untuk urusan perutnya, seorang anak profesor berjuang untuk menemukan makna dari apa yang bisa dia upayakan sebagai sesuatu yang dianggap 'bernilai' oleh orang tuanya dalam urusan belajar dan meraih gelar pendidikan, seorang anak pengusaha konglomerat berjuang untuk mencapai apa lagi yang sekiranya dalam hidup belum ia rasakan.

Hampir tidak ada kepastian bahwa orang di taraf hidup tertentu bisa bebas dari permasalahan dengan dirinya sendiri. Meskipun aku nggak menampik, dalam kondisi sosial-ekonomi yang baik, seseorang akan terdukung secara lebih baik untuk mengatasi hal tersebut.

Namun, dari semua hal yang kupercaya dicemaskan oleh semua orang, aku pun selalu yakin bahwa akan selalu ada jalan keluar.
Dear.. tidak ada urusan yang selesai dengan diakhirinya hidup. Bahkan bagi orang yang beragama, mereka mempercayai bahwa kehidupan kekal yang sesungguhnya dimulai setelah orang mati. Jadi tidak ada gunanya bunuh diri. Aku pun yakin demikian.

Bertahun-tahun kuliah psikologi membuat aku percaya bahwa setiap permasalahan memiliki jalan keluar. Dan usaha paling sederhana yang bisa kita semua lakukan menuju jalan keluar tersebut adalah dengan mencintai dan menerima diri-sendiri, menerima semua yang terjadi sebagai bagian dari proses, dari sebuah perjalanan yang memerlukan usaha dan juga.. jeda.



Rehat.

Mungkin pada akhirnya semua orang memerlukan jeda dalam hidupnya. Manusia sudah berjuang bahkan sejak masih dalam rahim ibu yang hangat. Ketika semua hal terasa sangat menekan dan mengejar, maka yang bisa kita lakukan adalah beristirahat dan melebihkan cinta pada diri sendiri.

Oh dear..
Kamu yang semester dua digit dan masih berjuang untuk skripsinya..
Kamu yang sudah dua periode wisuda dan belum dapat pekerjaan pertama..
Kamu yang sedang struggling dengan kolega dan kliennya..
Kamu yang di usia 28 masih sendiri aja..
You will be okay.

Tenangkan hati
Semua ini bukan salahmu
Jangan berhenti
Yang kau takutkan tak kan terjadi
Terus berlari
Yang kau takutkan tak kan terjadi

Jika sesuatu terjadi tidak sesuai rencanamu, ini bukan semata-mata salahmu. Di balik perhitunganmu yang rapi, ada perhitungan-Nya yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia. Yang perlu kamu lakukan hanya duduk sejenak dan beristirahat. Lalu kembali berjalan, mengupayakan kembali sebisa-bisanya, sebaik-baiknya.

Kamu sudah melewati banyak hal dalam hidup dan ini adalah saatnya untuk mencintai dirimu sendiri lebih dalam. Bayangkan untuk semua hal yang telah kamu lewati sejak tumbuh gigi hingga akhirnya memakai toga wisuda, rasanya luar biasa bukan?



PS: Tulisan ini adalah bagian dari refleksi dan tanggung jawab penulis sebagai bagian dari agen psikologi yang mengupayakan kesehatan mental untuk semua orang. Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia!


Oct 9, 2018

Tentang Sekolah Lagi dan Menjadi 'Master'

Seperti halnya semua mahasiswa Psikologi UGM, aku pernah punya cita-cita untuk langsung menempuh pendidikan master segera setelah lulus. Tahun 2018, aku menargetkan ke Belanda atau ke Inggris untuk mengambil master di bidang humanities atau studi psikologi sosial lainnya. Tapi serapi-rapinya matematika kita, tetep tidak akan bisa memprediksi matematika Tuhan yang luar biasa.

Di tengah-tengah proses kuliahku yang tadinya baik-baik aja, muncul masalah keluarga yang membuatku terlihat sangat egois kalau mau kekeuh untuk sekolah lagi segera setelah lulus. Pada waktu itu aku bahkan hanya berpikir studiku harus segera selesai, aku bisa punya uang sendiri, bertahan hidup sendiri, dan lain-lain --beberapa hal yang membawaku pada keputusan kerja bahkan sebelum aku lulus.


Pada akhirnya aku tidak pernah menyesali keputusanku untuk bekerja lebih awal pada saat itu. Aku mengubah "road map" dari semua hal yang kususun dengan baik ketika pertama kali aku masuk UGM. Sobat PPSMB pasti paham kan, tentang peta hidup 20 tahun ke depan yang diminta katingmu buat bikin waktu kamu OSPEK? WKWK. Aku juga punya.

Terlalu banyak yang berubah dalam tahun-tahun perkuliahan. Sesuatu yang kini kupahami sebagai dinamika kehidupan mahasiswa. Pada akhirnya kuliah S1 itu adalah sebuah "jeda" untuk berpikir dan menyusun kembali tujuan hidup. Hence, kamu perlu dukungan environment yang tepat agar kamu tidak keliru, atau paling tidak, nggak bingung ketika lulus.

Kembali pada tujuan sekolah lagi.

Biar aku jelaskan bahwa sebagai mantan 'inteleque' muda penghuni B21, aku sangat mengagumi isi pikiran seseorang. Aku melihat senior-seniorku menempuh studi dan menulis dengan sangat berkelas dan heroik. Logikanya tersusun rapi, cerdas, dan aduh pokoknya keren lah.

Jauh dalam pikiranku, ada sebuah ekspektasi yang 'lebih' pada mereka yang bergelar master. Because ya.. they are 'master' kan ya?

Dalam pikiran naifku, bergelar master akan sedikit mengubah perspektifku tentang suatu hal yang selama ini kupahami secara general. Katakanlah aku yang sekarang S.Psi, aku menyukai psikologi sosial, aku menyukai studi gender dan isu-isu seputar perempuan. Mungkin ketika aku studi master soal ini, aku akan sangat 'ndakik-ndakik' bicara ihwal topik tersebut. Bisa karena aku ketemu profesor-profesor baru, buku-buku baru, jurnal-jurnal baru, yang selama ini masih terbatas sebab yeah.. I'm just undergraduate gituh. Otomatis, dengan segala upgrading 'master' tersebut, segala hal yang kumiliki saat ini juga ikut terupgrade; cara berpikir, cara bekerja, kehidupan profesional, gaji?

Tadinya aku berpikir begitu.

"Kau tahu, studi master tidak seistimewa itu. Kalau tidak percaya, tinggallah dan bekerja di Jakarta."
Bagi orang-orang sepertiku, pendidikan adalah privilege. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan sekolah yang bagus. Karenanya, orang-orang sepertiku memiliki ekspektasi yang lebih pada mereka yang sekolah lebih tinggi.

Namun, di Jakarta tidak begitu. Di sini banyak orang hidup dengan privilege sejak lahir. Jangankan buat sekolah sampe dapat gelar master ah elaaah, ibaratnya mereka pilek aja bisa kliniknya di Singapore gituh. Sejak kecil, orang-orang yang hidup dengan privilege mendapatkan banyak kemudahan dalam hidupnya, termasuk soal studi. Namun, dari sini, value dari menjadi seorang master itu tiba-tiba tergerus.

Kalau kamu ketemu orang yang gelarnya master, tapi kayaknya performa kerjanya B aja, banyak.
Kalau kamu ketemu orang yang gelarnya master, tapi logikanya kacau balau, banyak.
Kalau kamu ketemu orang yang gelarnya master, tapi goblok setengah mati, ya ada.

Simply because bagi mereka master ya adalah cuma master. Mau yang dalam negeri, luar negeri, banyak. Makanya ketika di Jakarta, aku lebih suka untuk menanyakan sesuatu dengan lebih detail. Misalnya, si A lulusan luar negeri. Luar negeri mana? Lebih jauh, kampusnya apa? Studi apa di sana? Atau kalau kepo banget aku akan nanya dulu tesisnya apa dan bagaimana metode penelitiannya.

Ada loh orang bergelar master degree dari salah satu universitas di Inggris yang tesisnya pakai metodologi yang bahkan di kampusku S1 ngajuin kayak gitu, buat beberapa dosen yang high level, mereka nggak ngebolehin karena terlalu sederhana dan datanya rawan bias. Ya jangan lah berekspektasi untuk mendapatkan analisis yang mendalam atau publikasi yang ciamik di jurnal internasional, lah level lulusnya aja sebatas yang-penting-lulus gitu.

So, it's not about the degree. Instead, it's all about yourself as an individual.

Aku belajar satu hal yang sangat mahal dari pertemuanku dengan 'orang-orang bergelar master' ini: sebelum sekolah lagi, tetapkan tujuan yang jelas mengapa mau sekolah lagi.

Gaesss. Studi master bukan karena kamu lulus S1 dan jobless berbulan-bulan lalu karena tertekan sama society kamu memilih sekolah lagi. Bukan juga karena kamu kerja tapi kok kayaknya B aja trus berharap dengan sekolah lagi akan membuat kariermu membaik. No, no, no.

"Jadi, lu nggak mau ambil master?" tanya seseorang akhirnya.
"Ya maulah pasti. Gila lu gamau haha. Tapi.."
"Tapi?"
"Tapi ada perhitungannya. Because I am on the right track being professional."

Yeah, I am a junior manager right now and my professional career is still growing. Melihat perhitungan pekerjaanku saat ini, naif kalau aku bilang aku akan melakukan apapun untuk mendapat gelar master.

"Eventho dapet beasiswa?"
"Iya. Unless itu beasiswa dari kantor mungkin, ya. Yang terus abis selesai sekolah gue dapet promosi jabatan gitu ya masuk sih itung-itungannya."
"Hmm ya juga ya."
"Iyalah. Kalau udah capek-capek kuliah, bayar mahal, tapi ujung-ujungnya harus memulai karier dari nol banget ya nyesek dong anjaay. ROI minus."

Return on Investment (ROI) menjadi bahan bercandaan yang paling santer aku dengar di kalangan teman-temanku. Maklum, sobat missqueen kayak kami yang di UGM kuliahnya cukup mengandalkan UKT bersubsidi masih menganggap biaya pendidikan kayak bentuk investasi. Ujung-ujungnya aku (dan mungkin teman-teman sepergaulan missqueenku) nggak menampik kalau tujuan bersekolah tinggi agar kemampuannya tinggi dan kemudian dihargai lebih tinggi.

Somehow aku masih percaya kalau kemampuan berpikir seseorang itu berbanding lurus dengan performa kariernya. Kan nggak lucu juga kalau tukang soto dipaksa jadi seniman mural atau tukang kayu dipaksa menjahit. Semua kemampuan ada porsi dan tempatnya masing-masing.

But again, it's not about the degree. It's about yourself as an individual.

Akhirnya aku percaya bahwa terlepas dari gelar apapun yang dimiliki seseorang, kualitas individu tetap tidak bisa berbohong. Mau nggak ada gelar apapun kalau emang basicnya udah ok ya bakal keliatan ok. Sebaliknya, mau gelarnya sepanjang apapun kalau otaknya B aja ya bakalan B aja dan itu keliatan kok di orang yang sudah dewasa.

"Jadi.. master udah nggak sakral?"
"Masih dong.."
"Lah bentukane 'itu' juga master loh.."

Wqwqwq.

Sekolah lagi masih menjadi keinginanku selain enhancing karier dan menjadi profesional di bidang bisnis digital saat ini. Entah untuk bergelar master, PhD, atau apapun, aku masih mencita-citakan sekolah lagi dan belajar hal baru sebagai sebuah tujuan dan proses sepanjang masa yang harus selalu dikejar dan diupayakan.


Sep 5, 2018

Tentang Memperlakukan Orang Lain


Aku sudah lama tidak punya musuh. Menurutku punya musuh melelahkan. Musuh menguras energi dan pikiranku untuk hanya fokus pada perasaan benci dan menyakiti. Lebih buruk jika musuhku punya kesempatan juga menyakitiku; akan ada dua sisi kesakitan yang dirasakan dari luar dan dari dalam.

Karenanya aku memilih jalan aman. Aku menghindari kerumunan chaos, aku memilih teman-teman terdekatku, dan aku berlaku baik pada siapapun sebatas pada kemampuanku berkelakuan baik.

Tentu aku tahu di luar sana aku memiliki orang yang tidak suka padaku, membicarakan hal-hal buruk tentangku, apapun. Tetapi paling tidak aku tidak berada di antara mereka.

Aku cukup senang dengan lingkaran-lingkaran kecilku yang sehat dan bisa kujaga dengan baik. Aku suka dengan mereka yang memperlakukanku dengan baik dan sebisa-bisanya aku tidak akan berlaku sangat buruk pada mereka.

Kurasa aku orang yang cukup tahu diri. Aku berlaku baik, mereka akan memperlakukanku dengan baik. Tentu aku tidak berekspektasi jika kuperlakukan mereka dengan sangat buruk, kumanipulasi, kukhianati, lalu mereka akan menyanyangiku dan semua hal baik-baik saja?

HAHAHAHA. Bodoh. Hukum alam tidak bekerja seperti itu dan manusia tidak berpikir demikian.
Jika kamu ingin orang berlaku baik padamu, perlakukan mereka juga dengan baik. Itu dulu. Itu cukup.